
"Aku ingin seperti teman yang lainnya, Daddy. Mereka selalu bermain bersama dengan Daddy dan Mommy mereka di depan rumah sedangkan aku tidak." Ucap Cilla lagi dengan wajah yang masih cemberut.
"Kau ingin seperti mereka?" Tanya Calvin yang diangguki cepat oleh Cilla.
"Bukankah besok adalah hari libur. Dad dan Mom tidak bekerja bukan? Kita bisa bermain di depan rumah bersama." Ide Cilla.
"Tapi—"
"Apa Daddy ingin pergi ke kota C lagi?" Wajah Cilla berubah sendu. Ia melupakan jika setiap weekend Calvin selalu pergi ke kota C untuk melihat perkembangan perusahaannya di sana.
Calvin dibuat terdiam. Melihat wajah sendu Cilla membuatnya tak tega. "Baiklah. Besok Daddy akan menemanimu bermain bersama Mommy." Putusnya.
Mendengar itu Cilla pun segera memeluk tubuh kekar Calvin yang jauh lebih besar dari tubuhhya. "Terimakasih Daddy. Aku sangat menyayangimu!" Ucapnya lalu mengecup keuda pipi Calvin bergantian.
"Daddy juga sangat menyayangimu." Balas Calvin lalu membalas ciuman putrinya di kedua pipi bulatnya.
Cilla pun kembali bermain dengan boneka barunya sambil mengajak boneka itu berbicara.
"Apa kau tahu Teddy? Mom dan Daddyku besok akan menemaniku bermain di depan rumah. Aku sangat senang sekali." Cilla memeluk erat bonekanya. Memperlihatkan betapa senangnya ia saat ini. Bukan hanya sekedar bermain di depan rumah yang membuatnya begitu senang, namun karena kali ini ia dapat merasakan bermain bersama dengan kedua orang tuanya yang belum pernah ia rasakan di waktu weekend bahkan hari-hari sebelumnya.
*
Malam itu seperti biasanya Bianca lebih dulu berada di dalam kamar Cilla menemani putrinya sampai tertidur barulah ia kembali ke kamarnya dan Calvin.
Setelah melihat Cilla mulai terlelap dalam tidurnya, Bianca tak langsung beranjak. Bianca lebih memilih menatap lama wajah putrinya yang terlihat damai dalam tidurnya.
"Daddy... Mommy... aku menyayangi kalian..." gumam Cilla di dalam tidurnya. Cilla pun semakin erat memeluk bonekanya seakan-akan tengah memeluk kedua orang tuanya.
Bianca tertegun. Ia sungguh tidak menyangka jika Cilla begitu menyayangi Daddynya walau pun Calvin pernah secara tidak langsung menolak kehadirannya.
"Untukmu putri kecil Mommy... tidak apa jika Daddymu tidak akan pernah mencintai Mommy. Tapi asalkan dia selalu mencintaimu sebagai putrinya." Gumam Bianca. "Berbahagialah selalu. Karena bahagiamu adalah bahagia Mommy." Bianca mengecup sayang kening putrinya. Lalu dengan hati-hati turun dari ranjang.
"Selamat tidur putri kecil Mommy." Ucapnya lalu mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur.
Bianca pun kemudian melangkah menuju kamarnya dan Calvin setelah keluar dari dalam kamar Cilla.
"Apa Cilla sudah tidur?" Tanya Calvin saat melihat Bianca masuk ke dalam kamarnya.
"Ya. Dia sudah tidur." Balas Bianca tanpa menatap wajah Calvin.
Calvin kemudian diam dan tak lagi bersuara. Matanya sudah kembali fokus pada layar laptop di depannya. Melihat itu Bianca pun berlalu dari hadapan pria itu. Bianca memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menggosok giginya sebelum tidur.
Sedangkan Calvin, setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup, pria itu kemudian mengangkat wajahnya. Menatap penuh arti pada pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat dimana ada Bianca di dalamnya.
***
Komen, vote dan like dulu ya baru lanjut😌
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)