Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Berita tak terduga


Karna tak kuat menahan rasa sakitnya, Kyara pun terduduk lemas di atas lantai sebelum Rania sempat menahannya. Kehebohan pun akhirnya terdengar oleh Mama Riana, Papa Johan dan Kakek Surya. Mereka pun berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah Kyara. Dan dini hari itu kediaman keluarga Bagaskara nampak heboh karna Kyara yang akan melahirkan.


"Bawa mobilnya lebih cepat lagi Pak Mun!" Titah Mama Riana yang kini sedang menahan sakit pada lengannya karna Kyara menjadikan lengannya untuk menyalurkan kesakitannya.


"Hiks... Sakit..." Kyara terus merintih dengan deraian air mata.


"Sabar ya sayang. Sebentar lagi kita sampai!" Ucap Mama Riana mengelus kepala menantunya. Karena jalanan cukup sepi pada dini hari itu, akhirnya tak memakan waktu lama mobil pun sampai di pelantaran rumah sakit.


Di depan rumah sakit nampak para perawat dan dokter sudah menunggu kedatangan mereka karna Papa Johan sebelumnya sudah menghubungi kepala rumah sakit itu terlebuh dahulu. Tubuh Kyara dibaringkan dengan hati-hati di atas brankar kemudian dibawa menuju ruangan bersalin.


Mama Riana turut mengekori para perawat yang kini mendorong brankar Kyara. Sangking paniknya dengan keadaan menantunya, Mama Riana pun tak sempat mengganti pakaian tidurnya. Bahkan Mama Riana juga melupakan alas kakinya.


"Bagaimana keadaan Kyara, Tante?" Tanya Rania dengan nafas tersengal-sengal memegang tas perlengkapan bayi. Rania memang menyusul belakangan bersama Papa Johan dan Kakek Surya karena ia harus mengambil terlebih dahulu tas berisi perlengkapan bayi Kyara di dalam lemari.


"Kyara masih diperiksa oleh dokter." Ucap Mama Riana. Karna beliau memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan agar konsentrasi dokter tidak terganggu.


"Apa Tante sudah menghubungi Pak Gerry?" Tanya Rania mengingat suami Kyara.


"Tante sudah menghubunginya dan asistennya. Namun nomor mereka sama-sama tidak aktif." Decak Mama Riana.


Rania menghela nafasnya. Apa Gerry tidak akan melihat persalinan anaknya nanti?


*


Mobil BMW bewarna hitam memasuki perkarangan mansion keluarga Bagaskara. Gerry, pria itu nampak keluar dari dalam mobil dengan wajah layunya. Sudah hampir dua bulan berada ia berada di negeri orang melakukan perjalanan bisnis. Hari-hari ia lewati dengan bekerja dan terus bekerja hingga lelah. Semua itu ia lakukan agar bisa cepat pulang ke tanah air dan bisa kembali melepas rindu dengan calon bayinya.


Ketukan sepatu pentofel beradu dengan lantai marmer menggema di dalam mansion. Gerry menyampirkan jas yang membalut tubuhnya je lengan. Dan melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya. Di belakangnya Asisten Jimmy mengikutinya karna ia akan menginap di mansion.


Gerry mengedarkan pandangan mengitari setiap sudut ruangan. Keadaan mansion nampak sepi. Wajar saja, karna saat ini masih menunjukkan pukul 3 pagi. Dan para pekerja pasti saat ini sedang beristirahat. Namun pandangan Gerry teralihkan pada kedatangan Bi Sumi.


"Maaf tidak menyambuat kedatangan tuan muda." Ucapnya begitu sungkan.


"Tak apa, Bi. Kenapa Bibi sudah bangun?" Tanya Gerry heran.


Bukannya menjawab, Bi Sumi justru menimpali dengan pertanyaan. "Apa tuan muda belum tau jika Non Kyara saat ini sudah mau melahirkan?" Tanya Bi Sumi karna melihat wajah Gerry biasa-biasa saja.


"Apa?! Kyara mau melahirkan?" Raut wajah Gerry seketika panik. "Dimana Kyara sekarang?" Cecar Gerry.


"Benar tuan... Non Kyara sudah dibawa ke rumah sakit oleh Nyonya dan Tuan besar sekitar satu jam yang lalu." Sahut Bi Sumi.


Tanpa menunda waktu Gerry pun berbalik keluar dari dalam mansion menuju mobil yang sudah dimasukkan ke dalam garasi.


***