Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Menyiapkan mental


"Aku tidak apa-apa..." Kyara mencoba menghalangi tangan William yang berada di pundaknya.


"Ayo makan lagi. Aku masih sungguh lapar." Ucap Kyara jujur. Tak lupa ia menyematkan senyum manisnya menandakan ia baik-baik saja.


William dan Rania mengangguk. Mereka kembali melanjutkan memakan sate mereka.


"Terimakasih untuk traktiran yang kesekian kalinya Pak William. Jangan lupa untuk traktiran berikutnya!" Seloroh Rania. Saat ini mereka sedang berada di parkiran motor depan sate Pak Ujang.


Kyara memukul pelan pundak Rania mendengar ucapan Rania. "Kau ini..." Ucapnya lirih.


Rania membalas dengan terkekeh. Begitu juga dengan William.


"Tidak masalah... Akhir pekan kita bisa merencanakan makan bersama lagi." Jawab William tersenyum.


Senyuman Willam yang begitu manis sedikit membuat jantung Kyara berdetak lebih cepat.


"Baiklah... Akhir pekan kita bisa wisata kuliner kalau begitu!" Seru Rania bersemangat.


"Boleh... Tinggal atur saja jam berapa dan dimana." Ucap William membuat Rania bersorak senang. Sedangkan Kyara hanya menggeleng melihat tingkah Rania.


"William, sepertinya kami sudah harus pulang." Ucap Kyara setelah melirik jam di pergelangan tangannya.


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap William. Dan di perjalanan nanti aku akan mengungkapkan perasaanku kepadamu, Ara. Lanjut William dalam hati.


"Untuk kali ini biarkan aku yang mengantarkanmu pulang, Ara." Ucap William dengan memohon. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu sebentar saja." Lanjutnya.


Rania yang menangkap maksud William pun akhirnya angkat bicara. "Kau pulang bersama William saja, Kya. Aku akan membawa motormu pulang. Besok pagi aku akan menjemputmu." Ucap Rania seolah mendukung tindakan William.


Kyara memberi isyarat mata pada Rania. Dan Rania pun angkat bicara kembali.


"Sepertinya Kyara tidak enak dengan pemilik kosnya jika diantar pulang oleh laki-laki. Bagaimana jika Kyara Pak William antar ke rumah saya saja? Biar malam ini Kyara menginap di rumah saya." Usul Rania. "Bukannya begitu, Kya? Lagi pula aku masih punya pakaian untuk kau kenakan besok untuk bekerja." Tanya Rania ke arah Kyara.


Kyara mengangguk. Sepertinya itu memang solusi yang tepat untuk masalahnya saat ini. Toh nanti ia bisa kembali ke apartemen dengan taxi online setelah William mengantarkannya ke rumah Rania. Lagi pula Kyara sungguh tidak enak untuk menolak ajakan William mengingat pria itu begitu baik pada mereka.


Mobil William mulai melaju membelah keramaian Ibu kota. Di dalam mobil hanya ada keheningan karena Kyara dan William sama-sama diam dalam pemikiran masing-masing. William nampak menarik nafasnya secara perlahan. Entah mengapa keberaniannya mendadak hilang begitu saja ketika berdekatan dengan Kyara. Bahkan kini ia begitu bingung bagaimana mengungkapkan perasaannya. Padahal dulu menurutnya ini adalah pekerjaan mudah. Dan sudah dipastikan jika wanita yang ia utarakan perasaannya akan menerimanya begitu saja. Namun belum tentu dengan Kyara. Wanita yang sangat berbeda dari wanita yang lainnya.


William kembali menarik nafasnya begitu dalam. Ia harus mengatakannya sekarang juga. Ketika melewati jalanan yang cukup sepi, William pun menepikan mobilnya di bawah lampu penerangan jalan.


Kepala Kyara menoleh ke arah William. "Kenapa berhenti?" Tanyanya.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu, Ara. Dan aku rasa, aku sudah tidak bisa lagi mengundurnya." Ucap William dengan pasti.


***