
Mendengar ucapan Sean yang terkesan begitu perhatian padanya membuat Rani melototkan kedua matanya pada Sean. Pandangan Rania pun kini beralih pada Keyla yang nampak menunduk sambil meremas* kedua tangannya yang bertaut.
Tak ingin terlalu lama berada di dalam ruangan Sean yang akan memperpanjang kesalahpahaman, Rania pun segera keluar dari dalam ruangan.
"Semoga saja Keyla tidak merasa salah paham dengan ucapan Sean." Gumam Rania.
Sedangkan Sean, tanpa rasa bersalah atau pun sekedar menatap padanya istrinya, pria itu justru kembali melanjutkan pekerjaannya.
Apa sebegitu tidak pentingnya perasaanku ini di hatimu, Sean? Batin Keyla merasa miris. Jika tahu akan seperti ini jadinya, Keyla tak ingin ikut dengan suaminya itu ke perusahaannya yang akan membuat hatinya terluka.
Jika kau masih mencintai Rania, lantas untuk apa kau menyentuhku Sean? Kau bahkan tidak memperdulikan kesepakatan di awal pernikahan kita yang akan membuatmu terjerat dalam rumah tangga kita untuk selamanya. Keyla masih terus saja bertanya-tanya dalam hati.
Beberapa menit berlalu, Keyla pun hanya diam dengan pemikirannya yang semakin kacau. Sekuat apa pun ia berpikiran positif atas apa yang dilihatnya baru saja. Namun hatinya tetap saja merasakan sakit yang teramat atas perlakuan suaminya itu.
Terlalu larut dalam lamunannya, Keyla pun tidak sadar jika saat ini Sean sudah duduk di sampingnya sambil menatap wajahnya dengan intens.
"Kenapa kau melamun?" Ucap Sean sambil mengarahkan wajah Keyla ke arahnya.
Keyla pun akhirnya tersadar dari lamunannya. "Se-sean... sejak kapan kau sudah duduk di sini?" Tanya Keyla dengan gugup karena saat ini wajah Sean sangat begitu dekat dengannya.
"Sejak tadi. Sejak kau terlalu nyaman dalam lamunanmu." Balas Sean lalu mengelus pipi Istrinya dengan jemarinya.
Keyla mengangguk malu.
"Apa yang sedang kau pikirkan, hem?" Tanya Sean dengan lembut dengan tangan yang masih mengelus permukaan wajah istrinya.
Sean mengangguk namun tidak sepenuhnya percaya. "Kau terlihat tidak cantik jika melamun seperti tadi." Ucap Sean. Jemarinya kini telah berada di bibir istrinya dan mengelusnya.
"Kenapa?" Tanya Keyla dengan jantung yang berdetak semakin cepat.
"Karena aku tidak suka melihat wajahmu yang terdiam seperti itu. Aku lebih menyukai wajahmu yang terlihat pasrah berada di bawah tubuhku." Lagi-lagi Sean menyematkan kalimat mesum di akhir ucapannya.
"Kau ini... selalu saja..." Keyla dibuat menggeleng dengan sikap mesum suaminya.
"Keyla..." Panggil Sean yang membuat pandangan mereka kini bertemu. Kedua insan manusia yang sedang dilanda galau dengan perasaan masing-masing itu saling menatap dengan tatapan begitu dalam. Dan entah sejak kapan dan siapa yang memulainya, kedua bibir mereka pun sudah bertaut.
Sean semakin lincah memainkan bibir istrinya yang membuat Keyla memejamkan kedua kelopak matanya. Merasakan hangatnya ciuman yang Sean berikan.
Sean semakin merapatkan tubuh mereka. Memeluk posesif pinggang ramping istrinya dan tak lupa memberikan rangsangan-rangsangan kecil di sana. Hingga tanpa sadar Keyla pun mengeluarkan suara deshahannya yang membuat gairah Sean semakin naik.
"Kita lanjutkan di dalam kamarku saja." Ucap Sean dangan nafas memburu setelah melepaskan pangutannya.
Keyla pun hanya mengangguk tanpa bersuara. Karena ia pun sudah mulai terhanyut dalam sensasi yang Sean berikan hingga membuatnya melupakan masalahnya.
Sebelum menggendong tubuh Keyla, Sean menyempatkan lebih dulu untuk mengunci pintu ruangannya dan tak lupa mematikan akses panggilan telefonnya agar tidak ada satu pun orang yang bisa mengganggu aktifitasnya.
****
Berikan vote, komen dan likenya dulu yuk baru lanjut🙂