
"Obat penyubur kandungan?" Ulang Kyara dengan suara yang sedikit meninggi. "Apa maksudmu Dokter Dika?" Tanya Kyara sambil menatap Dika dengan tajam.
"Emh... Itu..." Dika tersadar dari ucapannya. Jangan sampai istriku tahu tentang obat itu. Perintah Gerry di seberang telefon beberapa jam yang lalu pun seakan sirna begitu saja di dalam benaknya. Matilah aku... Batin Dika saat melihat tatapan nyalang Gerry padanya saat ini.
"Kyara... Maaf, sepertinya aku harus segera pergi karena masih ada pasien yang harus aku periksa sebentar lagi." Pamit Dika sambil menatap Gerry dengan tersenyum kaku. Dika pun segera berlalu dari hadapan Gerry dan Kyara yang saat ini tengah menatapnnya dengan pandangan berbeda.
"Sayang... Ayo lanjut jalan lagi. Jadwal pemeriksaanmu tinggal lima menit lagi." Ajak Gerry tanpa memperdulikan tatapan mematikan istrinya.
Kyara pun lebih dulu masuk ke dalam lift diikuti oleh Gerry.
Dika sialan! Dasar ember bocor! Biang masalah! Amuk batin Gerry pada sahabat bocornya.
Berjalan beriringan menuju ruangan pemeriksaan, Kyara nampak hanya diam saja dengan pandangan lurus ke depan. Melihat sikap Kyara yang mengacuhkan keberadaannya membuat Gerry merasa takut. Matilah kau Gerry... Batin Gerry sambil mengusap wajahnya kasar. Baby Rey yang berada di dalam gendongan Gerry menatap ayahnya dengan kening mengkerut. Seolah merasa aneh dengan wajah kusut ayahnya saat ini.
"Jadi obat yang saya minum beberapa bulan belakangan ini adalah obat penyubur kandungan, Dokter?" Tanya Kyara merasa terkejut saat mengetahui kondisi rahimnya sangat subur sehingga ia bisa dengan cepat hamil kembali.
"Benar, Nona." Balas Dokter wanita itu merasa bingung melihat ekspresi Kyara saat ini.
"Baiklah. Berarti saya meminum obat yang tertukar selama ini." Ucap Kyara dengan nada menyindir ke arah suaminya
Glek
Gerry meneguk salivanya dengan susah payah sebab saat ini istrinya itu terlihat marah kepadanya.
Setelah mendapatkan foto USG janinnya dan beberapa vitamin, Kyara dan Gerry pun keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Sayang..." Ucap Gerry sedikit memelas saat melihat wajah garang istrinya.
"Kau bisa menjelaskannya nanti saat di mansion." Ucap Kyara lalu berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya yang nampak frustasi karena sikapnya.
"Dika... Awas saja kau!" Geram Gerry pada sahabat embernya itu.
*
Setelah mobil sampai di depan pintu utama mansion, Kyara pun langsung turun begitu saja tanpa memperdulikan Gerry yang terus memanggil namanya.
"Oh astaga... Sepertinya dia benar-benar marah..." Decak Gerry lalu mengikuti langkah kaki istrinya.
"Mbak... Tolong pegangin Rey sebentar." Ucap Gerry pada seorang pelayan mansionnya. Karena saat ini ia memiliki misi untuk menaklukkan kemarahan istrinya
"Baik, Tuan."
Setelah memberikan Rey kepada pelayan, Gerry pun segera berjalan dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya karena Kyara sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.
"Sayang..." Panggil Gerry pada istrinya yang terlihat tengah meletakkan ponselnya di atas nakas.
Kyara mengacuhkannya. Wajahnya masih saja terlihat sangat kesal pada suaminya itu. Tanpa membalas sapaan Gerry, Kyara lebih memilih masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Dengan langkah lebar Gerry pun segera menyusul langkah kaki istrinya.
"Sayang... Apa kau marah padaku?" Tanya Gerry sambil memeluk pinggang Kyara dari belakang.
***
Vote, komen dan likenya dulu baru lanjut lagi ya😌
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)