
"Kemarilah, aku akan menyuapimu." Titah William meminta istrinya mendeketak ke arahnya.
Rania menurutinya. Menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan suaminya.
"Masakan buatanmu selalu membuat aku jatuh cinta." Ucap William setelah satu sendok nasi masuk ke dalam mulutnya.
Rania tersenyum karenanya. "Jika kau suka, maka habiskanlah." Balasnya.
"Aku ingin makan berdua bersamamu." Ucap William. Mengambil satu sendok nasi dan lauk pauk lalu mengarahkan sendok ke mulut Rania.
"Jika terus begini lama-lama badanku akan semakin membesar." Ucap Rania sambil mengelus perut buncitnya.
"Tak masalah. Kau bahkan semakin menggemaskan dengan tubuhmu yang semakin berisi." Ucap William.
"Apa itu benar? Apa kau tidak merasa ilfil melihat tubuhku saat ini karena banyak wanita lain yang memiliki tubuh seksi dibanding aku." Wajah Rania berubah sendu saat mengucapkannya.
"Rania... kau ini bicara apa? Di saat aku menikahimu waktu itu, dan di saat itu pulalah aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menerima keadaanmu bagaimana pun kedepannya. Sebanyak apa pun wanita seksi di luar sana, tidak akan merubah pandanganku yang selalu memuji apa adanya dirimu." Ucap William dengan tegas. Aku tahu kau pasti memikirkan kejadian tadi dan merasa rendah dengan penampilan Citra. Lanjut William dalam hati.
Rania terdiam. Pemikirannya masih saja membandingkan bentuk tubuhnya dan wanita yang berada di sekitar William. "Sudahlah... jangan terlalu banyak berpikir. Ayo kembali makan atau aku yang akan memakanmu." Ucap William dengan nada menggoda.
Rania menepuk lengan suaminya. "Dasar pria mesum!" Sungutnya yang membuat William tertawa.
Mereka pun kembali melanjutkan memakan santapan makan siang mereka sambil berbincang ringan yang membuat Rania sedikit melupakan kejadian yang baru saja ia lihat.
"William..." Suara Rania terdengar lirih saat menyebut nama suaminya.
"Ya. Ada apa sayang?" Tanya William setelah mematikan layar ponselnya.
"Apa kau bisa berjanji untuk selalu menjaga hati dan tubuhmu hanya untukku?" Tanya Rania meragu. Wajahnya kemudian tertunduk takut akan kemarahan suaminya.
Rania mengangkat wajahnya menatap pada wajah tampan suaminya.
"Apa kau merasa cemburu dengan sekretarisku, hem?" Tanya William.
Rania menggeleng. "Aku tidak cemburu. Namun aku merasa khawatir jika kau berdekatan dengannya." Balas Rania dengan jujur.
"Apa karena kejadian tadi? Kejadian itu sungguh tidak seperti yang kau pikirkan." William mulai resah melihat wajah sendu istrinya.
"Bukan hanya karena kejadian tadi. Namun aku dapat merasakan jika dia memiliki niat buruk pada pernikahan kita. Mungkin kau pikir aku bersikap kekanakan. Tapi aku tak bisa menyimpan apa yang aku rasakan seorang diri." Ucap Rania.
"Maaf untuk itu. Tapi aku tidak bisa memecatnya begitu saja sedangkan dia tidak memiliki kesalahan apa pun. Akan tidak profesional jika aku memecatnya hanya karena sebuah alasan perasaan." Tutur William dengan lembut.
"Aku paham. Tapi jika dia terbukti ingin menggodamu bagaimana? Aku bukanlah wanita yang akan diam saja jika milikku diganggu oleh orang lain. Dan aku bukanlah wanita yang mudah memaafkan sebuah penghianatan." Ucap Rania dengan serius. "Aku rasa kau cukup tahu bagaimana sikapku selama ini. Aku bahkan tidak akan segan-segan mencekik wanita itu jika dia berani bermain api denganmu." Ucap Rania lagi dengan nada sedikit mengancam.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
Serpihan Cinta Nauvara (End)
Oh My Introvert Husband (End)