
Sean mengepalkan tangannya erat. Matanya menajam menatap pada sepasang suami istri yang tengah berjalan dengan mesra ke arahnya.
"Will..." Lirih Rania merasa sesak dan juga malu karena saat ini William merengkuh pinggangnya posesif.
William menulikan telinganya. Kakinya terus berjalan ke arah Sean dan Felix dengan tatapan mematikan.
"Rania..." Panggil Sean saat Rania dan William sudah berada di dekatnya.
"Iya, Tuan." Ucap Rania dengan formal.
"Apa kau sudah membawa dokumen yang saya perintahkan kemarin?" Tanya Sean. Namun pandangan pria itu kini tengah menatap tajam pada William yang juga sedang menatap tajam padanya.
"Sudah, Tuan." Balas Rania dengan tersenyum kaku.
"Oh iya, Rania. Apa Tuan yang berada di sebelahmu ini adalah kekasih barumu?" Tanya Sean dengan nada meledek.
Kedua bola mata Rania membola. "Ti-tidak, Tuan." Jawab Rania sedikit tergagap. Menatap sebal pada Sean yang sudah bertanya tidak masuk akal.
"Lalu siapa dia kalau bukan kekasihmu?" Tanya Sean lagi.
"Di-dia—" Ucapan Rania melayang di udara sebab William sudah memotongnya.
"Saya suaminya." Tekan William.
Wajah Sean pura-pura terkejut. "Suami Rania? Agh, yang benar saja. Saya bahkan tidak pernah mendengar kabar pernikahan kalian." Cibir Sean.
"Ya. Kau memang belum mendengarnya. Namun kau akan mendengarkannya beberapa bulan lagi." Tekan William menahan gemuruh di dadanya. Pria yang berumur lebih muda darinya ini benar-benar membuatnya merasa muak.
"Beberapa bulan lagi? Kenapa harus beberapa bulan lagi? Bukankah sejak kalian menikah sudah bisa diumumkan? Lagi pula bukankah Tuan William ini cukup berpengaruh di dunia bisnis. Kabar pernikahan kalian pasti ditunggu-tunggu oleh banyak pihak. Apakah Tuan William berniat untuk menutupi pernikahan kalian karena Tuan merasa—"
"Tuan Sean. Bukankah sebentar lagi kita harus berangkat." Sela Rania saat merasa suasana diantara mereka mulai menegang.
William dan Sean saling menatap dengan tajam.
"Sudah saatnya berangkat, Tuan." Ucap Felix yang sejak tadi hanya diam menyaksikan drama orang ketiga di depannya.
Sean mendengus. Memutuskan tatapan tajamnya pada William.
"Baiklah, ayo berangkat. Oh iya Tuan William. Saya pinjam sebentar istri cantik anda untuk menemani perjalanan bisnis saya satu minggu ke depan. Lagi pula sangat disayangkan istri secantik Rania sering diabaikan."
"Kau..." Geram William.
Hati William yang memanas mulai mendingin mendapat perlakuan manis dari istrinya. "Baiklah. Hati-hatilah di jalan dan hati-hatilah dengan buaya darat yang siap memangsamu kapan saja." Tekan Willim menyindir Sean.
Rania menghela nafasnya. "Aku akan menepati janjiku. Kau tenang saja." Mengelus lengan suaminya.
"Tuan..." Tegur Felix saat melihat kedua tangan Sean mulai terkepal erat.
Sean berdecak. "Ayo cepat masukkan barang-barang ke dalam mobil!" Titah Sean pada Felix.
Felix mengangguk. Kemudian membawa beberapa barang yang dibawa dari gedung arsip itu masuk ke dalam mobil.
"Saya duluan masuk. Cepatlah selesaikan salam perpisahanmu." Bisik Sean saat melewati Rania.
Aura permusuhan Sean dan William pun mulai terlihat. William menggertakkan giginya saat Sean sudah lenyap dari pandangannya. Rania pun berpamitan kembali pada suaminya. Kemudian berjalan menuju mobil. William mengikuti langkah kaki istrinya dengan menggeret koper kecil istrinya untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
Tak lama mobil pun mulai melaju meninggalkan William yang masih berdiam di belakang kemudinya.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
^^^Vote^^^
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^