
Hujan deras pagi ini menemani Rania yang sedang termenung di dalam kamarnya sambil mengelus lembut perutnya yang membuncit. Hari ini Rania memutuskan untuk tidak berjualan dan lebih memilih menghabiskan waktunya seorang diri di dalam kamarnya. Dan hari ini Rania juga membebaskan karyawannya untuk bermain sepuas mereka sebelum esok hari mereka sudah kembali berjualan.
"William... Sedang apa kau saat ini? Kenapa kau tidak membalas pesanku?" Air mata Rania kembali menetes. Tangannya pun terus membuka aplikasi pesannya berharap suaminya sudah membalas pesan yang ia kirim sejak kemarin sore. Namun sayang beribu sayang, hingga sampai pagi ini William sama sekali tidak membalas pesannya bahkan membacanya.
"Hiks... Apa dia benar-benar akan meninggalkan aku dan bayi kami?" Ucap Rania dalam tangisannya.
Kruk
Suara perutnya yang berbunyi dengan keras membuat Rania tersadar dari lamunannya.
"Apa kau sudah lapar lagi?" Tanya Rania pada janinnya. Tak ingin membuat bayinya kelaparan, Rania pun segera turun dari ranjang lalu keluar dari dalam kamarnya menuju dapur.
"Huh rasanya lapar sekali..." Gumam Rania lalu mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piring. Setelah menghabiskan satu piring nasi dengan porsi yang cukup banyak, Rania pun kembali masuk ke dalam kamarnya.
Lagi-lagi Rania kembali mengecek pesan masuk di layar ponselnya berharap jika William sudah membalas pesannya. Namun tetap saja, pesan yang dikirimnya masih saja belum dibaca oleh suaminya itu.
Hingga siang harinya, Rania pun masih larut dalam lamunannya. Merasa sudah tidak betah berada di dalam kamar, Rania pun memilih untuk keluar menuju balkon.
"Hujannya sudah berhenti." Gumam Rania menatap langit yang sudah mulai cerah dan sinar matahari yang mulai menyengat kulit.
"Huh..." Rania menghela nafas panjang. Lagi dan lagi bayangan suaminya terlintas begitu saja di depan matanya. Sikap William yang hangat dan manis satu bulan yang lalu masih tersimpan jelas di memorynya.
"Apa Rania tidak jualan hari ini?" Gumam pria itu sambil terus berjalan masuk ke dalam ruko. Untung saja ia masih menyimpan kunci cadangan untuk naik ke lantai dua yang sangat dibutuhkan jika keadaan seperti saat ini.
"Rania... Dimana dia?" Gumam pria itu terus berjalan menyusuri setiap ruangan namun tidak mendapatkan sosok istrinya dimana saja.
Pria itu tak putus asa, langkah kakinya pun terus berjalan hingga sampai di depan pintu kamar istrinya, tak membuang waktu lama dalam meragu, pria itu pun membuka pintu kamar istrinya. Dan lagi-lagi sosok yang dicarinya tak kunjung didapatkannya walau ia sudah mencarinya di dalam kamar mandi.
"Dimana Rania?" Pria itu begitu panik. Saat mengingat satu tempat yang belum ia lihat membuat pria itu segera melangkah menuju arah tempat itu berada. Namun saat sudah sampai di tempat itu, pria itu langsung tertegun saat mendengar namanya disebut.
"William... Aku sangat merindukanmu..." Lirih Rania sambil memejamkan kedua matanya erat. Meresapi setiap kehangatan yang diberikan oleh suaminya sebelum badai itu datang.
"Aku juga sangat merindukanmu..." Bisik seseorang secara tiba-tiba di daun telinganya.
"Kenapa aku seperti mendengar suara William?" Gumam Rania tanpa menatap ke arah belakangnya. "Apa aku begitu merindukan dirinya sehingga di dalam lamunanku suaranya pun ikut terdengar?" Rania tersenyum getir. Menatap langit yang cerah itu dengan mata mengembun.
***
Mana nih komen, vote dan likenya? Komen yuk masa enggak😌