Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Begitu manis


Deg


Lagi-lagi jantung Rania tidak bekerja dengan normal melihat senyum tampan William.


"Rania?" Panggil William melihat Rania hanya diam saja menatapnya.


"Eh, iya." Ucapnya gelagapan karna ketahuan memperhatikan William.


"Jadi bagaimana, Rania?" Tanya William sekali lagi.


"Tapi sepertinya saya lebih nyaman jika menyebut anda dengan sebutan Bapak."


"Maka mulailah dengan menyebut saya dengan nama saja agar mulai terbiasa." Saran William. "Bagiaman?" Tanyanya.


Rania mengangguk. "Baiklah." Ucapnya pada akhirnya.


"Will?"


"William."


"Kau sangat manis ketika menyebut namaku seperti itu." William dengan gemas mengacak rambut lurus Rania.


Deg


Deg


Deg


*


"Apa kau akan kembali malam ini, William?" Tanya Rania saat William tengah bersiap-siap di ruang tamu.


"Iya. Besok pagi aku harus meninjau beberapa proyek yang belum rampung." Jelasnya. "Apa Ara masih tidur?" Tanyanya kemudian.


"Masih. Mungkin sebentar lagi ia akan bangun."


"Apa perutnya masih sakit?"


"Sepertinya begitu. Semoga saja setelah bangun nanti perutnya sudah tidak keram lagi."


Bruk


Suara dari dalam kamar Kyara membuat Rania menghentikan niatnya untuk menyahut ucapan William.


"Kyara..." Buru-buru Rania berlari menuju kamar Kyara diikuti William.


"Kya...!!! Ara...!!" Pekik Rania dan William melihat Kyara yang terduduk di lantai sambil memegang perutnya.


"Perutku sakit..." Lirih Kyara menitikkan air matanya.


"Ayo bawa Kya ke rumah sakit William...!!" Seru Rania begitu panik melihat wajah Kyara yang pucat.


William pun dengan sigap menggendong tubuh Kyara. Sedangkan Rania sudah lebih dulu turun untuk meminta tolong sopir pribadi William menyiapkan mobil. Dengan hati-hati William menuruni anak tangga satu persatu. Sampai di anak tangga terakhir pergerakan William terhenti karena melihat Gerry yang sudah berada di hadapannya.


"Kau..." Ucap Gerry dan William secara bersamaan.


Tanpa basa-basi Gerry mengambil paksa tubuh Kyara dalam gendongan William. Entah mengapa William tidak melakukan penolakan apapun atas sikap Gerry. William hanya bisa mengusap kasar wajahnya saat Gerry sudah buru-buru pergi dari pandangannya. William dapat melihat dengan jelas raut kekhawatiran di wajah sahabatnya itu.


Beberapa pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka nampak menatap takjub pemandangan di depan mereka. Seorang pria tampan yang sedang menggendong wanita hamil dalam dekapannya. Dapat mereka lihat raut kekhawatiran di wajah pria itu.


"Sakit..." Rintih Kyara memejamkan kedua kelopak matanya diikuti cairan bening mengalit di sana."


"Tenanglah... Aku akan membawamu ke rumah sakit secepatnya." Ucap Gerry.


Asisten Jimmy yang melihat kedatangan tuannya dengan segera membuka pintu belakang mobil.


"Jalankan mobilnya dengan cepat!" Titah Gerry saat sudah meletakkan tubuh Kyara di dalam mobil.


Mobil pun mulai melaju menuju rumah sakit. Gerry tak hentinya mengelus perut Kyara berharap anaknya tidak rewel lagi. Tangannya pun sesekali mengelus pucuk kepala Kyara guna menenangkan wanita itu.


"Perutku sakit... Hiks..." Rintih Kyara lagi mencengkram erat kemeja yang dikenakan Gerry.


"Tenanglah... Kita akan segera sampai." Gerry masih berupaya untuk tetap tenang walau hatinya begitu sesak saat ini. Pikirannya melayang apa Kyara akan melahirkan saat ini sedangkan usia kandungannya masih berjalan 7 bulan.


Mobil pun terparkir sempurna di depan rumah sakit berlantai dua tidak terlalu besar. Gerry pun dengan hati-hati mengeluarkan tubuh Kyara dari dalam mobil kemudian kembali menggendongnya. Para perawat pun datangn membawa brankar karena Asisten Jimmy sudah lebih dulu meminta pertolongan ke dalam rumah sakit itu.