
"Perutku sakit sekali..." Isak Kyara di dalam pelukan Gerry.
Gerry dengan hati-hati membantu Kyara untuk berbaring kembali di atas brankar. Tak lama dokter pun masuk diikuti perawat. Dokter pun mulai memeriksa kembali kondisi Kyara.
"Pembukaannya sudah lengkap. Bayi sudah siap untuk dilahirkan." Ucap Dokter. Para perawat pun mulai membantu proses persalinan Kyara.
"Gerry... Aku sudah tidak kuat..." Ucap Kyara dengan suara begitu berat. Tulang-belulangnya terasa dicabut bersamaan saat bayinya sudah mulai memaksa untuk keluar. Rasanya sungguh menyakitkan.
"Kau harus kuat untuk anak kita... Berjuanglah agar ia segera hadir di dunia. Bukankah kau ingin membesarkannya hingga dewasa nantinya. Aku mohon berjuanglah untuknya." Ucap Gerry sembari menyeka bulir-bulir keringat di pelipis Kyara. Gerry pun tak henti membisikkan kata-kata semangat untuk istrinya. Air mata Gerry jatuh begitu saja melihat perjuangan Kyara untuk melahirkan buah hati mereka.
Dokter pun mulai mengintruksi Kyara untuk mengejan saat kepala bayi sudah mulai terlihat.
"Akh..." Dengan sekuat tenaga Kyara mengejan untuk mengeluarkan bayinya.
Gerry pun membiarkan tangannya yang saat ini dicengkram erat oleh wanita itu untuk menyalurkan kesakitannya. Bahkan tangan Gerry pun tak luput dari gigitan sang istri. Tubuh Gerry seketika melemas saat mendengar suara robekan jalan lahir agar mempermudahkan bayinya untuk keluar.
"Gerry... Aku sudah tidak kuat..." Air mata Kyara mengalir deras merasakan sakit yang teramat. "Aku sungguh tidak sanggup..."
"Aku mohon berjuanglah... Kasihani dia yang sudah terlalu lama menunggu untuk bisa melihat indahnya dunia..." Gerry pun sontak mencium kening Kyara yang membuat semangat wanita itu kembali bangkit. Kyara pun kembali mengejan sesuai intruksi dari dokter dengan sisa-sisa tenaganya.
Oek
Oek
"Selamat Nyonya Kyara. Bayi anda berjenis kelamin laki-laki. Sehat dan tidak kurang satu apa pun. Dan dia juga sangat tampan." Ucap Dokter tersenyum memperlihatkan bayi yang masih menangis itu kepada Kyara.
Kyara tersenyum seraya meneteskan air matanya melihat buah hatinya untuk pertama kalinya. Rasa sakit yang ia rasakan selama ini terbayar sudah ketika melihat bayinya lahir dengan selamat. Air mata Kyara tak hentinya mengalir. Ia sungguh merasa bahagia saat ini.
Para perawat membawa bayi Kyara untuk dibersihkan. Sedangkan dokter kembali melanjutkan pekerjaannya menjahit bagian inti Kyara yang robek saat persalinan tadi. Kyara tak merasakan sakit apa pun lagi. Rasa sakitnya tak sebanding dengan kebahagiaannya saat melihat wajah putranya.
"Terimakasih sudah melahirkannya dengan selamat. Kau wanita yang hebat..." Ucap Gerry menggenggam tangan Kyara.
Kyara hanya diam dengan deraian air mata. Namun senyuman tersemat di ujung bibirnya membalas ucapan Gerry.
Sedangkan di luar ruangan, Kakek Surya, Mama Riana, Papa Johan dan Rania nampak menunggu dengan cemas. Mereka tak hentinya berdoa untuk keselamatan Kyara dan bayinya saat persalinan. Wajah mereka nampak tegang menanti detik-detik kelahiran penerus keluarga Bagaskara itu. Namun raut ketegangan mereka itu luntur saat mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan.
"Cucu kita sudah lahir, Pah..." Mama Riana berhambur kepelukan suaminya.
"Alhamdulillah..." Gumam Rania mengucap syukur. Begitu pula dengan Kakek Surya.
Tak lama pintu ruangan pun terbuka menampilkan wajah Gerry di sana.
***