
"Iya, iya. Kau jangan marah-marah begitu." Ucap Rania sedikit ngeri melihat wajah sangar William. "Lagi pula Sean telah berjanji akan mengungkapkan kebenaran kepada keluarganya." Lanjutnya kemudian.
"Baguslah jika begitu." Ucap William walau wajahnya masih terlihat masam.
"Kalau begitu aku pamit ke atas dulu." Ucap Rania hendak berlalu dari hadapan William namun pria itu sudah mencekal lengannya.
"Kau akan ke atas bersamaku." Balas William dan tanpa aba-aba sudah membawa tubuh Rania ke dalam gendongannya.
"Aaa..." Rania menjerit lalu memukul punngung suaminya. "Kau itu selalu saja menggendongku tiba-tiba." Sungut Rania.
William tersenyum menyeringai dan terus melangkah membawa Rania menuju kamar mereka.
"Will... Ayo turunkan aku." Pinta Rania saat mereka sudah sampai di dalam kamar namun William tak kunjung menurunkannya.
"Aku akan menurunkanmu." Dengan hati-hati William pun menjatuhkan tubuh Rania di atas ranjang.
"Minggirlah... Aku ingin mengganti pakaianku." Ucap Rania karena William justru menghimpit tubuhnya setelah menurunkannya.
"Tidak perlu. Aku akan melepaskan pakaianmu." Ucap William dengan terus memperhatikan wajah cantik istrinya.
"Kau jangan bercanda, Will... Minggirlah. Aku sungguh lelah." Pinta Rania mencoba mendorong dada bidang suaminya.
"Tidak akan. Karena aku akan menagih syarat yang aku ajukan kepadamu tadi siang." Ucap William semakin mendekatkan wajahnya pasa wajah Rania.
"Ap—" Rania yang ingin menolak tak dapat mengungkapkan keinginannya karena William sudah membungkam bibirnya dengan bibir tebal suaminya itu.
Aku sungguh menyesal telah mengiyakan syarat mesum darinya. Sesal batin Rania.
*
Hari demi hari pun berlalu. Hubungan Rania dan William pun semakin terjalin dengan baik. Bahkan William dengan terang-terangan mengantarkan Rania di depan gedung perusahaan Wilson hingga membuat orang-orang bertanya-tanya tentang hubungan mereka.
Di dalam dekapan erat suaminya Rania nampak menggeliat dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang tidak nyaman dari dalam perutnya. Dengan sekuat tenaganya Rania mencoba melepas rangkulan tangan William di perutnya.
"Kenapa rasanya mual sekali." Ucap Rania saat sudah terlepas dari tubuh suaminya.
Hoek
Rania menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat merasakan rasa mual itu semakin menjadi. Langkah kakinya pun semakin cepat mengarah ke arah kamar mandi.
Hoek
Hoek
Mendengar suara berisik dari dalam kamar mandi, William yang masih terlelap itu pun terjaga. Tangannya menepuk ke arah samping ranjangnya namun tidak mendapatkan keberadaan istrinya.
Hoek
Suara muntahan itu kembali terdengar. William membuka penuh kelopak matanya. "Rania?" Gumamnya saat sudah bangkit dari tidurnya. Dengan langkah tergesa-gesa, William pun berjalan ke arah kamar mandi.
"Rania..." Wajah William nampak panik saat melihat istrinya yang masih saja muntah-muntah. Dengan refleks William pun memijat pundak istrinya. "Kenapa kau muntah-muntah begini?" Tanya William merasa cemas.
Rania menggeleng. Lalu kembali mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya. Setelah merasa rasa mualnya sudah berkurang, Rania pun membasuh wajahnya dengan air.
"Ada apa denganmu, Rania? Kenapa kau muntah-muntah begini?" Tanya William lagi.
Rania menggeleng lemah. "Entahlah... Aku juga tidak tahu. Sepertinya asam lambungku kambuh." Jawabnya.
"Wajahmu pucat sekali." Ucap William merasa semakin cemas. Apalagi tubuh Rania terlihat lemah saat ini.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...