
"Kyara... Bolehkah aku meminta satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kita. Aku tetap ingin kau menjadi istriku, Kyara."
"Kau jangan bercanda Gerry. Bukankah kau yang sejak awal menginginkan pernikahan ini cepat berakhir?" Kyara memiringkan tubuhnya menatap tajam pada Gerry. Ia sungguh tidak mengerti dengan pemikiran pria itu.
"Aku tidak ingin lagi menjadi orang yang menghambat kebahagiaanmu Gerry. Sudah cukup aku menjadi penghambat kebahagiaanmu dengan kekasihmu. Sekarang kau sudah berhak bahagia tanpa benalu sepertiku." Lirih Kyara kemudian. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana perlakuan Gerry padanya malam itu yang lebih memilih menyelamatkan kekasihnya dibandingkan dirinya yang sedang mempertaruhkan Baby Rey yang masih berada dalam perutnya.
"Maaf jika aku sudah membuat luka batin yang cukup menganga di hatimu, Kyara. Aku mohon maaf atas segala sikap burukku kepadamu selama ini. Tapi satu hal yang harus kau tahu. Tidak ada wanita lain lagi di dalam hidupku selain dirimu, Kyara." Terang Gerry.
"Apa maksudmu Gerry?" Mata Kyara menatap nyalang seakan meminta penjelasan.
"Aku dan Ketty sudah berakhir tak lama setelah kau pergi meninggalkan apartemen waktu itu." Gerry menjeda ucapannya. Pria itu nampak menghela nafas dengan panjang. Tidak pernah dalam hidupnya ia menjelaskan duduk permasalahan panjang lebar seperti ini. Termasuk pada kekasihnya, Ketty.
"Saat ini hanya ada satu wanita yang ada di dalam hidupku selain Mama. Yaitu kau, Kyara." Ucap Gerry kemudian.
Deg
Jantung Kyara bekerja begitu cepat saat mendengar penjelasan Gerry. Benarkah pria itu tak lagi memiliki hubungan dengan Ketty kekasihnya? Apa itu mungkin jika ia mengingat dengan jelas kekhawatiran Gerry pada Ketty dan betapa Gerry mencintai kekasihnya itu.
"Tidak ada dirimu di dalam perpisahan kami. Itu semua murni keputusanku sendiri." Jelasnya seraya mengelus jemari Kyara. Rasanya Gerry sudah begitu muak jika mengingat kembali penghianatan dan niat buruk mantan kekasihnya itu. "Aku mohon berikan aku kesempatan satu kali saja untuk memperbaiki rumah tangga kita." Pintanya begitu tulus.
"Apa maksudmu Gerry? Apa ini semua karna kehadiran Rey?" Kyara nampak tersenyum kecut dengan hati teriris. Mungkin saja ini adalah salah satu usaha Gerry untuk merebut Baby Rey dari sisinya mengingat perkataan Mama Riana tempo hari jika Baby Rey adalah pewaris sekaligus penerus perusahaan keluarga Bagaskara selanjutnya.
"Jika kau berniat ingin mengambil Rey dari sisiku saat ini, lebih baik kau urungkan niatmu itu, Gerry. Karna sampai kapan pun aku tak akan menyerahkan Rey kepada dirimu." Ucapnya seraya melepaskan genggaman tangan Gerry di jemarinya. Kyara pun berdiri dari duduknya.
Sontak Gerry pun ikut berdiri. "Rey membutuhkan sosok orang tua yang lengkap, Kyara. Pikirkan nasib dan kebahagiaan Rey nantinya, Kyara." Tekan Gerry tanpa berniat mengungkapkan kebenaran jika ia juga sangat takut kehilangan wanita itu.
Kyara tersenyum sinis mendengar ucapan Gerry. "Apa kau pikir Rey juga akan bahagia jika ia mengetahui Ibunya tidak bahagia dalam pernikahannya selama ini? Kebahagiaan seorang anak bukan hanya terletak pada memiliki orang tua yang lengkap Gerry. Tetapi juga memiliki Ibu yang bahagia dalam pernikahannya."
***
Aku ingin tau pendapat kalian tentang semua cerita aku apa? Karna aku bukanlah penulis yang berbakat dalam bidangnya. Aku harap semoga pendapat kalian bisa menjadi motivasi tersendiri buat aku membuat cerita baru lagi nantinya.
Terimakasih.