
"Berhenti...!!!" Pekik Kyara berhasil menahan tubuh mungil anak itu hingga tak sampai di jalan.
"Bolaku.... Bolaku..." Bocah kecil itu memberontak di dekapan Kyara menunjuk pada jalan dimana bolanya berada.
Kyara memperhatikan bola itu yang berhenti di tengah jalan. Melirik ke kiri dan kanan. Tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Beberapa pengendara berusaha menghindari bola yang menghambat jalan mereka tanpa berniat mengambilnya.
"Tante akan mengambilkannya untukmu!" Ucap Kyara menenangkan bocah itu.
Bocah kecil itu mengangguk dan menunjuk kembali letak bolanya.
"Baik. Tante akan mengambilkannya. Kau tunggulah di sini!" Tekannya.
Setelah membimbing anak itu untuk lebih mundur dari jalan, Kyara pun berniat mengambil bola. Untung saja bola itu masuk ke dalam jalan yang sedikit rusak sehingga bola itu tidak menggelinding.
Tak jauh dari Kyara berada, seorang wanita berpakaian hitam dengan kaca mata hitamnya sedang memperhatikan gerak-geriknya nampak menyeringai melihat kesempatan yang ada di depan matanya.
"Jika aku tidak bisa memiliki Gerry, maka tak kan ada satupun wanita yang bisa memilikinya!" Bibirnya sedikit tertarik menunggu targetnya yang sedang mengambil ancang untuk melangkah ke jalan raya.
"Kyara. Aku akan mengirimmu lebih cepat untuk bertemu kedua orang tuamu di akhirat!" Ucapnya menyeringai.
Degub jantung Kyara semakin kencang saat ia sudah menginjakkan kaki di aspal jalan. Setelah memperhatikan sekitar tidak ada kendaraan yang akan lewat, Kyara pun berjalan cepat untuk mengambil bola yang masih tenang di posisinya itu.
"Inilah akibat jika kau berani menjadi benalu di hubungan aku dan Gerry!" Menginjak gas dengan kuat dan mobil pun mulai melaju kencang.
Sedangkan Kyara yang sudah berhasil mengambil bola itu hendak berbalik dan tidak menyadari jika ada mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya.
"Aaaa..." Pekik Kyara saat melihat ke arah samping sebuah mobil sudah mendekat ke arahnya.
Brak
Suara tabrakan yang cukup keras membuat orang-orang berhamburan ke arah suara. Sedangkan mobil bewarna hitam itu nampak melaju dengan kencang setelah menyelesaikan niat buruknya.
Tubuh Kyara terdorong ke tepi jalan. Keningnya terbentur cukup keras dengan aspal. Kyara memegang pelipisnya yang berdarah. Merintih kesakitan saat merasa betisnya juga terluka dan berdarah. Pandangan Kyara nampak buram karena wajahnya sudah penuh dengan darah. Kepalanya berdenyut sakit.
Kyara memperhatikan orang-orang yang berlari ke arahnya dan ke seberang jalan. Melihat orang-orang lebih banyak berlari ke arah seberang jalan membuat Kyara tersadar jika ada yang mendorongnya tadi.
Seseorang membantunya berdiri. Kyara menatap pada kerumunan orang-orang. Pandangannya jatuh pada sosok yang tengah tertelungkup di tepi jalan. Walau pun pandangannya tidak begitu jelas, namun Kyara sangat mengenal pemiliki tubuh itu.
Deg
Jantung Kyara seakan berhenti. Mulutnya menganga dengan tubuh bergetar. Kyara menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang juga berlumuran darah. Sedetik kemudian Kyara berteriak histeris ketika melihat dengan jelas jika tubuh yang terbaring itu adalah suaminya.
"Gerry...!!!" Pekik Kyara begitu keras. Dengan berjalan cepat sedikit pincang, Kyara mendekat ke tubuh yang tak berdaya itu. Kyara semakin berteriak histeris saat melihat wajah suaminya yang sudah berlumuran darah. Orang-orang yang berada di sekitarnya tak ada yang berniat membantu. Mereka seolah-olah takut akan menjadi saksi mata.
Air mata Kyara luruh lanta. Ternyata Gerry menjadikan tubuhnya sebagai tameng di saat dirinya menjadi incaran dari tabrakan maut itu.
***