
Seorang dokter tampan berperawakan tinggi nampak menatap nanar pasien yang akan dioperasinya sebentar lagi. Wajah pria itu nampak tegang untuk pertama kalinya ingin mengoperasi pasiennya. Dokter tampan itu memanjatkan doa sebelum memulai jalannya operasi.
Aku akan sangat membencimu jika kau berani-beraninya meninggalkan aku sebelum aku menghajarmu karna tidak memberitahuku tentang pernikahanmu.
Dokter muda yang menjadi pemimpin jalannya operasi itu pun mulai melakukan tugasnya dengan hati-hati. Hingga tiga jam berlalu dokter muda itu menarik nafas lega karna sudah berhasil mengangkat gumpalan darah di otak Gerry.
Lampu di depan ruangan operasi pun padam. Semua orang yang menunggu jalannya operasi itu nampak harap-harap cemas akan hasil operasi yang dilakukan di dalam sana. Dua orang dokter keluar dari dalam ruangan operasi disusul oleh dokter yang menjadi pemimpin jalannya operasi.
"Dika... Bagaimana keadaan Gerry? Apa Gerry baik-baik saja?" Mama Riana yang melihat anak dari sahabatnya itu keluar pun langsung mencecar dokter bernama Dika itu dengan rentetan pertanyaan.
"Bagaimana keadaan suamiku?" Kyara melangkah maju mendekat pada dokter Dika. Wajahnya nampak sembab karena terlalu lama menangis.
Dokter Dika terdiam menatap dalam pada wanita yang ia baru ketahui adalah istri dari sahabatnya. Dokter Dika tertegun betapa indahnya paras dari istri seorang Gerry.
"Dokter... Bagimana keadaan suami saya?" Tanya Kyara lagi karna tak mendapatkan jawaban.
Dokter Dika kembali ke alam sadarnya. "Operasinya berjalan dengan lancar. Gumpalan darah di otak Gerry berhasil disingkirkan. Namun..." Dokter Dika nampak menghirup nafas dalam. "Saat ini kondisi Gerry dalam keadaan koma. Dan belum dapat dipastikan kapan Gerry akan sadar dari komanya." Lirihnya menunduk.
Deg
Jantung Kyara terasa diremas saat mengetahui keadaan suaminya. Air matanya kembali mengalir menghiasi wajah cantiknya.
"Gerry..." Jerit Kyara memeluk tubuh mertuanya yang tak kalah terpukul.
"Kita hanya bisa berdoa agar Gerry bisa kembali pulih dan cepat sadar dari komanya."
*
"Jika aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan menerima pernikahan ini walau aku harus menahan rasa sakit karena menolak permintaan Kakek. Jika aku tidak hadir di dalam hidupmu, kau pasti tidak akan seperti ini. Hidup dalam kekacauan dan kau tidak akan meninggalkan kekasih yang kau cintai. Ini semua salahku. Kesalahanku yang telah menghancurkan mimpi indahmu. Karena aku kau jadi seperti ini. Mengapa tidak kau biarkan saja aku yang menjadi korban tabrak lari itu. Mengapa kau harus mengorbankan tubuhmu untuk menyelamatkanku... Mengapa Gerry... Kenapa tidak aku saja yang merasakannya... Hiks... Hiks..." Kyara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Karena Gerry mencintaimu, Nona Kyara." Seseorang telah duduk di samping kursi taman yang ada di rumah sakit tempat Kyara mengeluarkan sesak di dadanya.
Kyara mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Do-dokter Dika?" Ucap Kyara terisak.
"Semua yang kau alami selama ini adalah takdir. Kau dan Gerry sudah ditakdirkan untuk bersama walau dengan jalan yang begitu rumit. Tidak ada yang salah dalam pernikahan kalian. Yang salah hanyalah keegoisan kalian masing-masing yang belum bisa mengikhlaskan jalan hidup yang harus kalian lalui. Dan hingga kejadian ini terjadi, itu juga termasuk takdir. Takdir yang menyadarkanmu jika Gerry sudah benar-benar mencintaimu dan bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan dirimu."
***
Udah baca karyaku yang dua lagi belum?
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa mampir ya....
Banyakin komen, like dan votenya yuk agar author up lagi... hihi☺