Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Rencana licik


"Citra, kau belum pulang?" Tanya Steve saat melewati meja kerja Citra.


"Saya akan pulang sebentar lagi, Tuan." Jawab Citra dengan berbohong.


Steve mengangguk percaya lalu masuk ke dalam ruangan William.


"Apa Tuan Steve juga akan ikut lembur?" Lidah Citra berdecak seakan takut jika rencananya akan gagal.


Lima belas menit menunggu, Steve pun keluar dari ruangan William sambil membawa beberapa dokumen di tangannya. Citra pun berpura-pura masih sibuk membereskan meja kerjanya.


Citra terus mengawasi gerak-geriknya sampai Steve kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya. Entah keberuntungan apa yang berpihak kepadanya saat ini, tak lama Steve pun kembali keluar dari dalam ruangannya dengan membawa tas kerjanya.


Langkah kaki pria itu mengarah ke arah lift yang membuat Citra mengembangkan senyumannya. "Sepertinya Tuan Steve akan pulang. Kesempatan bagus!" Gumam Citra menyeringai.


Hari semakin gelap. Suasana di perusahaan William malam itu pun sudah sepi karena para karyawan sudah pergi meninggalkan perusahaan untuk pulang.


Citra masih berada di belakang meja kerjanya sambil menunggu waktu rencananya akan tiba.


Ceklek


Pintu ruangan William terbuka dan menampilkan wajah William di sana.


"Citra, kau belum pulang?" Tanya William merasa terkejut melihat keberadaan Citra di meja kerjanya.


"Belum, Tuan. Ada sedikit pekerjaan yang sangat tanggung bila saya tinggalkan." Jawab Citra berbohong.


"Pulanglah. Kau bisa mengerjakannya esok hari." Ucap William tanpa rasa curiga. Karena dari yang ia dengar dari Steve, Citra memanglah wanita pekerja keras dan sering lembur saat bekerja.


"Sebentar lagi, Tuan. Apa Tuan akan lembur?" Tanya Citra pura-pura tidak tahu.


"Ya." Balas William dengan datar.


"Tidak. Saya hanya ingin membuat kopi."


"Biar saya saja yang membuatkannya, Tuan." Tawar Citra lalu beranjak dari kursi kerjanya.


William nampak berpikir kemudian mengangguk. "Saya tunggu di dalam ruangan." Ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Citra.


Kesempatan bagus! Batin Citra berteriak. Citra pun buru-buru beranjak lalu berjalan menuju pantry untuk membuatkan kopi untuk William.


"Untung saja aku selalu membawanya. Sehingga aku tidak perlu repot saat membutuhkannya seperti saat ini." Gumam Citra sambil menaburkan sesuatu ke dalam minuman William. "Mulai hari ini aku akan menjadi milikmu seutuhnya." Citra tersenyum menyeringai lalu keluar dari pantry.


Ceklek


Pintu ruangan kerja William pun terbuka. Citra berjalan dengan anggunnya menuju meja kerja William dengan membawa nampan di tangannya. Walau pun William tidak memperhatikannya, namun Citra tetap saja mencoba tersenyum.


"Ini, Tuan." Ucap Citra lalu meletakkan secangkir kopi di atas meja kerja William.


"Terimakasih. Sekarang kau boleh pulang." Ucap William tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia periksa.


"Baik, Tuan." Citra pun menurut agar William tak menaruh rasa curiga padanya. Semoga saja Tuan William segera meminum kopi itu. Batin Citra dengan langkah pelan menuju pintu keluar.


Prang


Beberapa menit berlalu, mendengar suara barang terjatuh dari dalam ruangan William membuat senyuman tipis terbit di bibir Citra. Citra pun buru-buru masuk ke dalam ruangan William.


"Tuan William... Anda kenapa?" Tanya Citra berpura-pura terkejut melihat William kini tengah melepas kasar dasi di lehernya.


"Kau memasukkan apa di dalam minumanku, huh?" Hardik William saat Citra mendekat ke arahnya. "Agh... Panas..." William memejamkan kedua matanya. Merasakan hawa panas yang kini menyelimuti tubuhnya.


***