
William menghela nafas kasar. Jika mengingat kejadian di mall waktu itu benar-benar masih membuatnya marah. Karena kesalahpahaman itu akhirnya kini ia harus berjauhan kembali dengan istrinya yang tengah mengandung.
"Lantas untuk apa kau memperlihatkan fotoku kepada anakmu dan menperkenalkanku sebagai Daddnya?" Tanya William menahan kekesalan di hatinya.
"Aku tidak memperlihatkan fotomu. Yang aku perlihatkan adalah foto Calvin yang di foto itu memang sangat mirip denganmu." Pungkas Bianca.
William menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Jika begini aku sungguh menyesal telah memiliki wajah yang hampir sama dengannya." Dengus William.
Dika, Gerry dan Reno melipat bibirnya. "Salahkan saja kedua orang tuamu." Cibir Dika.
"Diamlah Dokter sialand!" Umpat William kesal.
Dika tersenyum kecil. "Jadi apa yang ingin kalian lakukan selanjutnya?" Tanya Dika kembali serius.
"Besok kita akan pergi ke kota C untuk menemui Calvin." Ucap Gerry dengan tegas.
"Aku setuju!" Balas Reno.
"Aku juga setuju." Balas Dika.
William pun turut menyetujui. Berbeda dengan Bianca yang nampak tertunduk lesu namun tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan ke empat pria yang memiliki kekuasaan di depannya.
*
Dan di sinilah mereka berada, di depan gedung perusahaan Arnold yang ada di kota C. Tanpa membuang waktu lama, ke empat pria diikuti seorang wanita beserta anak kecil di dalam gendongannya itu langsung saja masuk ke dalam gedung perusahaan setelah melakukan percakapan singkat dengan pihak keamanan yang ada di luar gedung.
William dengan gaya coolnya terus berjalan tanpa menghiraukan sapaan dari para karyawan Kakaknya karena saat ini ia sudah merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Calvin.
"Aku sungguh takut..." Lirih Bianca saat mereka sudah masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Apa yang kau takutkan? Kami ada di sini bersamamu!" Tekan William tak ingin Bianca terlihat lemah.
"Mom... Kenapa Daddy memarahimu?" Tanya Cilla menatap sebal pada William.
"Aku bukan—" Ucapan William melayang begitu saja di udara saat Gerry menginjak sepatunya.
"Bisakah kau jangan mengungkapkan kebenarannya sekarang!" Amuk Gerry tak ingin Cilla ketakutan.
William mendengus lalu menatap iba pada keponakannya. Andai saja aku mengetahuinya sejak lama, aku tidak akan membiarkanmu hidup selama ini tanpa sosok Daddymu. Batin William merasa bersalah.
"Aku ingin digendong Daddy, Mom!" Ucap Cilla memberontak dalam gendongan Bianca sambil mengulurkan tangan pada William
Bianca pun menurut lalu menyerahkan Cilla pada William.
"Daddy... Kau tampan sekali... Aku sangat menyayangimu..." Ucap Cilla lalu memberikan ciuman singkat di pipi William.
Sontak aksi Cilla pun berhasil membuat kedua bola mata Bianca mulai tergenang. Perasaan bersalah mulai menyeruak di dalam dadanya saat melihat betapa putri kecilnya sangat mengharapkan kehadiran sosok ayah di hidupnya.
William pun lebih dulu berjalan menuju ruangan Calvin sambil menggendong Cilla diikuti Dika, Gerry, Reno dan Bianca di belakangnya.
"Apa Calvin ada di dalam?" Tanya William pada sekretaris Calvin.
"Tuan Calvin ada di dalam, Tuan. Namun saat ini masih ada—" Ucapnnya terputus begitu saja karena William sudah lebih dulu berjalan meninggalkan mejanya masuk ke dalam ruangan Calvin.
"Ehem." Deheman William yang sudah masuk ke dalam ruangan menghentikan kegiatan wanita yang kini berdiri di samping Calvin sambil menggoda pria itu terhenti.
***
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...