Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sangat manis


"Duduk di sini saja, ya?" Tawar Gerry menunjuk pada bangku kayu yang berada di bawah pohon.


Kyara mengangguk menyetujui. Lagi pula cuma bangku itu yang tinggal bisa untuk berteduh.


Sinar matahari terasa menyengat kulit. Kyara mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya yang terasa panas.


"Cuaca siang ini panas sekali." Gerry pun ikut mengipaskan tangan di depan wajahnya.


"Bagaimana kalau aku membeli minuman dulu di sana. Sepertinya minuman itu cocok untuk cuaca seperti saat ini." Tunjuknya pada penjual es boba.


Kyara dengan cepat mengangguk menyetujui.


"Apa aku ikut?" Tanya Kyara saat Gerry sudah berdiri kembali.


"Tak perlu. Aku bisa sendiri. Kau tunggulah di sini." Ucapnya mengelus rambut Kyara yang basah oleh keringat.


Gerry meninggalkan Kyara yang masih termanggu di tempatnya. Elusan tangan Gerry di puncak kepala Kyara meninggalkan detak jantung yang begitu cepat di tubuh Kyara.


"Dia manis sekali..." Lirih Kyara dengan rona merah menyembul di kedua pipinya.


Tak jauh dari tempat Kyara berada, seseorang menggunakan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam mengepalkan kedua tangannya erat.


"Aku tidak akan membiarkan kau berlama-lama dalam kebahagiaan setelah kau merebut kebahagiaanku wanita murahan!" Geramnya mengepalkan tangannya erat. Usahanya selama ini selalu berujung sia-sia karna Kyara dijaga ketat oleh orang-orang suruhan Jimmy. Hingga ia memutuskan untuk turun tangan sendiri menghabisi targetnya.


"Jika kau sudah tidak ada di dunia ini, makan aku akan dengan mudah merebut hati Gerry kembali. Dan kau tenang saja. Anakmu itu akan aku terima dan aku jaga dengan baik sampai tiba saatnya aku akan menghabisinya seperti aku yang akan menghabisimu sebentar lagi." Tawa orang itu tertahan dibalik masker hitamnya.


*


Kyara menatap dengan berbinar minuman dan beberapa makanan yang berada di tangan Gerry saat ini. Es boba, telur gulung, sosis bakar dan tahu isi menyatu di tangan kanan pria itu saat ini.


"Kau membeli semua ini, Gerry?" Tanyanya begitu senang.


"Tentu saja. Bukankah kau menyukai semua makanan ini?" Mengangkat makanan di tangannya ke hadapan wajah Kyara.


"Ouh... Terimakasih." Kyara semakin melebarkan senyumannya.


"Ayo duduk dulu!" Ucap Kyara semakin tak sabar. Memberi ruang kosong pada Gerry untuk melatakkan makanan dan minumannya. Sisi kekanakanannya yang keluar membuat Gerry semakin gemas melihatnya.


"Segar sekali..." Gumam Kyara saat minuman es boba itu masuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Makanlah, tidak usah sungkan." Ucap Gerry melihat Kyara yang nampak ragu mengambil makanannya.


"Kau tidak mau memakannya?" Tanya Kyara melihat Gerry yang hanya meminum minumannya saja.


"Aku tidak terlalu menyukai jajanan seperti ini."


"Apa karna makanan ini dibeli di pinggir jalan?" Tebak Kyara.


Gerry menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dari kecil ia memang sudah dibiasakan untuk memakan makanan yang bergizi dan dan dipertimbangkan tingkat kesehatannya.


"Tapi ini semua cukup banyak. Dan aku tidak bisa jika menghabiskannya." Keluh Kyara dengan wajah memelas.


"Salah kau sendiri membelikannya terlalu banyak." Wajah Kyara berubah masam.


Helaan nfas Gerry terdengar kasar. "Baiklah. Aku akan membantu menghabiskannya." Putusnya sedikit ragu.


Bibir Kyara tertarik ke samping. Dengan ragu-ragu Gerry mulai memasukkan telur gulung yang berlumuran saos itu ke dalam mulutnya. Kedua bola mata Gerry terlihat membola saat makanan itu sudah masuk ke dalam mulutnya.


Enak juga. Batinnya dengan terus mengunyah.


***


Lanjut lagi gak?


Eits... Tapi jangan lupa berikan dukungan dalam bentuk


like


komen


dan votenya, ya:)