Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Apa salahku?


Dengan kesabaran yang hanya tinggal seujung kuku, Keyla melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Sean. "Di saat seperti ini saja dia baru mengakuiku sebagai istrinya!" Gerutu Keyla sambil menghentakkan kakinya di lantai.


Saat ingin menuangkan gula ke dalam gelas, seringaian licik nampak terbit di sebelah sudut bibirnya. "Rasakan. Aku sudah melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Namun kau juga harus diberi pelajaran agar lebih memahami apa itu pernikahan." Gumam Keyla sambil mengaduk minuman di depannya.


"Kenapa kau lama sekali hanya membuatkan minuman untukku?" Cetus Sean saat Keyla sudah mendekat ke arahnya sambil membawa segelas minuman.


"Bagaimana lagi. Kau menyuruhku untuk membuatkan minuman dingin namun tidak ada minuman apa pun di dalam kulkas yang bisa aku buat. Dan hanya teh inilah yang tersisa." Balas Keyla sambil meletakkan teh es yang ia buat di atas meja.


"Kau tidak meletakkan racun di dalam gelasku bukan?" Selidik Sean sambil menatap istrinya dengan tatapan menelisik.


"Kau ternyata suami yang kejam. Sudah memerintahkan aku sesuka hatimu dan sekarang kau menuduhku yang tidak-tidak." Keyla memasang wajah sedih.


Melihat wajah sedih Keyla membuat Sean tak lagi melanjutkan ucapannya.


"Huh, cuaca hari ini panas sekali." Sean mengambil minuman yang dibuatkan oleh Keyla lalu meneguknya.


Byur...


Minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya keluar begitu saja.


"Kau meletakkan apa ke dalam minumanku, huh?" Cecar Sean sambil mengelap mulutnya dengan tisu. "Kenapa rasanya asin sekali." Gumam Sean saat rasa asin itu masih tertinggal di dalam mulutnya.


"Hanya satu sendok garam yang baik untuk membersihkan mulutmu agar tidak seenaknya memerintahkan aku." Balas Keyla dengan santai sambil menahan tawanya.


"Kau..." Geram Sean mengepalkan kedua tangannya menatap wajah menyebalkan istrinya.


"Lain kali jika kau menginginkan sesuatu, maka memintalah dengan benar. Jika kau masih bersikap seperti tadi, jangan salahkan aku jika bukan hanya garam yang masuk ke dalam mulutmu." Ucap Keyla dengan tegas.


Ck.


Dari tempatnya duduk Keyla menatap sebal pada wajah Sean yang selalu mengatakannya gadis manja walau kebenarannya memang begitu adanya.


"Walau pun aku manja, tapi aku tidak merugikan dirimu." Cetus Keyla.


"Tentu saja aku sangat merasa dirugikan karena harus menikah dengan wanita manja seperti dirimu." Ledek Sean.


"Kau..." Keyla menggeram. Bangkit dari kursi lalu mendekat pada Sean. "Berani sekali kau berkata seperti itu..." Berangnya sambil memukul wajah Sean dengan bantal sofa yang sempat ia ambil.


"Hei... Apa yang kau lakukan...!!" Sean sekuat mungkin menahan pergerakan istrinya yang terus memukulnya. Namun bukannya berhenti, Keyla justru semakin membabi buta menghajar suaminya itu.


Setelah merasa lelah dan nafas yang sudah tersengal-sengal, Keyla pun menghentikan pukulan bantalnya pada Sean. "Rasakan itu memangnya enak!" Ledeknya menatap wajah Sean yang nampak memerah.


Merasa tenggorokannya terasa kering, Keyla segera berlalu dari hadapan Sean menuju dapur karena saat ini ia sangat membutuhkan segelas air dingin yang dapat mendinginkan tenggorokan dan pemikirannya yang terasa terbakar oleh sikap suaminya.


Sedangkan Sean, pria itu nampak mengelus dadanya lalu mengusap kasar rambutnya ke belakang. "Apa salah dan dosaku sehingga aku mendapatkan istri brutal seperti dia." Ucap Sean merasa frustasi.


***


Lanjut malam ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)