
Dua bulan pun telah berlalu. Tanpa terasa hari ini adalah hari dimana pernikahan Rania dan William akan diselenggarakan. Sesuai kesepakatan, acara pernikahan itu hanya diadakan akad tanpa adanya resepsi. Kediaman rumah orangtua Rania pagi itu sudah nampak ramai oleh kedatangan keluarga dan kerabat orangtua Rania.
Rania menatap pantulan wajahnya di cermin yang sudah penuh dengan riasan. Wajahnya nampak semakin cantik dengan riasan natural hasil karya saudaranya, Tini. Saudaranya itu memang memiliki bakat yang luar biasa dalam merias.
"Wah... Kau cantik sekali, Rania." Seru Kyara menatap berbinar pada wajah sahabatnya. Baby Rey yang berada dalam gendongan Kyara pun menatap Rania dengan kening mengkerut. Sepertinya bayi itu melupakan siapakah pemilik wajah cantik di depannya saat ini. Wajar saja, wajah Rania saat ini memang sungguh berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"Aku memang cantik dari dulu. Apa kau melupakan itu?" Sungut Rania.
Kyara tertawa. "Namun hari ini kau semakin bertambah cantik!" Tambahnya kemudian.
Rania akhirnya tersenyum. "Terimakasih, Kya!" Balas Rania.
"Apa William sudah datang?" Tanya Rania pada Kyara.
"Sepertinya belum. Saat aku mencari keberadaan Gerry tadi, aku tidak melihat keberadaan William dimana-mana." Balas Kyara.
Satu jam lagi adalah waktu akad akan dilaksanakan. Namun sampai saat ini keberadaan William belum terlihat sama sekali oleh siapapun. Rania sedikit merasa awas. Apa jangan-jangan William kabur dari acara pernikahan ini seperti sereal drama yang sering ia tonton?
"Kau tenang saja. William pasti akan datang." Kyara mengelus bahu Rania. Sepertinya Kyara cukup paham apa yang dirasakan sahabatnya saat ini.
Rania tersenyum. Mencoba untuk tetap tenang di posisinya. Tak lama suara tangisan Baby Rey pun mulai memenuhi setiap sudut ruangan. Bayi tampan itu nampaknya sudah mulai haus.
"Maa..." Baby Rey mulai menelusupkan wajahnya di leher sang ibu.
"Haus ya sayang?" Ucap Kyara mengelus rambut tebal putranya.
"Mi... Mi..." Ucap Baby Rey.
"Aku akan menyusui Baby Rey sebentar." Ucap Kyara saat Baby Rey semakin gelisah.
Rania mengangguk. "Kau menyusuinya di sini saja." Ucap Rania saat Kyara hendak keluar.
Acara akad pagi itu akan dilaksanakan di mesjid yang berada tidak jauh dari rumah orangtua Rania. Saat ini Rania sudah duduk di depan penghulu setelah diberi intruksi oleh pembawa acara tanpa adanya William. Sejak tadi Rania masih belum melihat keberadaan calon suaminya itu. Pikiran buruk mulai menghantui pikiran Rania. Apa William benar-benar kabur di hari pernikahan mereka. Namun melihat keluarga William yang sudah datang dan masih bersikap tenang membuat Rania sedikit merasa tenang.
Tak lama suara bisik-bisik pun mulai terdengar saat empat orang pria tampan nampak memasuki mesjid. Gerry, Dika dan Reno nampak membimbing William menuju meja akad. Sejenak Rania terpana melihat calon suaminya yang nampak semakin tampan dengan setelan seragam putih yang membungkus tubuh kekarnya.
Pandangan mereka bertemu. William nampak menatap Rania dengan begitu dalam sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya di samping Rania. Rania membeku. Ia sungguh tidak tahu harus apa saat ini. Hingga para saksi pun sudah duduk di hadapan mereka beserta penghulu dan Ayah Rania yang akan menjadi wali nikah Rania pagi ini.
Acara akad pun dimulai. Pak penghulu pun mulai menuntun Ayah Rania untuk menjabat tangan William untuk memulai akad nikah. Rania terdiam di posisinya. Tubuhnya benar-benar sulit untuk digerakkan saat ini. Ia masih terus terdiam dengan kepala sedikit tertunduk. Hingga kata sah yang bersahut dari orang-orang menggema di sudut ruangan membuat Rania tersadar dari lamunannya.
Aku sudah menjadi istri William?
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...