Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Aku mengizinkanmu


"William..." Kyara menahan pergelangan tangan William saat pria itu baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Ada apa, Kyara?" Tanya William dengan tatapan dinginnya. Setelah mendengarkan permintaan istrinya, William memang memilih untuk keluar dari dalam ruangan tanpa menjawab permintaan Rania. "Kau jangan memaksaku untuk mengizinkan Rania pergi dari sisiku." Ucap William dengan tegas seakan tahu apa yang ada di benak Kyara.


"Aku tidak memaksamu untuk mengizinkan Rania untuk pergi. Namun aku hanya ingin kau mempertimbangkan kembali permintaan Rania."


"Sudahlah, Kyara. Aku tidak ingin Rania pergi kemana pun tanpa diriku." Tekan William.


"Kau jangan egois, William. Apa kau akan tetap bertahan pada keputusanmu untuk tidak membiarkan Rania pergi jika hasil yang kau dapat Rania semakin tersiksa berada didekatmu." Ucap Kyara merasa berang.


"Apa maksudmu, Kyara?" William nampak luluh.


"Apa kau tidak sadar jika Rania masih berada di dekatmu namun kau belum menyelesaikan permasalahanmu akan membuat Rania terus kepikiran hingga membahayakan bayi kalian? Apa kau tidak sadar jika sakit Rania saat ini karena ulahmu hingga membuatnya kepikiran dan berakibat buruk pada kandungannya." Terang Kyara.


William terdiam.


"Biarkanlah Rania pergi untuk menenangkan pemikirannya. Biarkan dia untuk berpikir mengambil keputusan yang tepat atas permasalahan kalian saat ini." Lanjut Kyara kemudian.


William masih terdiam. Tanpa membalas perkataan Kyara, William pun segera berlalu dari ruangan istrinya.


"Semoga tidak terjadi hal buruk di dalam rumah tangga kalian." Harap Kyara menatap punggung William yang semakin menjauh dari jangkauannya.


*


Sore harinya, Rania pun sudah diperbolehkan untuk pulang setelah keadaannya berangsur membaik. Dengan melewati sedikit perdebatan dan nasihat dari Kyara, akhirnya Rania pun mau untuk pulang bersama William. Perjalanan menuju apartemen sore itu mereka lalui dengan keheningan tanpa ada perbincangan di dalamnya. William fokus pada kemudinya sedangkan Rania mengalihkan wajah ke samping sambil menatap pemandangan jalanan ibukota yang cukup padat sore itu.


Tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka pun telah sampai di gedung apartemen.


"Biarkan aku membukakan pintu untukmu." Ucap William saat Rania ingin membuka pintu mobilnya.


"Tidak perlu." Ucap Rania lalu membuka pintu mobil dan keluar.


William menghela nafasnya. William pun ikut keluar lalu mengikuti langkah Rania yang sudah lebih dulu darinya.


"Apa kau ingin makan?" Tanya William saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen.


"Aku akan makan jika aku lapar." Balas Rania dengan datar lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


Hingga malam pun tiba, Rania tak kunjung keluar dari dalam kamarnya membuat William yang sudah menyiapkan makan malam dan susu hamil untuk istrinya itu merasa cemas. Tanpa banyak berpikir, William pun segera menaiki tangga menuju kamar untuk memastikan keadaan istrinya.


Ceklek


Pintu kamar pun terbuka sebelum William sempat meraih ganggang pintu. Rania menatap William sejenak lalu melewati pria itu begitu saja. Perasaan bersalah kembali menyeruak di dalam dada William saat memperhatikan wajah istrinya yang sembab dengan mata membengkak. William yakin, jika istrinya itu menghabiskan waktu dengan menangis di dalam kamarnya.


Rania menatap banyaknya hidangan makanan yang sudah tersedia di atas meja. Dan pandangannya pun terjatuh pada segelas susu hamil yang selalu ada di samping piringnya. Mendengar langkah William sudah berada didekatnya, Rania pun segera menarik kursi dan duduk di sana.


Makan malam itu pun dilalui dalam keheningan. Karena lagi-lagi Rania tidak bersuara dan hanya fokus pada makanan di depannya.


"Jangan lupa minum susu hamilnya." Ucap William saat Rania hendak beranjak meninggalkan meja makan.


Rania mengurungkan niatnya lalu meneguk habis susu hamilnya hingga tandas.


"Aku mengizinkanmu untuk pulang ke rumah orang tuamu." Ucap William saat melihat Rania hendak meninggalkan meja makan sehingga membuat pergerakan wanita itu terhenti.


***


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...