
"Aku akan merahasiakan keberadaannya dari Pak Gerry sampai waktuku telah habis menjadi istrinya. Aku juga akan berjuang untuknya untuk lahir ke dunia dan mendapatkan kehidupan yang layak." Kyara memejamkan kedua kelopak matanya merasa dadanya semakin sesak.
Tangan Rania mengelus punggung Kyara berharap bisa menenangkan sahabatnya. "Kau tidak sendiri, Kya... Kita akan membesarkannya bersama-sama karena dia juga sudah aku anggap sebagai anakku." Ucap Rania menenangkan Kyara.
Air mata Kyara masih mengalir seakan tak mau berhenti. Kyara meratapi hidupnya yang begitu malang. Sudah tidak memiliki orang tua, memiliki suami yang kejam dan tidak mencintainya dan sekarang harus menerima takdir akan berstatus sebagai janda dan menjadi orangtua tunggal untuk anaknya kelak.
Tangan Rania beralih menggenggam erat tangan Kyara seolah memberi kekuatan. "Jangan menangis lagi, Kya... Ku mohon... Kau masih punya aku... Kita akan melewatinya bersama-sama..."
"Aku bingung harus kemana setelah berpisah dengan Pak Gerry dengan membawa anakku ini, Rania..." Lirih Kyara mengeluarkan sedikit beban pikirannya saat ini.
"Apa kau mau ikut denganku pulang ke kampungku, Kya?? Kebetulan usaha warung bakso ibuku lumayan ramai satu tahun belakangan dan berencana membuka beberapa cabang. Kebetulan ibu juga sudah menyuruhku untuk pulang supaya bisa membantunya mengurus warung bakso yang akan dibuka. Kau bisa membantuku di cabang yang baru nantinya sambil mengurus anakmu. Kita akan membesarkan anakmu di kampungku dengan tenang." Jelas Rania. Sebenarnya ia sudah menolak tawaran ibunya untuk mengelola warung bakso yang baru. Ia sudah merasa nyaman mencari uang sendiri walau hanya menjadi OB. Namun setelah mengetahui keadaan Kyara, Rania pun berpikir ulang untuk menyetujuinya.
Kepala Kyara yang mulanya tertunduk perlahan terangkat. "Apa tidak menyusahkanmu nantinya? Aku tidak mau menjadi beban hidupmu lagi, Rania..." Ucap Kyara agar Rania berpikir ulang atas tawarannya.
"Tidak ada kata merepotkan di dalam persahabatan, Kya. Aku bahkan senang menolongmu. Apalagi sebentar lagi aku akan memiliki ponakan. Rasanya pasti sungguh menyenangkan merawat bayi bersama." Ungkap Rania berbinar.
Kyara tersenyum. Beban hidupnya sedikit berkurang mendengar ucapan Rania. "Terimakasih sudah mau menjadi teman, sahabat dan keluarga yang sangat baik untukku, Rania..." Kyara berhambur memeluk Rania.
Rania mengangguk. Tangannya terulur membalas pelukan Kyara.
"Bagaimana kalau besok kau memeriksa kandunganmu ke dokter. Aku sudah meminta izin pada Bu Retno untuk memberimu cuti selama tiga hari kedepan."
"Baiklah, besok aku akan memeriksaka kandunganku. Apa kau tidak ikut menemaniku?"
"Tak apa... Aku hanya bercanda... Kau bisa melihat perkembangannya lain kali." Tutur Kyara lembut.
Riana mengangguk. "Ya, bahkan tidak lama lagi aku akan selalu berada di dekat keponakanku." Ucapnya senang. "Hm, Kya... Apa kau tak apa aku tinggalkan sebentar sekali lagi. Aku ingin membelikan makanan untuk kita. Kau pasti belum makan dari pagi tadi."
"Aku tidak lapar dan sungguh tak berselera, Rania." Ucapnya memelas.
"Kau harus tetap makan, Kya. Ingatlah saat ini ada nyawa yang harus kau perhatikan!" Terang Rania.
Kyara akhirnya mengangguk menyetujui. "Tidak perlu keluar. Kita bisa memesan makanan saja. Aku tidak ingin sendirian saat ini." Pinta Kyara.
"Baiklah. Kita pesan saja." Putus Rania.
*
*
*
Mohon berikan dukungan untuk semua pembaca cerita recehanku ini. Dengan cara, like, komen dan votenya. Dukungan kalian semua menjadi penyemangat tersendiri untuk aku menulis. Terimakasih.