Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Membawa pergi


"Kyara... Mama baru saja mendapatkan telefon dari Rania. Rania mengatakan jika Rey tak berhenti menangis. Sepertinya Rey mencari keberadaanmu, Kya." Ucap Mama Riana saat Kyara sudah sedikit tenang.


Kyara menghapus air mata di sudut matanya dengan ibu jarinya. "Rey..." Lirih Kyara merasa bersalah.


"Pulanglah. Temui anakmu. Rey pasti dapat merasakan apa yang kau rasakan saat ini."


Kyara nampak menimbang-nimbang. Di satu sisi ia sangat ingin menjaga Gerry. Namun di sisi lain ada tanggung jawab yang harus ia lakukan. Menemui bayinya yang mununggu kedatangannya di rumah.


"Pulanglah, Nak... Rey membutuhkanmu saat ini. Jangan mengkhawatirkan Gerry. Ada kami di sini." Ucap Kakek Surya yang sudah berada di dekat mereka. Lagi pula Kakek Surya sudah berkonsultasi dengan dokter yang menangani Kyara dan dokter itu berkata jika keadaan Kyara sudah membaik.


"Apa kata Kakek benar. Pulanglah. Kasihan Rey." Timpal Papa Johan menepuk pelan pundak Kyara.


"Baiklah. Kya harus segera pulang menemui Rey. Tolong jaga Gerry. Jika ada apa-apa tolong kabari Kya lewat Rania." Pinta Kyara berkaca-kaca.


Mama Riana memeluk Kyara barang sejenak. "Tenanglah. Doakan Gerry agar baik-baik saja." Mama Riana tak kalah berkaca-kaca.


"Kakek sudah meminta pengawal untuk mengantarkanmu pulang. Sekarang dia sudah menunggu di lobby."


"Terimakasih, Kakek."


"Ayo Mama antar." Ucap Mama Riana kemudian menuntun Kyara yang kesulitan berjalan menuju lobby.


*


"Kyara..." Rania yang sedang menenangkan Baby Rey yang sedang menangis di dalam gendongannya terkejut akan kedatangan Kyara secara tiba-tiba.


"Rania..." Lirih Kyara menyeret kakinya yang sakit menuju Rania "Rania... Gerry dia—" Kyara tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Kyara memeluk tubuh Rania dan juga Baby Rey yang ada dalam gendongan Rania.


Baby Rey yang sedang menangis itu seketika terdiam saat Kyara memeluk tubuhnya. Namun sedetik kemudian Baby Rey kembali menangis dengan kencang seperti dapat merasakan kesedihan sang Mama.


"Papah, Rey... Papah..." Kyara mengambil Baby Rey dalam gendongan Rania dan memeluk buah hatinya seerat-eratnya.


Cukup lama Rania menenangkan Kyara yang terpuruk akan kejadiaan naas yang menimpanya dan Gerry. Setelah Kyara cukup tenang dan Baby Rey sudah tertidur, Rania pun membantu Kyara menyiapkan barang-barang yang akan dibawa Kyara ke Jakarta pagi ini.


"Kyara. Sepertinya aku harus ikut denganmu kali ini. Aku yakin kau sangat membutuhkan bantuanku di sana untuk menjaga Baby Rey." Ucap Rania setelah berpikir panjang.


Kyara mendongak menatap wajah Rania. Sebenarnya ia sangat ingin mengajak Rania untuk ikut dengannya. Namun Kyara merasa sungkan karena Rania memiliki tanggung jawab mengurus warung baksonya.


"Aku sudah mengirimkan pesan pada Ibu. Dan ibuku setuju agar aku ikut denganmu. Aku tak yakin kau bisa konsentrasi merawat Rey di sana nantinya."


"Terimakasih, Rania... Terimakasih." Kyara buru-buru menghamburkan diri ke dalam pelukan Rania. "Aku selalu saja merepotkanmu."


"Aku sangat senang saat direpotkan olehmu " Timpal Rania.


Kyara terkekeh kecil di dalam tangisannya.


Dan pagi itu mereka pun berangkat menuju tempat yang sudah diberitahukan Mama Riana untuk melakukan penerbangan. Di sana Mama Riana dan Papa Johan nampak menunggu kedatangan mereka di samping Helikopter yang akan membawa mereka ke Jakarta. Sedangkan Gerry sudah dimasukkan ke dalam helikopter dengan didampingi beberapa orang dokter dan perawat.


***


Udah baca karyaku yang dua lagi belum?


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa mampir ya....


Banyakin komen, like dan votenya yuk agar author up lagi... hihi☺