Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Melanjutkan perjuangan


"Kya... Apa kau yakin dengan keputusanmu kali ini? Bukankah waktumu masih ada beberapa hari lagi?" Tanya Rania meyakinkan kembali.


"Aku sudah yakin akan keputusanku kali ini, Rania. Aku tidak mau anakku selalu berada dalam posisi bahaya jika berada dekat dengan ayahnya. Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan keadaanku yang dalam kondisi bahaya." Air mata Kyara semakin deras tatkala mengingat kembali saat Gerry sama sekali tidak memperdulikan dirinya. Bahkan pria itu lebih memilih memberi pertolongan pada kekasihnya yang kini bisa disebut sebagai selingkuhannya.


"Sudahlah, jangan diteruskan lagi jika itu menyakitkan hatimu, Kya."


Di sudut ruangan William mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan kekasih hatinya. Keberadaannya saat ini sepertinya tidak disadari oleh Kyara karna wanita itu kini hanya fokus menjatuhkan pandangan ke satu arah.


"Maaf jika mungkin hari ini sampai kedepannya aku akan lebih sering merepotkanmu, Rania." Lirih Kyara.


"Hust... Kau terlalu banyak bicara. Kau tidak pernah merepotkanku. Aku bahkan sangat senang jika direpotkan olehmu. Maka repotkanlah aku setiap harinya." Kelakar Rania.


Kyara seketika tertawa dengan air mata yang masih tersisa di sudut matanya.


"Kau ini..." Kyara memukul pelan tangan Rania.


"Sebaiknya kau istirahatlah. Supaya keadaanmu cepat membaik. Aku akan menjagamu di sini."


Kyara mengiyakan. Tubuhnya masih terasa lemas dan matanya pun sedikit berat. Rania mengelus-ngelus punggung tangan Kyara mengantarkan wanita itu untuk tidur.


Setelah memastikan Kyara sudah lelap dalam tidurnya ditandai dengan dengkuran halus yang mulai terdengar. Rania pun beranjak dari posisinya. Memberi kode pada William yang masih terdiam di sudut ruangan untuk keluar ruangan untuk mengikutinya.


Kini William dan Rania sudah berada di luar ruang inap Kyara. Kedua insan manusia itu masih nampak terdiam dengan pemikirannya masing-masing.


"Jadi kapan kalian akan pergi dari sini?" Tanya William memecahkan keheningan di antara mereka."


"Baiklah. Izinkan aku untuk mengantarkan kalian pergi. Hatiku tidak akan tenang jika kalian pergi hanya berdua. Setidaknya biarkan aku memastikan Ara selamat dan aman berada di tempat tinggalnya yang baru."


"Dia akan aman bersamaku!" Tegas Rania merasa William menyepelekan dirinya.


"Aku tahu kau pasti berusaha selalu membuat Ara aman bersamamu. Tetapi hatiku tidak akan tenang jika tidak melihatnya secara langsung." Tukas William.


"Kau sungguh menyebalkan!" Gerutu Rania yang tetap saja merasa dikecilkan.


"Jangan sampai hal ini sampai diketahui oleh Pak Gerry. Aku harap kau bisa diajak bekerja sama kali ini." Lanjutnya lagi.


"Akan ku pastikan Gerry tidak akan mengetahuinya. Walau pun dia sahabatku, aku tidak pernah membenarkan sikapnya yang sudah kelewatan batas." Ungkap William.


"Sahabatmu itu harus diberi pelajaran. Bahkan jika kau ingin berjuang mendapatkan hati Kyara, aku akan membantumu mulai saat ini. Dan aku juga akan mendukungmu. Tapi apa bila kau tidak lebih dari sahabatmu itu, aku tidak akan segan-segan untuk mencincang tubuhmu!" Ancam Rania.


William terkekeh kecil mendengar ucapan Rania. Baru kali ini wanita kecil seperti Rania berani mengancam dirinya. Namun William mengiyakan saja. Dari pada harus mendengar kembali suara cempreng Rania.


"Tapi apakah kau masih mau menerima sahabatku dengan kondisinya yang tengah hamil dan itu bukan darah dagingmu?" Tanya Rania yang melupakan sesuatu.


"Perasaanku pada Ara akan tetap sama. Aku akan belajar menerima apa saja yang ada pada dirinya. Aku bahkan tidak peduli jika harus melanjutkan perjuangan Gerry menjadi sosok ayah bagi bayi itu walau Gerry belum sama sekali berjuang untuknya." Ucap William dengan yakin.


***