
"Nona... anda belum menyentuh sarapan pagi anda?" Suara Merry yang terdengar cukup keras di belakang tubuhnya membuat Bianca yang sedang fokus pada pekerjaannya terhenti.
"Saya akan memakannya nanti." Balas Bainca lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Tapi anda bisa sakit jika terus melupakan sarapan pagi anda, Nona. Dan lihatlah wajah Nona sudah nampak pucat." Suara Merry mulai terdengar panik.
Bianca menghela nafasnya. Menatap pada wajah Merry yang terlihat benar-benar panik. "Kembalilah ke meja kerjamu. Saya akan memakannya sekarang juga." Balas Bianca lalu bangkit dari kursi kerjanya.
Bianca pun membuka kotak sarapannya di depan Merry agar asistennya itu tak lagi bersuara. Walau terkesan sedikit cerewet kepadanya, namun Bianca paham jika asistennya itu benar-benar perhatian padanya.
*
"Kau lihat ini Bianca? Setelan pakain kerja untuk Tuan James sudah hampir selesai." Ucap Bianca sambil menunjukkan hasil kerjanya pada Merry yang sudah mendekati sembilan puluh persen rampung.
"Anda benar-benar hebat, Nona!" Merry bertepuk tangan. Walau pun Bianca memutuskan untuk mengerjakannya seorang diri karena tak ingin menanggung resiko yang tidak diinginkan, namun Bianca benar-benar menunjukkan keahliannya dalam menjahit.
"Semoga saja hari ini saya bisa menyelesaikannya dengan baik." Ucap Bianca penuh harap.
Merry mengangguk mengaminkan. "Saya percaya Nona bisa melakukannya." Balas Merry membuat Bianca mengembangkan senyumannya.
Suara keributan yang berasal dari lantai bawah membuat percakapan Bianca dan Merry berhenti.
"Ada apa itu, Merry?" Tanya Bianca.
"Saya juga tidak tahu, Nona." Balas Merry.
Suara keributan itu pun semakin terdengar jelas.
"Lebih baik kita lihat saja ke bawah untuk memastikannya, Nona." Ajak Merry yang diangguki oleh Bianca.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa membuat perhatian seorang pegawai Bianca yang sedang turut andil dalam keributan mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Lihatlah di depan ada pria tampan yang datang mengunjungi butik kita, Nona." Balasnya sambil menunjuk dimana keberadaan seseorang itu berada.
Glek
Bianca melebarkan kedua matanya saat melihat sosok yang kini menjadi perhatian pengunjung butiknya yang terlihat sedang mencari keberadaan seseorang.
"Bukankah itu Tuan Calvin suami anda, Nona?" Tanya Merry.
"Kau benar. Dia suamiku." Balas Bianca. Dan tanpa mengucapkan apa pun lagi, Bianca pun segera berjalan ke arah Calvin berada.
"Calvin..." mendengar suara lembut wanita yang sejak tadi dicarinya membuat Calvin mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
"Bianca." Balasnya dengan nada datarnya.
"Kau sedang apa di sini?" Tanya Bianca merasa heran. Karena untuk pertama kalinya suaminya itu datang mengunjungi butiknya. Percakapan mereka pun berhasil membuat para wanita yang sedang ribut memuji ketampanan Calvin itu pun terhenti.
"Karena aku ingin menemuimu." Balas Calvin dengan singkat.
Bianca dibuat bingung. Tak ingin terlalu banyak bertanya, Bianca pun segera menarik tangan Calvin dan membawanya menuju ruang kerjanya.
Saat masuk ke dalam ruangan kerja Bianca, pandangan Calvin pun langsung tertuju pada setelan jas yang nampak terletak rapi di atas meja.
"Calvin... ada apa kau ingin menemuiku?" Tanya Bianca dengan ragu saat menatap wajah Calvin yang nampak tak bersahabat.
"Apakah aku harus memiliki alasan untuk menemui istriku sendiri?" Balas Calvin dengan datar.
Istriku?
"Tapi... tak biasanya kau datang mene—" ucapan Bianca melayang begitu saja di udara saat Calvin kembali angkat bicara.
"Aku ingin mengajakmu menjemput Cilla ke sekolahnya." Balas Calvin pada akhirnya. Dan jawabannya itu berhasil membuat Bianca menatapnya tak percaya.
***