
"Itu Rania." Tunjuk Kyara ke arah Rania yang melewati mobil mereka setelah memberikan klakson.
William terkekeh. "Pembalap juga dia!" Tuturnya terkekeh ketika melihat Rania yang sudah melesat jauh dari pandangan.
Kyara ikut terkekeh. Jika sedang sendiri di atas motor, Rania memang melajukan motor di atas rata-rata. Namun jika bersamanya, motor yang dikemudikan Rania bagaikan jalan seperti bebek. Kyara tahu, jika Rania seperti itu karena mengetahui dirinya tengah mengandung.
Kyara memasuki warung sate Pak Ujang yang sudah cukup ramai diikuti William di belakangnya. Warung sate Pak Ujang memang kini sudah mulai buka dari pukul 5 sore karena banyaknya permintaan pengunjung yang meminta untuk mereka buka lebih awal. Tak ingin membuat para pengunjungnya kecewa termasuk Kyara dan Rania, Pak ujang pun menurutinya. Apa lagi jika mengingat pelanggaannya kebanyakan dari kalangan pekerja yang pulang pukul 5 sore.
"Kya... Sini..." Tanga Rania melambai pada Kyara yang nampak celingak-celinguk mencari keberadaan Rania.
Kyara tersenyum seraya mengangguk ketika melihat keberadaan Rania.
"Udah lama?" Tanya Kyara tak enak. Karena di perjalanan tadi ia tiba-tiba meminta William untuk berhenti di pinggir jalan saat melihat martabak yang menggugah seleranya.
"Beli martabak lagi?" Tanya Rania terkekeh melihat plastik yang berisikan kotak martabak yang biasa Kyara beli.
Kyara ikut terkekeh. "Pengen..." Ucapnya malu.
"Wih... Banyak nih!" Seru William saat melihat 5 porsi sate di atas meja yang baru di sajikan anak Pak Ujang.
"Biar dia gak kelaparan mulu!" Ucap Rania menunjuk Kyara dengan dagunya. "Makanya dipesan tiga porsi untuk dia." Lanjutnya.
Kyara mencebik. Ia hanya memesan dua porsi. Kenapa Rania malah memesan tiga porsi. Walau Kyara nampak bersemangat melihat 3 porsi sate itu dan pasti akan menghabiskannya.
"Ayo makan dulu..." Ajak Rania yang tahu jika Kyara sudah tidak sabar ingin melahap habis sate di depannya melihat ekspresi Kyara yang tak lepas memandang sate di depannya.
Kyara mengangguk dengan cepat. Huh... Bahkan dia sudah sangat lapar saat ini dan perutnya sudah mulai berbunyi. Tanpa sadar Kyara mengelus perutnya untuk menenangkan bayi mungil yang masih bersemayam di dalam rahimnya. Dan gerak-gerik Kyara tidak lepas dari pandangan William dan Rania.
"Kya... Pelan-pelan... Tidak akan ada yang mengambil makananmu..." Seru Rania melihat Kyara yang begitu cepat memakan satu per satu tusuk sate di piringnya.
Kyara hanya terkekeh dan kembali menyambar satu per satu tusuk sate di piring ke dua. Bahkan ia tidak malu dilihat oleh William saat ini. William dan Rania hanya menggeleng kepala melihat tingah Kyara.
"Kau seperti orang sedang hamil saja, Ara... Bahkan tubuhmu terlihat lebih berisi akhir-akhir ini." Ujar William disela mememakan satenya.
Uhuk
Satu tusuk sate yang baru saja masuk ke mutnya terasa tersangkut di kerengkongannya. William dan Rania buru-buru menyerahkan gelas berisi air mereka pada Kyara. Kyara lebih memilih mengambil uluran tangan Rania dan menandas habis air di dalam gelasnya.
"Kau tidak apa-apa, Ara?" Tanya William begitu panik melihat wajah Kyara yang sudah memerah.
Kyara menggeleng menandakan ia baik-baik saja. Namun perkataan William-lah yang berhasil membuat jantungnya tidak baik-baik saja saat ini.
***