
Brak
Suara tubuh seseorang yang terjatuh menghentikan perdebatan anak dan ibu itu.
"Rania..." Pekik William saat melihat tubuh istrinya jatuh begitu saja di atas lantai.
"Rania..." Bianca pun ikut berteriak.
"Rania... Hei... Bangunlah..." William menepuk pipi istrinya berharap bisa membangunkan wanita itu. Kepanikan melanda pria bule itu. Terlebih saat ini wajah Rania terlihat semakin pucat seakan tak teraliri darah di sana.
Beberapa orang mulai berdatangan menghampiri Rania yang jatuh pingsan.
"Minggir!" Perintah William yang terlihat kesusahan menggendong tubuh Rania sambil melewati orang-orang yang menghalangi jalannya.
William terus berjalan dengan cepat meninggalkan mall untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
"Sial...!!" Umpat William saat menyadari jika tadi ia hanya pergi berdua bersama Rania tanpa membawa Steve bersamanya. Dengan susah payah William pun membuka pintu mobil dengan masih menggendong tubuh Rania.
"Ku mohon sadarlah... Aku sangat mengkhawatirkanmu..." Pinta William pada tubuh yang terlihat lemah saat ini.
Dengan menghandalkan keahliannya dalam membawa mobil, William pun dengan mudah menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya hingga sampai di rumah sakit tempat Dika bekerja.
"Dokter... Tolong istriku..." Ucap William sedikit berteriak sambil berjalan menuju Dokter sambil menggendong tubuh Rania.
Para perawat pun nampak tergopoh-gopoh berjalan sambil mendorong brankar ke arah William.
"Ku mohon sadarkan istriku..." Pinta William saat perawat mulai mendorong brankar Rania menuju ruangan pemeriksaan.
"Rania..." Hana yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan nampak terkejut saat melihat tubuh Rania di atas brankar.
"Ada apa ini, William? Kenapa Rania tidak sadarkan diri?" Cecar Hana menatap pada William yang terlihat begitu panik.
William mengusap kasar wajahnya. "Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Ku mohon sadarkan istriku." Pinta William pada Hana.
Hana mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruangan pemeriksaan meninggalkan William yang terlihat frustasi akan keadaan istrinya.
Lima belas menit menunggu, akhirnya Hana pun keluar dari ruangan pemeriksaan. William segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri Hana.
Hana menghela nafasnya. "Saat ini keadaan Rania sudah baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggu beberap menit lagi untuk dia sadar."
"Lalu kenapa istriku bisa pingsan?" Cecar William.
"Itu karena Rania mengalami syok berat yang membuat dia tidak bisa berpikir keras hingga pingsan. Sebelumnya apa kau tahu jika akhir-akhir ini Rania mengalami stress berat?" Tanya Hana.
William nampak terkejut. "Stress berat bagaimana maksudmu?" Tanya William.
"Satu hari setelah kau berangkat keluar negeri waktu itu Rania sempat dilarikan ke rumah sakit karena mengalami keram perut. Dan keram perut itu terjadi karena Rania terlalu banyak pikiran hampir satu bulan terakhir ini." Terang Dokter Hana yang membuat William benar-benar terkejut.
"Apa?! Yang benar saja?! Jika Rania benar-benar dilarikan ke rumah sakit, lalu kenapa tidak ada satu orang pun yang memberitahukanku akan hal itu?!" Cecar William.
"Itu semua karena Rania yang memintanya. Saat itu aku ingin menghubungimu mengabarkan keadaan Rania. Namun Rania melarangku dengan alasan tidak ingin mengganggu pekerjaanmu di sana."
William mengepalkan kedua tangannya. "Pantas saja selama berada di sana hatiku selalu tidak tenang. Ternyata istriku dalam keadaan tidak baik-baik saja di sini." Geram William pada dirinya sendiri.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku juga tidak bisa melawan kehendak Rania yang tidak ingin kau mengetahui keadaannya." Terang Hana lagi.
***
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...