Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Perpisahan


Sore itu, Rania pun kembali ke kampung halamannya dengan diantarkan sopir pribadi keluarga Bagaskara. Kyara nampak menangis tersedu-sedu di dalam pelukan suaminya. Ia sungguh tidak menyangka jika hari ini ia akan berjauhan dengan sahabat baiknya itu.


Aku pasti akan sangat merindukanmu, Rania.


Gerry mengelus punggung Kyara yang bergetar. "Tenanglah, jika ada waktu senggang kita akan mengunjungi Rania kembali." Tutur Gerry.


Mama Riana dan Papa Johan pun masuk ke dalam mansion diikuti Gerry dan Kyara. Kyara yang masih bersedih itu memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamarnya lebih dulu. Mama Riana dan Papa Johan pun dapat mengerti kesedihan menantunya saat ini.


"Jika kau ingin tinggal di kampung halaman Rania seperti dulu aku tak keberatan." Ucap Gerry saat melihat istrinya begitu bersedih. "Aku akan mengunjungimu dan Rey satu minggu sekali seperti dulu." Lanjutnya kemudian.


Kyara membalikkan tubuhnya menghadap pada Gerry. Hatinya merasa sangat bersalah karena telah mengabaikan suaminya sejak ia masuk ke dalam kamar tadi.


"Tidak... Aku hanya belum terbiasa tanpa Rania. Aku akan tetap di sini bersamamu. Aku sungguh tak ingin berjauhan lagi darimu. Aku tak ingin menjadi istri yang berdosa pada suaminya." Kyara mengikis jarak antara dirinya dan Gerry. "Maafkan aku." Ucapnya kemudian masuk ke dalam pelukan suaminya.


Tangan Gerry terulur mengelus rambut Kyara. "Aku hanya tak ingin kau terus bersedih." Ucap Gerry. "Jika ada hal yang bisa membuatmu bahagia meski aku akan berjauhan darimu aku tak masalah. Aku tak ingin kau hidup tertekan kembali." Terang Gerry.


"Aku ingin tetap berada di dekatmu." Tekan Kyara.


"Baiklah. Kalau begitu jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Aku tak ingin dikira orang menjadi suami yang menyakiti istrinya lagi." Kelakar Gerry.


Kyara menepuk dada bidang suaminya. "Kau ini..." Sungutnya.


Gerry tertawa. "Kau semakin manis akhir-akhir ini. Apa kau sudah benar-benar tergila-gila padaku, hem?" Mengangkat dagu Kyara hingga tatapan mereka beradu.


"Ish... Itu hanya perasaan kau saja!" Sangkal Kyara memalingkan wajahnya. "Kau sungguh Menyebalkan, Gerry!" Gerutunya saat tawa Gerry kembali terdengar.


"Besok pagi aku akan kembali bekerja di perusahaan." Ucap Gerry saat ia dan Kyara sudah berada di dalam kamar Baby Rey.


Kyara yang sedang mengganti baju Baby Rey pun memalingkan wajah pada Gerry sejenak. "Kenapa cepat sekali? Bukankah seharusnya dua minggu lagi?" Tanyanya dengan tangan yang masih sibuk mengganti seluruh pakaian putranya yang basah.


Kyara mengangkat tubuh putranya mendekat pada Gerry. "Tapi kau baru saja sembuh." Lirihnya merasa khawatir.


Tangan Gerry terulur mengelus kepala Kyara. Kemudian memberi perintah agar Kyara duduk di sebelahnya. "Aku sudah baik-baik saja. Aku justru lebih sakit jika membiarkan kakek terus bekerja di usianya yang tak lagi muda." Mencoba memberikan pengertian pada Kyara.


Kepala Kyara mengangguk. Ia sangat paham arti pembicaraan suaminya itu. "Berjanjilah agar kau tetap mengutamakan kesehatanmu. Ku mohon jangan terlalu lelah bekerja. Aku sungguh tak ingin melihatmu terbaring di rumah sakit kembali." Pinta Kyara.


"Akan aku usahakan, sayang." Mengecup kening Kyara dan Baby Rey secara bergantian.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺