Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kita lakukan tes DNA


Deg


Jantung Calvin berdetak begitu cepat saat mengerti dengan jelas apa maksud ucapan Gerry.


"Aku tidak merusaknya. Namun dialah yang menyerahkan tubuhnya sendiri padaku." Ucap Calvin dengan sinis.


"Kau..." Reno hampir bangkit dari posisinya, namun Dika berhasil menahan pergerakannya.


Sedangkan Cilla yang melihat kondisi di depannya tiba-tiba saja menangis dengan keras.


"Bianca. Bawa Cilla ke kamar Calvin dan tenangkan dia." Perintah Gerry menunjuk dimana tempat kamar pribadi Calvin berada.


"Jangan sembarangan memakai ruanganku!" Seru Calvin tak terima.


"Kau boleh melarangnya jika permasalahan ini telah selesai!" Cetus William merasa geram.


"Hua..." Tangisan Cilla semakin terdengar kencang.


"Bianca..." Tekan Gerry agar Bianca mendengarkan ucapannya.


Bianca menarik nafas panjang lalu menggendong Cilla menuju ruangan yang Gerry maksud.


"Kalian terlalu mencampuri urusan pribadiku!" Amuk Calvin saat tubuh Bianca sudah menghilang dari balik pintu.


"Kami tidak mencampuri urusan pribadimu jika itu tidak termasuk dengan urusan sahabat kami!" Tekan Dika yang sudah merasa geram.


"Tenangkan diri kalian. Biar aku yang bicara di sini!" Pungkas Gerry dengan keras.


Ke empat pria itu pun terdiam.


"Calvin. Aku rasa kau bukanlah pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab." Ucap Gerry menatap Calvin dengan nyalang. Meski pun turut tersulut emosi, namun Gerry masih bisa menahannya.


"Dan aku tegaskan sekali lagi jika bukan aku yang ingin merusaknya. Namun Bianca lah yang menyerahkan tubuhnya dengan suka rela kepadaku!" Tekan Calvin tak suka merasa disudutkan.


"Apa pun namanya itu, namun tetap saja kau telah merusaknya!" Tekan Gerry kembali.


Calvin menghela nafas panjang. "Jadi apa mau kalian?" Tantang Calvin.


"Kami mau kau bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat pada Bianca."


"Pertanggung jawaban apa yang kau maksud?" Balas Calvin dengan cepat.


"Pertanggung jawaban atas anak yang kini telah lahir dari rahim Bianca."


Deg


"Kau lihat anak perempuan tadi?" Ucap William menatap nyalang pada Kakaknya. "Anak perempuan yang tidak berdosa itu adalah hasil dari perubuatan kejimu pada Bianca!" Terang William.


"Apa?!" Calvin menggebrak meja sofa di depannya. "Kau jangan bercanda!" Amuk Calvin.


"Apa aku pernah bercanda dalam bicara serius seperti saat ini?" Tantang William.


Calvin mengusap kasar wajahnya.


"Walau kau tidak menginginkan anak dari rahim Bianca karena kau tidak mencintainya, namun anak itu tetap adalah tanggung jawabmu!" Lanjut William kemudian.


"Bagaimana kau bisa yakin jika anak itu adalah anakku?!" Calvin berusaha mengeluarkan kemungkinan buruk yang terjadi


"Apa kau benar-benar pria berengsek yang tidak memiliki perasaan saat melihat wajah darah dagingmu sendiri, hem?!" Amuk William menatap nyalang kakaknya. "Apa kau benar-benar tidak memiliki ikatan batin apa pun saat melihat wajah Cilla untuk pertama kalinya setelah hampir lima tahun ia lahir ke dunia?!" Suara William semakin meninggi. Bahkan kedua matanya mulai mengembun saat membayangkan malangnya nasib keponakannya.


Calvin terdiam. Perasaan hangat yang sejak tadi ia rasakan saat melihat wajah Cilla tidak dapat ia pungkiri.


"Kau tidak perlu khawatir akan kebenarannya. Karena setelah ini kita akan melakukan tes DNA untuk membuktikan kebenarannya. Walau pun tanpa tes DNA sekali pun semua fakta sudah menunjukkan jika Cilla adalah anak kandungmu." Ucap Reno yang sejak tadi diam.


***


...Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺...


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...