
Pembawa acara pun terus membacakan rangkaian acara lamaran hari ini. Acara demi acara pun terus berlangsung. Sesekali pertanyaan tertuju pada Rania dan William apakah siap untuk naik ke jenjang yang lebih serius. Rania nampak tidak fokus dengan acara hari itu. Pemikirannya masih bingung akan kejadian demi kejadian yang terjadi kepada dirinya.
Bagaimana bisa calon suamiku adalah William? Pria bule yang sudah susah payah untuk aku lupakan? Rania masih bertanya-tanya di dalam hatinya.
Bu Mela yang melihat anaknya sering melamun pun menyikut lengan putrinya.
"Rania... Kenapa kau selalu termenung. Tidak enak dilihat keluarga Kakek Hendro!" Tegur Bu Mela menatap tajam pada putrinya.
Rania tersenyum kaku. Kemudian kembali fokus pada acara yang berlangsung. Keluarga masih terus berunding tentang tanggal dan hari pernikahan akan berlangsung. Namun dari keluarga Rania menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga Kakek Hendro. Karena mereka sangat paham jika yang sulit menyamakan waktu adalah keluarga Kakek Hendro mengingat mereka adalah keluarga yang sibuk di dunia bisnisnya.
"Jadi kita sepakat pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi. Karena dua bulan lagi William sudah mulai menetap di negara ini dan mengembangkan bisnisnya di sini."
Semua orang di ruangan mengangguk setuju. Tiada satu pun dari mereka yang menyurutkan senyuman. Karena menurut mereka pernikahan ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggu apalagi dari pihak Kakek Hendro.
Dan tiba-tiba semua orang nampak terkejut saat William mengutarakan keinginannya yang ingin pernikahannya berlangsung tanpa adanya resepsi. Resepsi pernikahan akan ia lakukan jika pernikahan ia dan Rania sudah memasuki enam bulan. William beralasan jika dua bulan lagi ia akan mulai sibuk menangani pemindahaan pekerjaannya ke negara ini. Semua orang pun hanya bisa mengangguk menyetujui. Apalagi keluarga Kakek Hendro tidak dapat menolak keinginan William mengingat William sudah mau untuk menikah saja mereka sudah sangat senang.
Berbeda hal dengan Rania, wanita itu nampak tersenyum getir mendengar permintaan William. Ia merasa ada hal lain yang menjadi alasan William melakukan itu semua. Dan Rania masih bingung saat tak lagi melihat wajah ceria dibalik wajah tampan calon suaminya itu. William yang dulu ia kenal bukanlah seperti William yang ia lihat saat ini.
"Ternyata Rania dan William sudah saling mengenal sebelumnya?" Bu Merlin nampak senang saat mengetahui putranya sudah mengenal baik calon istrinya.
"Benar, Bu. Nak William itu adalah sahabatnya suami sahabat Rania." Balas Bu Mela. Saat ini mereka tengah berbincang saat acara baru saja selesai. Sedangakan Rania dan William diminta Kakek Hendro untuk berbicara dengannya di depan rumah Rania.
Bu Merlin mengembangkan senyumannya. "Wah... Kebetulan sekali ya, Bu." Sahut Bu Merlin.
Bu Mela mengangguk seraya tersenyum.
"Saya dengar dari William, Gerry mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu. Dan apa benar jika nak Gerry mengalami kecelakaan di kota ini?"
"Benar, Bu. Nak Gerry mengalami kecelakaan di kota ini."
"Alhamdulillah dari yang saya dengar keadaan nak Gerry sudah mulai kembali pulih. Dan saat ini nak Gerry sudah mulai kembali bekerja di perusahaan." Terang Bu Mela.
Bu Merlin mengangguk paham.
"Syukurlah... Saat itu William begitu frustasi saat mendengar kabar kecelakaan Gerry. Namun karena saat itu perusahaan benar-benar membutuhkan dirinya membuat William baru bisa melihat keadaan Gerry tiga bulan kemudian."
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...