
"Saya memakai parfum seperti yang biasanya, Nona. Dan ini tidak bau." Merry mencium baju yang dikenakannya. "Bukankah biasanya Nona menyukai bau parfum saya bukan?" Tanya Merry merasa aneh.
"Hoek." Bianca menutup mulutnya merasa bau tidak enak itu mulai membuatnya mual.
"Nona..." melihat Bianca yang mual sontak Merry semakin mendekatkan tubuhnya.
"Maaf, Merry. Tapi jangan mendekat!" pinta Bianca sambil menggeleng.
Merry semakin dibuat bingung. Dan kebingungannya itu samakin menjadi saat Bianca pergi dari hadapannya begitu saja sambil berlari. "Ada apa dengan anda, Nona? Sudah satu minggu ini sikap anda sangat aneh." Gumam Merry sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Merry pun masuk ke dalam butik untuk mengejar langkah Bianca.
"Ada apa dengan Nona Bianca, Nona Merry? Kenapa Nona Bianca terlihat aneh?" Tanya seorang karyawan pada Merry.
"Saya juga tidak tahu. Coba cium baju saja. Apa saya bau?" Merry mendekatkan tubuhnya pada lawan biacaranya.
"Tidak. Anda sangat harum seperti biasanya, Nona."
"Baiklah. Kalau begitu saya ke atas dulu menyusul Nona Bianca." Pamit Merry.
*
"Maaf Merry... tapi bisakah kau mengganti bajumu dan tidak menyemprotkan parfummu lagi." Ucap Bianca sambil menahan rasa mualnya saat Merry berada di dekatnya.
Merry memundurkan tubuhnya. Dapat ia lihat jika saat ini wajah Bianca memerah menahan rasa tidak enak di indera penciumannya.
"Baiklah, Nona. Kalau begitu saya pamit kembali ke ruangan saya dulu untuk mengganti baju." Pamit Merry.
Bianca mengangguk.
Setelah kepergian Merry, Bianca pun menyandarkan tubuh lemasnya di sandaran sofa. Setelah mencium aroma tidak enak dari aroma parfum dari tubuh Merry, membuatnya harus mengeluarkan semua sarapan yang baru saja masuk ke dalam perutnya satu jam yang lalu.
"Tubuhku sangat tidak enak." Gumam Bianca lalu menutup kedua matanya. Tangannya pun terulur mengelus perut datarnya. "Aku sungguh tak berselera makan jika seperti ini. Tapi perutku sudah kosong." Keluh Bianca.
Tak lama Merry pun telah kembali dengan pakaian barunya. "Nona Bianca... Kenapa wajah anda pucat sekali?" Raut wajah Merry berubah cemas.
"Apa aroma tubuh saya masih tidak enak, Nona?" Tanya Merry memastikan sebelum berjalan ke arah Bianca.
"Sudah. Kau tidak beraroma apa-apa." Balas Bianca apa adanya.
"Tentu saja. Karena saya tidak menyemprotkan apa pun ke pakain kerja saya sesuai keinginan Nona." Balas Merry lalu berjalan mendekat ke meja kerja Bianca.
*
"Jadi sudah beberapa minggu ini Bianca selalu diantarkan bekerja oleh suaminya?" Tanya James dengan senyuman sinis di bibirnya.
"Benar, Tuan. Tuan Calvin juga menjemput Nona Bianca setelah pulang bekerja. Dan dari informasi yang saya dapatkan, Tuan Calvin juga sudah mulai membawa istri dan anaknya untuk berjalan-jalan ke luar kota jika saat libur." Ucap Hugo.
"Ck. Ternyata pria batu itu sudah mulai melunak." Cibir James.
Hugo diam dan tak lagi bersuara.
"Apa dari informasi yang kau dapatkan pria itu sudah seperti seorang yang mencintai istrinya?" Tanya James setelah cukup lama ikut terdiam.
"Ya. Dari info yang saya dapatkan dan dari yang saya lihat sendiri sepertinya begitu, Tuan."
"Ck. Sayang sekali. Sepertinya saya sudah harus berhenti berjuang." Ucap James dengan senyum tipis di bibirnya.
***
Berikan semangat dulu dong dengan cara vote, komen dan likenya😶
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
Serpihan Cinta Nauvara (End)
Oh My Introvert Husband (End)