
Suasana dalam perusahaan nampak sepi ketika Gerry baru saja memasuki lobby. Wajar saja, di jam seperti ini para karyawan masih disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sama halnya dengan wanita yang tengah membawa sebuah kardus besar berisikan kertas-kertas yang sudah tidak digunakan untuk dibawa ke dalam gudang yang berada di belakang perusahaan.
Gerry menghentikan langkahnya ketika netranya tidak sengaja menangkap tubuh mungil yang sedang bersusah payah mengangkat sebuah kardus besar di tangannya. Keringat nampak membasahi pelipisnya. Wanita itu adalah Kyara, istri sahnya.
Tiba-tiba saja dari arah belakang nampak Rania berjalan tergesa-gesa ke arah Kyara.
"Biar aku saja yang membawanya. Kau bawalah barang bawaanku ini!" Rania segera mengambil alih barang bawaan Kyara dan menukarnya dengan satu kantong besar berisikin sampah plastik yang lebih ringan.
Kyara mencoba mengambil alih barang bawaannya kembali dari tangan Rania. Namun dengan cepat Rania menghindarinya. "Biar aku membawa barangku sendiri, Rania..." Lirih Kyara. Matanya memerhatikan sekitar mereka yang untungnya nampak sepi. Ia tidak mau tingkah mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di kantor. Apa lagi jika rekan OB mereka melihatnya dan kembali memberitahu Bu Retno. Akan panjang urusannya!
"Apa kau tidak ingat jika saat ini kau sedang Mengan—" Ucapan Rania terhenti ketika Kyara menatap tajam tanda peringatan padanya.
"Agh sudahlah... Aku akan segera pergi!" Ucapnya. Berlalu dari hadapan Kyara dengan berjalan tergesa-gesa agar Kyara tidak dapat lagi menjangkau bawaannya.
Kyara menghela nafas. Memiliki sahabat yang cukup keras seperti Rania membuat Kyara sangat sulit membantah ucapan sahabatnya itu. Kyara mengambil plastik bawaan Rania yang berada di atas lantai kemudian berjalan keluar dari perusahaan untuk membuangnya ke tempat sampah. Pandangan Kyara yang hanya fokus ke depan sampai membuatnya tidak menyadari jika Gerry dan Asisten Jimmy yang berada di dekat pillar memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
Melihat Kyara yang sudah hilang dari pandangannya, Gerry pun kembali melanjutkan langkahnya menuju lift khusus presdir.
Berbeda dengan Gerry yang terlihat acuh dengan kejadian tadi. Asisten Jimmy justru sebaliknya. Pemikirannya kini bertanya-tanya tentang ucapan Rania yang menggantung namun seperti menyimpan sebuah makna di dalamnya.
Bagaimana Rania tidak memperbolehkan Kyara membawa barang berat dan juga Asisten Jimmy juga sering mendengar dari percakapan Nisa dan Bobby, jika Rania selalu berusaha membantu pekerjaan Kyara secara diam-diam.
***
Pintu ruangan yang terbuka secara tiba-tiba tanpa adanya ketukan pintu membuat Asisten Jimmy spontan melihat ke arah pintu untuk melihat siapa yang bertingkah tidak sopan masuk ke dalam ruangan Bosnya. Melihat wajah William menyembul di sana membuat Asisten Jimmy mendecakkan lidah. Kebiasaan, pikirnya.
"Dimana Gerry?" Tanya William sembari melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Lelaki itu sepertinya sedang tidak baik-baik saja dilihat dari wajahnya yang nampak kusut.
"Ada di dalam kamar sedang ke kamar mandi." Jawab Asisten Jimmy. Kemudian mempersilahkan William untuk duduk.
William menyandarkan kepala di sofa kulit bewarna hitam setelah mendaratkan tubuhnya di sana. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan jika minggu ini adalah waktu terakhir yang diberikan keluarganya untuk memperkenalkan wanita pujaan hatinya di hadapan keluarganya. Bahkan keluarganya sudah berencana untuk datang langsung ke Indonesia melihat siapakah wanita yang akan menjadi mantu di keluarga mereka.
*
*
*
*
Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
Terimakasih sudah membaca karya recehku.