
Semenjak hari dimana Gerry mengumumkan tentang pernikahan mereka kepada seluruh karyawannya, setiap kali Kyara datang ke perusahaan Gerry selalu disambut dengan baik oleh para resepsionis maupun karyawan lainnya. Bahkan beberapa OB yang dulu sempat membuly Kyara pun turut menundukkan pandangan mereka.
Kyara terus berjalan seraya tersenyum melewati orang-orang yang tengah keluar dari perusahaan untuk mencari tempat makan siang mereka karena saat ini adalah jam makan siang para karyawan. Hingga tibalah Kyara di dalam ruangan Gerry. Suaminya itu nampak sibuk memeriksa dokumen yang masih menumpuk di depannya.
"Gerry..." Panggil Kyara membuat Gerry menoleh.
"Iya sebentar. Aku akan segera menyelesaikannya!" Balas Gerry.
Siang itu Kyara tidak membawa Baby Rey ke perusahaan Gerry karena ada hal penting yang harus ia bahas bersama Gerry.
Lima belas menit berlalu, akhirnya Gerry pun bangkit dari kursi kebesarannya. Kemudian mendekat pada Kyara yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Sayang..." Sapa Gerry mendudukkan tubuhnya di samping Kyara. "Sepertinya kau begitu fokus membalas pesan sahabatmu." Ucap Gerry saat melihat nama Rania di pesan yang sedang Kyara ketik.
"Agh, iya. Kita makan siang lebih dulu. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucap Kyara. Kemudian mulai membuka kotak bekal yang ia bawa.
"Hal penting apa yang ingin kau tanyakan?" Ucap Gerry setelah selesai menghabiskan bekal yang Kyara bawakan.
Kyara menutup kotak bekalnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Pandangannya kini menatap Gerry dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Tadi pagi Rania menghubungiku untuk menjelaskan bagaimana acara lamarannya kemarin." Ucap Kyara mencoba memancing Gerry untuk berbicara.
Gerry berusaha untuk tenang. Sepertinya ia sudah paham arah pembicaraan istrinya. "Lalu?" Tanyanya menaikkan sebelah alis matanya.
"Semua cerita Rania awalnya membuatku bahagia saat mendengar calon suaminya itu ternyata memasuki kriteria calon suami yang Rania harapkan selama ini. Namun aku dibuat terkejut saat Rania mengatakan jika calon suaminya itu adalah orang yang sangat kita kenali." Kyara menjeda ucapannya.
"William. Bukankah kau ingin mengatakan jika sahabatku adalah calon suami sahabatmu?" Gerry menghembuskan nafas panjang.
"Kau sudah tahu. Dan kenapa kau tidak memberitahukannya kepadaku?!" Cecar Kyara memukul lengan Gerry.
"Maaf. Aku hanya ingin kau mengetahuinya langsung dari sahabatmu. Dan aku juga baru mengetahuinya dari Jimmy pagi kemarin. Aku bahkan tidak mengetahui jika William berada di negara ini saat ini." Jelas Gerry.
"Aku sungguh tidak menyangka jika Rania dan William sudah dijodohkan bahkan saat mereka belum tumbuh di rahim ibu mereka." Kyara menggeleng dengan rasa tidak percayanya.
"Namun itulah takdir. Kita tidak tahu siapakah yang akan menjadi jodoh kita nantinya." Timpal Gerry.
Kyara menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Entah mengapa hatiku berkata ada yang tidak beres dengan Rania saat ini. Bukannya Rania menyukai William? Lalu kenapa suara Rania tadi seperti keberatan akan pernikahannya? Batin Kyara bertanya-tanya.
"Kami akan bertemu malam nanti sebelum William harus kembali esok hari." Jelas Gerry.
"Kyara..." Panggil Gerry dengan nada sedikit berbeda.
Kyara menegakkan tubuhnya. "Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Kyara penasaran.
Gerry mengangguk. "Ada satu hal yang aku takutkan saat ini. Dan aku harap itu hanyalah perasaanku saja." Helaan nafas Gerry terdengar berat.
"Apa?"
"Aku hanya takut jika saat ini perasaan William tidak berubah kepadamu."
"Kau ini bicara apa? Jangan berbicara sembarangan!" Cetus Kyara.
"Aku tahu bagaimana semua sifat sahabatku. Dan aku sangat tahu jika William tidak semudah itu melupakan wanita yang dicintainya walau ia berkata sudah merelakan wanita itu tidak menjadi pendamping hidupnya."
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...