
"Kemana wanita itu?" Gumam Gerry heran. Setelah menyelesaikan menyantap makanannya namun Kyara tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Mengingat hari ini hari libur, tidak mungkin Kyara pergi bekerja. Pikirnya.
Gerry memilih untuk kembali ke sofa mencari ponselnya yang sudah dari tadi malam diabaikannya. Melihat panggilan tak terjawab dan pasan masuk dari Ketty—kekasihnya membuat Gerry langsung melakukan panggilan telepon pada Ketty.
Hallo, sayang... Kau kemana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu dari tadi malam. Ucap Ketty dengan nada manja di seberang telepon.
Maafkan aku, sayang... Ponselku dalam mode silent dari tadi malam sehingga aku tidak mendengar panggilan telepon darimu. Pulang dari klab aku langsung tidur karena sudah lelah. Jelas Gerry.
Kau membuatku khawatir, sayang... Aku sungguh takut kau kenapa-napa... Tapi tidak masalah, sekarang aku sudah tidak lagi khawatir karena mendengar suaramu. Tetapi sekarang aku malah rindu padamu...
Aku pun begitu, sayang... Segeralah kembali untuk melepas rindumu... Pancing Gerry.
Aku akan segera kembali, namun tidak sekarang... Kau kan tahu aku masih disibukkan dengan beberapa pemotretan di sini...
Gerry nampak menghela nafas akan jawaban yang sudah biasa ia dengar. Ya, aku mengerti... Sahut Gerry.
Kapan kau akan mengunjungiku lagi ke sini, sayang... Sudah hampir satu bulan kau tidak lagi berkunjung melihatku...
Aku masih disibukkan dengan banyak pekerjaan. Kau kan tahu kalau aku baru diangkat Kakek menjadi presdir. Masih banyak hal yang harus aku selesaikan dan aku pelajari di kepemimpinan baru.
Ya, aku paham itu... J**ika kau sudah tidak sibuk, segeralah kemari. Aku merindukanmu...
Akan aku usahakan... Balas Gerry.
Gerry nampak menghembuskan nafasnya kasar di udara. Mendengar suara merdu kekasihnya itu membuat rasa rindunya semakin besar. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk mendekap erat tubuh kekasihnya itu menyalurkan rasa yang ingin ia pastikan masih ada. Mengacak rambutnya frustasi mengingat masih banyak pertemuan dan juga perjalanan bisnis yang harus ia lakukan sesuai perintah Kakek Surya. Disibukkan dengan banyaknya pekerjaan bahkan membuatnya jarang menghubungi kekasihnya atau bertukar pesan barang sebentar saja.
"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan di sini supaya bisa mengunjungi Ketty." Gumamnya. Tetapi rasa aneh membali menyelimuti tubuhnya ketika menyadari satu hal. Jika dulu dalam keadaan sesibuk apa pun ia pasti menyempatkan untuk pergi ke negera kekasihnya bekerja tanpa mempedulikan omelan Kakeknya, namun saat ini berbeda. Ada rasa biasa saja dalam hatinya ketika tidak melepas rindu pada Ketty walau pun rasa rindunya kian membesar ketika mendengar suara Ketty. Bahkan sekarang ia lebih ingin cepat mengerjakan pekerjaannya di kantor untuk cepat pulang mengerjai istrinya—Kyara di atas ranjang.
Pikiran Gerry kembali pada istri sahnya yang belum juga terlihat. Merasa tubuhnya sudah lengket apalagi ia masih memakai pakain tadi malam, Gerry memutuskan untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya sembari memastikan sedang apa Kyara di dalam kamarnya.
Sedangkan di lantai bawah apartemen, Kyara nampak memilih barang-barang kebutuhannya yang sudah habis. Setelah selesai, Kyara beranjak menuju bahan-bahan masakan. Tepukan pada bahunya membuat Kyara menghentikan kegiatannya memilih sayuran.
"Ara? Kau sedang apa di sini?" Tanya pria yang suaranya kini sudah familiar di telinganya.
"Pa-pak William?" Ucap Kyara terkejut melihat keberadaan William di sana.
*
*
*
Lanjut? Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉