
"Iya.. Iya.. Aku kan hanya bercanda. Kenapa Kakak memukulku keras sekali!" Gerutu Bibi mengibaskan tangannya yang sakit di udara.
Rania mendengus. "Sudahlah. Ayo kita pulang. Ayah dan Ibu pasti sudah menunggu kita di rumah." Seru Rania bangkit dari kursi.
Bibi pun menurut dan ikut bangkit.
Langit malam itu nampak gelap seakan tidak ada sumber cahaya di sana. Bulan dan bintang pun hampir tak terlihat oleh gelapnya awan hitam yang menutupi langit. Rania turun dari motor besar adiknya dan buru-buru masuk ke dalam rumah kecil mereka.
Bibi pun segera memasukkan motornya masuk ke dalam rumah saat rintik hujan mulai membasahi wajahnya.
"Kalian baru pulang?" Seru Ibu Mela yang baru keluar dari dalam kamarnya.
"Iya, Bu. Ini Bibi bawain sate buat Ibu dan Ayah." Menyerahkan dua bungkus sate ke tangan Ibu Mela.
"Terimakasih ya, nak. Kau tau saja jika Ibu sudah lapar lagi." Seloroh Ibu Mela.
Bibi tersenyum. Rania yang baru saja meletakkan sendalnya dan Bibi di rak sepatu pun mendekat pada ibu dan adiknya.
"Rania masuk ke dalam dulu ya, Bu." Pamitnya yang diangguki Ibu Mela.
"Jangan terlalu sering begadang. Tidak baik untuk kesehatanmu." Tegur Ibu Mela mengingat kebiasaan putrinya.
"Akan Rania usahakan, Bu." Jawabnya kemudian masuk ke dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, suara air hujan yang turun cukup deras mulai terdengar. Rania mendekat pada jendela kamarnya dan membuka setengah tirai yang menutupi jendelanya.
"Untung saja aku dan Bibi cepat pulang. Jika tidak, pasti kami sudah kehujanan saat ini." Gumam Rania menatap derasnya air hujan. Rania pun menutup kembali tirai jendelanya.
"Huh... Rasanya sungguh melelahkan..." Lirih Rania menjatuhkan tubuhnya di ranjang berukuran 120 meter itu.
"William..." Gumam Rania saat wajah pria itu terlintas dipikirannya. "Sedang apa kau saat ini? Kita sudah lama tidak bertemu. Dan kau sama sekali tidak pernah menghubungiku lagi." Rania menatap sendu langit-langit kamarnya.
Malam itu Rania habiskan dengan mengingat kebersamaannya dengan William dan bagaimana pada akhirnya hatinya berlabuh kepada pria itu sebelum esok hari ia harus belajar menghapus nama William di hatinya untuk selama-lamanya.
Hari-hari pun terus berlalu. Setelah hari itu, Rania pun kembali memutuskan untuk tetap tinggal di ruko milikinya dan melanjutkan usaba warung baksonya. Setiap hari Rania habiskan dengan berjualan dari siang hingga malam hari. Sedangkan di pagi harinya, Rania hanya sibuk mempersiapkan bahan-bahan jualannya.
Hingga tanpa terasa dua minggu pun berlalu. Esok hari adalah hari dimana keluarga sahabat Kakeknya akan datang berkunjung ke rumah ibunya untuk membahas pernikahannya sekaligus lamaran. Rania menghela nafasnya beberapa kali saat menatap kebaya bewarna biru muda yang akan ia kenakan esok hari diacara lamarannya.
"Seperti apa calon suamiku? Apa wajahnya tampan? Atau wajahnya biasa saja?" Gumam Rania membayangkan wajah calon suaminta. "Oh astaga... Bagaimana kalau calon suamiku itu berwajah bulat dan bertubuh gempal? Dan jangan lupakan kepalanya yang botak." Rania menggeleng beberapa kali mengusir segala pemikiran buruknya.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...