
"Seno... Orang ini bicara apa? Jelas-jelas namamu itu Seno!" Tekan Rania menatap tajam pada pria di depannya. Akibat perdebatan mereka itu akhirnya pintu lift pun sudah tertutup kembali. "Aku sudah mengenalnya sejak dua tahun yang lalu. Dan sampai saat ini aku masih mengingat namanya adalah SENO!" Lanjutnya lagi pada pria di sebelah Seno sambil berkacak pinggang.
"Bicaralah yang sopan dengan Tuan muda Sean, Nona..." Tegur pria itu saat mendengar cara bicara Rania yang terkesan bar-bar.
"Kau ini terlalu banyak bicara!" Amuk Rania.
"Rania..." Ucap Seno mengeluarkan suaranya setelah menghela nafas panjang.
"Kenapa penampilanmu bisa berubah seperti ini? Kau terlihat lebih tampan dari yang dulu. Dan dimana kacamata tebalmu itu?" Tanya Rania menatap Seno dari atas sampai bawah dengan tatapan genitnya.
Seno yang melihat tatapan Rania pun tak dapat menahan senyumannya. "Apa aku terlihat begitu tampan saat ini?" Goda Seno tanpa menjawab pertanyaan Rania.
Rania dengan cepat mengangguk. "Kau tidak dekil seperti dulu!" Cetus Rania membuat Seno mendelik.
"Jika aku tampan seperti ini sejak dulu, apakah kau akan menerima cintaku waktu itu?" Tanya Seno.
Rania dengan cepat menggeleng. "Bukan karena kau tampan lalu aku menerimamu begitu saja. Aku akan berpikir panjang lebih dulu sebelum menerima cinta seorang pria!" Balas Rania.
Seno berdecak. "Kau selalu saja menolak cintaku." Keluh Seno.
Rania tertawa. Lalu kemudian menghentikan tawanya saat melihat wajah dingin dari pria yang masih setia berada di samping Seno.
"Sebenarnya pria ini siapa? Kenapa dia menyebutkan namamu bukan Seno?" Tanya Rania merasa sebal.
Pintu lift pun kembali terbuka.
"Ayo masuk, Tuan."
"Felix, kau masuklah lebih dulu. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan wanita ini." Ucap Seno mengibaskan tangannya di udara seolah mengusir Felix.
Pria bernama Felix itupun mengangguk.
"Apa kau mempunyai waktu untuk berbincang sebentar denganku?" Tanya Seno pada Rania saat pintu lift sudah kembali tertutup. "Kita bisa menikmati secangkir kopi di kafe yang berada di dekat apartemen ini." Tawar Seno kemudian.
"Jadi kau memalsukan namamu saat melamar pekerjaan di perusahaan Bagaskara waktu itu?" Tanya Rania merasa terkejut saat Seno menyatakan jika nama aslinya adalah Sean. "Dan kau juga merubah penampilanmu menjadi culun." Lanjutnya kemudian.
"Benar. Aku melakukan itu semua karena aku ingin menyamar agar tidak dikenali oleh orang suruhan Daddyku." Sean menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Kenapa kau harus menghindari Daddymu?" Rania nampak tak mengerti dengan penjelasan Sean.
"Dulu Daddyku memintaku untuk melanjutkan bisnisnya setelah aku tamat kuliah di luar negeri. Dan saat aku sudah kembali ke negara ini, ternyata Daddyku menagih janjinya."
"Katakan sekali lagi! Kau kuliah di luar negeri? Dan... Bisnis?" Rania menggeleng tak percaya. Dapat ia perkirakan jika Sean bukanlah orang biasa sepertinya.
"Ya. Setelah menyelesaikan studyku di sana. Aku pun kembali ke negara ini atas permintaan Mommyku yang berkata sudah sangat merindukanku. Padahal waktu itu aku ingin melanjutkan kemampuan hobiku yang ada di sana. Tapi mau tidak mau aku pun menuruti permintaan Mommy dengan berharap Daddyku sudah melupakan permintaannya kepadaku. Dan saat aku sudah berada di sini, ternyata Daddyku masih mengingatnya dan kembali memintaku untuk menggantikan posisinya di perusahaan. Karena itulah aku memilih untuk kabur dari rumah dengan menyamar sebagai Seno agar kedua orang tuaku tidak dapat menemukan keberadaanku sampai aku benar-benar siap menggantikan Daddy di perusahaan miliknya." Jelas Sean panjang lebar.
****
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...