
Percakapan James dan hugo terhenti saat sebuah mobil bewarna putih melewati mobil mereka. James menatap pada mobil itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Dan pandangannya berubah dingin saat melihat sang pemilik mobil keluar dari dalam mobilnya.
"Sepertinya Tuan Calvin ingin menjemput Nona Bianca, Tuan." Ucap Hugo yang diangguki oleh James.
"Kita lihat saja apa yang akan dia lakukan." Ucap James sambil menatap gerak-gerik Calvin yang saat ini terlihat tengah menelefon seseorang.
Tring
Suara deringan di ponselnya tak membuat Bianca yang sedang fokus pada pekerjaannya terhenti.
"Nona Bianca. Apa anda tidak ingin mengangkat telefonnya lebih dulu?" Tanya Merry.
Bianca menggeleng. "Ini sudah hampir selesai. Biarkan saja dulu." Ucap Bianca tanpa menatap pada Merry.
Dan untuk kedua kalinya ponsel Bianca pun kembali berdering. Merry pun memberanikan diri melihat siapakah yang menelfon Bianca.
"Tuan Calvin." Gumam Merry. Pandangannya pun beralih pada Bianca yang sudah memajangkan hasil karyanya di patung.
"Tuan Calvin yang menelefon anda, Nona." Lapor Merry.
"Calvin?" Bianca terkejut. Dengan langkah cepat Bianca pun berjalan ke arah Merry lalu mengambil ponsel di di atas meja kerjanya.
"Ternyata benar Calvin." Gumam Bianca lalu mengangkat panggilan telefon suaminya.
"Aku sedang berada di depan butikmu saat ini." Ucap Calvin tanpa basa-basi saat panggilan telefon terhubung.
"Di depan butik? Untuk apa kau datang ke—" Ucapan Bianca pun terhenti saat mendengar panggilan telefon sudah terputus begitu saja.
"Ada apa Nona?" tany Merry melihat wajah Bianca berubah tegang.
"Suamiku ada di bawah saat ini. Aku harus menyusulnya!" Seru Bianca lalu berlari ke arah pintu. "Tidak biasanya di seperti ini." Ucap Bianca di sela langkahnya. Wajahnya nampak cemas jika saja Calvin datang membawa amarah atau pun kabar buruk untuknya.
"Huh, kenapa gelas sekali." Decak Bianca lalu menghidupkan lampu utama. Bianca pun kembali berlari menuju pintu. Saat pintu sudah terbuka, Bianca dibuat terbelalak karena Calvin benar-benar ada di depan butiknya.
"Calvin... Ada apa kau datang ke sini?" Tanya Bianca tanpa memperdulikan wajah Calvin yang sudah sangat dingin saat ini.
"Apa kau tidak bisa melihat jam berapa saat ini? Atau di dalam ruangan kerjamu tidak memiliki jam gantung?" Calvin berucap dengan datar dan wajah yang semakin dingin.
Bianca dibuat tersentak. Walau pun ucapan Calvin terdengar tidak mengenakkan di telinganya, namun Bianca dapat melihat kekhawatiran di wajah suaminya itu saat ini.
"Maafkan aku. Aku sedang memiliki pekerjaan dan harus aku sendiri yang menyelesaikannya." Jelas Bianca dengan wajah bersalah.
Lidag Calvin berdecak. Melihat guratan lelah di wajah Bianca membuatnya tak tega kembali memarahi istrinya itu. "Ambil tasmu dan sekarang kita pulang!" Titah Calvin tak ingin dibantah.
"Tapi—" Bianca tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya saat melihat Calvin kini menatap tajam padanya.
"Tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali." Ucapnya lalu kembali berlari ke arah tangga.
Calvin dibuat menggeleng melihat Bianca yang berlari seperti anak kecil ketakutan. Tingkah istri dan anaknya hampir sama saja dan membuatnya tak habis pikir.
Lima belas menit berlalu Bianca pun telah kembali sambil membawa Merry bersamanya.
"Tunggulah sebentar. Aku ingin mengambil mobilku dan mengantarkan Merry lebih dulu." Ucap Bianca.
"Tidak perlu. Dia akan ikut bersama kita." Balas Calvin.
"Kita? Tapi bagaimana dengan mobilku?" Tanya Bianca bingung.
"Tinggalkan saja. Kau dan dia ikut pulang bersamaku." Ucap Calvin dengan tegas.
***
Lanjut?
Berikan semangat dulu dong dengan vote, komen dan likenya😶
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
Serpihan Cinta Nauvara (End)
Oh My Introvert Husband (End)