Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kontraksi palsu


"Seandainya kau pandai berenang Kya, pasti sangat mengasyikkan berada di dalam sana berdua." Cebik Rania menatap kolam renang yang terpampang di hadapan mereka. Saat ini Ia dan Kyara tengah duduk santai di tepi kolam renang sambil menikmati segelas es jeruk.


"Aku juga ingin merasakan berenang. Namun bagaimana jika aku tidak pandai. Lagi pula aku sangat takut jika tenggelam lagi seperti dulu." Sungut Kyara. Ingatannya kembali melayang pada beberapa tahun silam saat ia sedang melakukan praktek renang di sekolahnya. Karna ia tidak pandai berenang teman-temannya justru mengerjainya hingga ia tenggelam. Untung saja guru pembina olah raga mereka ada pada saat itu dan dengan cepat menolongnya naik kepermukaan.


"Padahal olah raga renang itu bagus untuk ibu hamil. Selain melancarkan sirkulasi darah juga dapat membuat tidur lebih nyenyak. Dan banyak lagi sih manfaatnya."


"Iya aku tahu. Dokter juga sangat menyarankan. Namun aku tetap saja takut." Lirih Kyara.


"Sudahlah, tak apa. Nanti kau bisa belajar berenang jika Pak Gerry sudah pulang."


"Rania..." Ucap Kyara penuh penekanan.


Rania yang tersadar akan ucapannya langsung menepuk mulutnya.


*


Malam hari pun tiba. Kyara, Rania dan Mama Riana nampak asik terlibat percakapan di halaman samping mansion sambil menikmati indahnya cahaya bulan dan bintang di malam hari. Saat tengah asik dalam percakapan, Kyara tiba-tiba meringis membuat Mama Riana dan Rania sontak melihat ke arahnya.


"Kya... Kau kenapa?" Rania nampak panik. Begitu pula Mama Riana.


"Kau kenapa sayang?"


"Emh... Kya tak apa... Sepertinya Kya ingin istirahat duluan ke kamar. Apa tak apa?" Ucap Kyara dengan menampilkan senyuman. Namun ia menahan rasa sakitnya saat ini.


"Kau yakin tak apa Kya?" Tanya Rania lagi.


Kyara mengangguk dengan yakin.


"Baiklah, ayo aku antar ke kamar." Ajak Rania sambil memegang tangan Kyara. Namun Kyara menahannya.


"Aku bisa sendiri. Kau temani saja Mama di sini."


"Kya hanya butuh istirahat saja, Mah... Kalau begitu Kya pamit masuk ke dalam kamar dulu." Jawabnya meyakinkan.


Setelah meyakinkan Mama Riana dan Rania, akhirnya Kyara pun pergi ke kamarnya menggunakan lift.


"Aku adek sudah mau keluar sayang?" Ringis Kyara mengelus perutnya. Setelah sampai di dalam kamar, Kyara pun segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kyara pun teringat dengan perkataan dokter tempo hari tentang kontraksi palsu. Dan sepertinya saat ini ia merasakannya. Karna dari sore tadi ia sudah merasakan kontraksi palsu itu. Namun karna tidak ingin membuat keluarganya panik, Kyara pun berusaha menutupinya.


Pukul dua dini hari, Kyara pun terbangun dari tidurnya ketika merasakan teramat sakit pada perutnya. Dan kali ini terasa lebih sakit dari pada tadi sore. Dengan mengumpulkan tenanganya, Kyara pun bangkit dari pembaringan berjalan tertatih keluar dari dalam kamar.


Tok


Tok


Tok


Kyara mengetuk pintu kamar Rania dengan menahan sakit di perutnya.


"Rania..." Panggil Kyara dengan lirih. Kemudian kembali mengetuk pintu kamar Rania.


Tak lama pintu pun terbuka menampilkan wajah bantal Rania yang masih mengantuk.


"Kya... Ada apa?" Tanya Rania sambil mengucek kedua matanya.


"Pe-rutku sakit..." Lirih Kyara memegang perutnya.


Sekita kedua bola mata Rania membola. Kini ia dapat melihat wajah Kyara yang sudah pucat. Bahkan pelipis wanita itu sudah basah oleh keringat.


"Oh astaga, Kya...!!" Pekik Rania. "Apa kau mau melahirkan?" Tanya Rania dengan panik.


***