
Kyara merogoh ponsel yang berada di dalam tas tas selempangnya ketika terdengan suara notifikasi pesan masuk.
"Siapa, Kya?" Tanya Rania ketika Kyara masih menatap layar ponselnya.
"William."
Rania mengangguk. "Apa katanya?"
"Ngajakin makan di warung sate Pak Ujang nih." Tunjuk Kyara melihatkan pesan William pada Rania.
"Asikk... Ayolah! Udah tiga hari kita gak makan sate di sana lagi!" Seru Rania bersemangat. "Udah nunggu di sana Pak Williamnya?" Tanya Rania ketika Kyara masih membalas pesan William.
"Belum... Dia ada di depan gerbang sekarang."
Rania mengangguk. "Kemarikan kunci motormu, Kya! Biar aku saja yang membawa motormu. Kau pergi saja bersama Pak William." Tangan Rania menengadah meminta kunci motor Kyara.
"Tapi..." Kyara nampak ragu jika harus pergi bersama William di dalam mobil yang sama. Apa lagi jika karyawan perusahaan melihatnya. Dan jangan lupakan jika Gerry juga mengetahuinya.
"Ayolah, Kya... Kau tidak perlu memikirkan suamimu itu... Dia bahkan tidak perduli dengan apa yang kau lakukan, bukan?" Tanya Rania mengingatkan. "Bahkan dia berselingkuh terang-terangan di depanmu. Kau hanya pergi bersama Pak William ke warung sate Pak Ujang. Menurutku itu tidak masalah. Lagi pula aku juga ikut." Tekan Rania.
Kyara nampak menarik nafasnya perlahan. "Baiklah." Menyerahkan kunci motornya kepada Rania. Lagi pula tubuhnya sungguh lelah hari ini. Ditambah saat ini perutnya sudah begitu lapar. Padahal ia baru satu jam yang lalu memakan burger yang dipesankan Rania dari aplikasi onlie.
"Aku tunggu di warung Pak ujang saja, ya, Kya. Kau mau memesan apa? Daging ayam, daging sapi, atau daging kambing?" Tanya Rania.
Rania sontak menepuk pelan bahu Kyara."Mana ada di sana! Kau pergi saja ke Arab sana!" Gerutu Rania membuat Kyara terkekeh.
"Daging sapi saja seperti biasanya. Emh... Dua porsi, yah!" Ucap Kyara nyengir.
Rania mengangguk-anggukkan kepala. "Ya sudah, aku berangkat dulu, yah!" Ucapnya berlalu pergi ke arah parkiran.
Tangan Kyara ikut melambai ke arah Rania yang berbalik melambaikan tangan ke arahnya. "Hati-hati..." Ucap Kyara sedikit berteriak.
Rania meyatukan jari telunjuk dan jempolnya dan mengangkat ke udara membentuk simbol OK kepada Kyara.
Kyara pun melanjutkan langkahnya keluar dari perusahaan Bagaskara menuju mobil William yang terparkir agak jauh dari gerbang. Kyara memang sudah mengirim pesan pada William untuk sedikit menjauh dari perusahaan. Karena ia tidak ingin lagi menjadi perbincangan rekan kerjanya jika mereka melihat Kyara masuk ke dalam mobil William.
"Sudah lama?" Tanya Kyara ketika baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi samping kemudi.
William menggeleng sambil tersenyum. Senyuman William begitu manis hingga berhasil menggetarkan hati Kyara. Padahal lelaki itu sudah cukup lama menunggu Kyara pulang bekerja. Namun demi menenangkan hati Kyara, William terpaksa berbohong.
Degub jantung William berdetak tak seperti biasanya. Jujur saja ia begitu gugup saat ini berdekatan dengan Kyara. Apa lagi ia berniat untuk menyatakan perasaannya pada wanita itu. William tak ingin menundanya lagi. Mengingat kedatangan keluarganya yang sudah bisa dihitung dengan jari beberapa hari lagi.
"Kemana Rania? Bukankah aku juga mengajaknya?" Tanya William basa-basi. Walau sudah seperti biasanya ia tahu jika Rania lebih memilih menggunakan motor Kyara dari pada ikut dengan mereka. Sepertinya Rania juga mendukungnya untuk dekat dengan Kyara.
***