
Satu jam berada di dalam kamar Cilla tak membuat Calvin merasa bosan karena terus memperhatikan wajah cantik putrinya. Tangan Calvin pun terus bekerja membelai rambut putrinya yang semakin lelap dalam tidurnya.
"Daddy... Ayo bermain..." Cilla meracau. Tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada guling kesayangannya.
"Kesalahan apa yang telah aku perbuat selama ini?" Wajah Calvin nampak begitu bersalah. Di umur Cilla yang sudah hampir menginjak enam tahun barulah gadis kecil itu menemukan sosok Ayah yang selama ini dirindukannya.
"Maaf..." satu kata pun kembali lolos dari bibirnya. Menatap penuh sesal pada wajah polos putrinya. "Maafkan Daddy..." lanjutnya lagi semakin merasa bersalah. Calvin pun kembali menatap pada wajah putrinya sebelum akhirnya memilih keluar dari dalam kamar Cilla dan kembali ke kamarnya.
"Dia sudah tidur?" gumam Calvin mendekatkan tubuhnya ke sisi ranjang. "Mereka sungguh mirip." Calvin kembali bergumam. Tak ingin berlama-lama menatap wajah Bianca yang semakin cantik saat tertidur karena akan membangkitkan sesuatu di dalam tubuhnya, Calvin pun segera memutari ranjang lalu naik dan turut bergabung untuk tidur di samping tubuh istrinya.
*
Pagi itu Calvin kembali terbangun tanpa melihat kembali sosok istrinya di sampingnya. "Apa dia sudah pergi bekerja?" Gumam Calvin. Calvin pun turun dari ranjang lalu memutuskan untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum keluar dari dalam kamar.
"Daddy... Lihatlah... aku cantik sekali bukan?" Cilla berputar-putar memamerkan baju baru sekolahnya yang nampak cantik di tubuhnya.
Calvin tersenyum. Mengambil tubuh putrinya lalu menggendongnya. "Kau sangat cantik, little." Ucapnya lalu membenamkan ciuman cukup lama di pipi bulat putrinya.
"Tuan... Nona Bianca kembali berpesan jika Nona sudah berangkat bekerja sebelum Tuan bangun." lapor pelayan pada Calvin.
"Apa dia pergi pagi-pagi sekali?" Tanya Calvin.
Pelayan itu mengangguk.
"Apa sarapan sudah siap?" Tanya Calvin dengan nada yang sudah kembali datar.
"Sudah, Tuan." Balasnya yang diangguki oleh Calvin.
"Daddy... apa Daddy akan mengantarkanku pergi sekolah pagi ini?" Tanya Cilla penuh harap.
"Asik... terimakasih Dad!" Seru Cilla begitu senang lalu mengecup kedua pipi Calvin.
Calvin tersenyum karenanya. "Ayo sarapan dulu." Ajak Calvin lalu berjalan ke arah meja makan.
"Apa Mommy dulu sering berangkat kerja pagi-pagi sekali?" Tanya Calvin saat ia dan Cilla sedang dalam perjalanan menuju sekolah Cilla.
Cilla mengangguk. "Tapi itu dulu... Jika Mom banyak pekerjaan, maka Mom akan berangkat lebih pagi. Sekarang Mom sangat jarang pergi pagi setelah Mom memiliki Bibi Merry." Balas Cilla.
Calvin terdiam. Pandangannya pun kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Daddy... jika Daddy rindu pada Mom karena tidak melihatnya di pagi hari, Daddy bisa menemui Mom di butiknya. Mom pasti sangat senang jika Dadddy menemuinya." Ucap Cilla dengan polosnya.
Calvi hampir saja terbatuk mendengar ucapan sembarangan dari putrinya.
"Kenapa Daddy diam?" Lanjut Cilla lagi.
"Daddy tidak merindukan Mommy. Daddy hanya ingin tahu keseharian Mom sebelum menikah dengan Daddy." Balas Calvin.
"Ooh..." kepala Cilla mengangguk lalu kembali mengayunkan kakinya.
Percakapan di mobil pun kembali berlanjut namun Calvin selalu berusaha mengalihkan topik mereka dari Bianca. Namun tidak dengan pemikirannya yang bertanya-tanya apa yang membuat istrinya terlihat begitu sibuk akhir-akhir ini.
Aku harus mencari tahu ada apa dengannya.
***
Lanjut lagi? Berikan like, komen dan votenya dulu yuk😉