Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Aku juga terpaksa menerimanya


"Sean, kau ingin kemana?" Tanya Rania saat Sean melewati meja kerjanya dengan pakaian berbeda. Pria itu terlihat hanya memakai kemeja tanpa memakai jas kerjanya.


"Aku ada urusan di luar sebentar. Kabari aku jika Felix sudah kembali." Titah Sean mengingat Felix yang masih berada di luar kantor untuk menggantikannya bertemu rekan bisnisnya siang ini.


"Baiklah." Ucap Rania tak ingin banyak bertanya.


Sean pun segera berlalu meninggalkan meja kerja Rania.


"Huh, rasanya aku sungguh malas sekali berduan dengan gadis manja itu." Gerutu Sean saat mobilnya sudah hampir sampai di depan rumah Keyla. Mobil Sean terus melaju hingga sampai di depan gerbang rumah tingkat dua milik orang tua Keyla. Mobil pun masuk ke dalam gerbang setelah Sean mengungkapkan niatnya untuk menjemput Keyla pada satpam yang sedang berjaga di dekat gerbang.


"Sean... Kau sudah sampai?" Tanya Keyla saat Sean sudah keluar dari dalam mobilnya.


"Ya. Apa Paman dan Bibi ada?" Tanya Sean berniat untuk berpamitan pada kedua orang tua Keyla.


"Tidak. Mama dan Papaku baru saja pergi ke rumah saudaraku." Terang Keyla yang diangguki paham oleh Sean.


"Baiklah, ayo berangkat. Aku tidak memiliki waktu banyak untuk menemanimu." Ucap Sean dengan nada dingin.


Keyla mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan menuju mall, baik Sean maupun Keyla tidak ada yang membuka pembicaraan sedikit pun. Sean hanya fokus pada kemudinya, sedangkan Keyla fokus pada layar ponselnya.


Dua puluh lima menit perjalan, akhirnya mobil pun telah sampai di depan mall. Sean pun segera keluar dari dalam mobil lalu memberikan kunci mobilnya pada security.


"Apa kau ada ingin membeli sesuatu lebih dulu?" Tanya Keyla saat mereka sudah masuk ke dalam mall.


"Tidak. Langsung saja mencari barang yang kau inginkan." Ucap Sean dengan sikap dinginnya.


Yang aku inginkan? Batin Keyla merasa miris.


Selama Keyla memilih cincin pernikahan untuk mereka, Sean lebih memilih untuk duduk di kursi tunggu tanpa berniat membantu Keyla untuk memilih cincin pernikahan mereka.


Sean menatap malas pada dua pasang cincing itu. "Terserah kau saja. Dua-duanya sama-sama bagus." Balas Sean seadanya.


Mimik wajah Keyla nampak berubah. Namun secepat mungkin wanita itu menyembunyikannya.


"Baiklah." Ucapnya lalu pergi begitu saja tanpa berniat mengatakan apa pun lagi.


"Tunggu!" Ucap Sean yang berhasil menghentikan langkah Keyla. Sean pun segera berdiri lalu beranjak mendekati Keyla. "Pakai ini." Titahnya sambil menyerahkan sebuah kartu pada Keyla.


Keyla menerimanya tanpa berpikir. "Baiklah." Balasnya lalu kembali berjalan.


Tak lama, Keyla pun kembali menghampiri Sean dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya.


"Ayo. Aku sudah selesai." Ucap Keyla yang diangguki oleh Sean.


Tanpa melakukan apa pun lagi di dalam mall, Sean dan Keyla pun segera pergi meninggalkan mall.


"Sean... Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Keyla saat mobil berhenti di lampu merah.


Sean melirik sekilas pada Keyla. "Katakan saja!" Ucapnya dengan datar.


"Aku tahu kau terpaksa menerima pernikahan kita yang akan berlangsung satu minggu lagi. Dan begitu pula aku. Aku juga terpaksa menerima pernikahan ini." Ucap Keyla dengan nada datar seperti yang Sean lakukan.


***


Komen, vote dan like dulu yuk baru lanjut lagi☺