
"Bagaimana dengan sikap suamimu tadi malam? Apa dia menyakitimu?" Tanya Sean yang sedang melangkah di depan Rania tanpa membalikkan tubuhnya ke belakang.
Rania dengan kesulitan mengikuti langkah kaki Sean yang lebar. "Bisakah kau memelankan jalanmu? Rok yang kau pilihkan untukku ini sungguh sempit dan membuat aku susah berjalan!" Cecar Rania tanpa membalas ucapan Sean.
Bruk
Tubuh Rania menabrak punggung kokoh Sean saat pria itu menghentikan langkah tiba-tiba.
"Kau... Kenapa kau berhenti tiba-tiba!" Geram Rania mengelus keningnya yang terasa sakit.
"Itu karena kau terlalu banyak berbicara tanpa menjawab pertanyaanku." Amuk Sean.
Rania menghirup pasokan oksigennya yang terasa berkurang. "Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu sedangkan kau terys berjalan tanpa henti!" Amuk Rania kembali.
Tuk
"Aw..." Ringis Rania merasa keningnya bertambah sakit karena sentilan dari Sean. "Kau ingin membunuhku, ya!" Seru Rania merasa berang.
"Kau bisa menjawab pertanyaanku sambil berjalan bukan?" Balas Sean dengan menggelengkan kepala.
"Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu sambil berjalan jika jalanmu itu sudah seperti pelari bola!" Amuk Rania.
Sean tertawa. "Ayo ikut aku!" Ajaknya menarik tangan Rania.
"Kita mau kemana?" Tanya Rania dengan langkah terseret.
"Tentu saja ke ruanganku!" Balas Sean terus menyeret Rania.
"Tuan Sean, Rania..." Sapa Deby menahan tawanya saat melihat Rania seperti kerbau yang di cocok hidungnya.
Untung saja di lantai tertinggi perusahaan itu hanya ada Deby di sana sehingga Sean dengan bebas memperlakukan Rania seperti temannya.
Brak
Suara pintu yang tertutup secara keras membuat Rania mengelus dadanya.
"Bisakah kau menutup pintunya lebih pelan?" Protes Rania pada pria yang dengan santai berjalan ke arah sofa.
"Aku tidak sengaja." Balasnya biasa saja.
"Kau..." Rania mengelus tangannya yang memerah akibat tarikan Sean kemudian ikut duduk berhadapan dengan pria itu.
"Jadi bagaimana dengan sikap suamimu saat kau sampai di apartemen?" Tanya William lagi.
Rania terdiam dan nampak berpikir. "Sikapnya biasa saja. Dia hanya menyuruhku untuk bisa mengingat jika aku saat ini sudah menjadi seorang istri dan menjaga sikapku jika sedang berada di luar." Jawab Rania sedikit berbeda dengan kenyataannya.
William menyipitkan matanya ke arah Rania. "Apa kau serius jika dia hanya memintamu mengingat statusmu?" Selidik Sean.
Rania mengangguk. "Ya. Hanya itu saja."
"Tidak."
"Apa kau tidak sedang berbohong?"
"Tentu saja tidak." Rania mendengus.
"Baguslah jika seperti itu." Ucap Sean merasa lega.
"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku keluar dulu. Karena aku dan sekretaris Deby akan membuat laporan untuk rapat nanti siang."
"Pergilah. Dan ingatkan pada Deby agar segera menghubungi pihak keuangan untuk segera menyerahkan laporannya." Titah Sean.
"Baiklah Tuan Sean." Ucap Rania kembali formal kemudian bangkit dan segera keluar dari ruangan Sean.
*
"Ada angin apa yang membawamu datang ke perusahaanku siang-siang begini?" Tanya Gerry menjatuhkan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan William.
William yang sedang memejamkan mata pun membuka kedua kelopak matanya. "Aku sedang membutuhkan bantuanmu." Ucap William menghembuskan nafas pelan di udara.
"Bantuan seperti apa yang kau maksud?" Gerry menatap rekan kerja sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan datar.
"Kau pasti sudah mengetahui jika saat ini Bianca sedang berada di negara ini."
"Ya. Aku tahu. Lantas apa kau sudah ingin merubah keputusanmu saat ini?"
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...