Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kehidupan baru


"Ternyata aslinya lebih cantik dari foto yang sering ditunjukkan Rania. Sungguh beruntung Rania yang seperti itu memiliki teman cantik sepertimu." Puji Ibu Rania.


"Jadi aku tidak cantik?" Sungut Rania.


"Tentu saja kau tidak cantik. Bahkan kecantikan Ibu tidak ada sedikit pun menular padamu."


"Kenapa Ibu terlalu jujur begitu sih!" Rania mencebik.


"Karena memang seperti itu adanya. Selain tidak cantik kau juga sangat nakal!" Celetuk Ibu Rania lagi.


Rania semakin menggerutu. Sedangkan Kyara dan William tak bisa lagi menahan tawa melihat ekspresi Rania. Ayah Rania hanya menggeleng melihat tingkah istri dan anak sulungnya itu.


"Dan ini siapa? Apakah pria bule ini kekasihmu, Rania? Dia sungguh tampan!" Ibu Rania nampak menatap takjub pria tampan di depannya saat ini.


"Ibu jangan malu-maluin deh! Kaya yang baru lihat bule aja!" Cibir Rania.


Melihat anak dan ibu itu semakin ricuh, Ayah Rania pun berinisiatif untuk langsung menyuruh mereka masuk ke dalam rumah dengan alasan Kyara yang sedang hamil dan baru saja sembuh itu sudah berdiri terlalu lama.


*


"Apa tidak sebaiknya kau menginap di sini saja?" Tanya Rania yang merasa tidak enak pada William yang lebih memilih menginap di hotel malam ini.


"Aku menginap di hotel saja. Tak apa. Lagi pula aku tidak ingin jika terjadi fitnah dari orang sekitar yang melihat keberadaanku di sini." Balas William. Sedikit banyaknya William mengerti tentang adat yang masih kental di negara asal Ibunya itu.


"Apa Ara masih tidur?"


"Masih. Sepertinya dia masih sangat lelah sehingga belum bangun juga."


"Jika sebentar lagi Ara belum juga bangun. Sebaiknya bangunkan saja. Dia bahkan melewatkan makan malamnya. Tidak baik untuk anak di dalam kandungannya yang mungkin sudah kelaparan."


"Baiklah, nanti akan aku bangunkan."


"Baiklah. Terimakasih. Kau sungguh baik. Kyara sangat beruntung jika memilikimu."


"Jangan terlalu sering memujiku. Aku takut kau akan jatuh cinta padaku." Seloroh William.


Rania terkekeh. "Tidak akan..." Jawabnya. Namun dalam hatinya Rania sedikit mengagumi pria di depannya saat ini.


"Ya sudah. Aku pergi dulu."


"Hati-hati."


William mengangguk. Kemudian masuk ke dalam mobil.


Setelah melihat mobil William sudah berjalan meninggalkan perkarang rumahnya, Rania pun masuk ke dalam rumah. Di rumahnya saat ini hanya ada dirinya dan Kyara. Karena ibu dan ayahnya sudah kembali ke warung untuk melanjutkan berjualan kembali.


"Kya... Bangunlah..." Rania menggoyangkan pelan tubuh Kyara untuk membangunkan wanita itu. Setelah sebelumnya ia sudah membuatkan susu hamil untuk Kyara.


Lengungan kecil berhasil keluar dari bibir mungil Kyara merasa tidurnya sedikit terganggu.


"Kenapa kau membangunkanku, Rania? Aku masih sungguh mengantuk." Kyara kembali memejamkan matanya. Namun Rania menghalanginya dengan mengguncang kembali tubuh Kyara.


"Ada apa lagi, Rania?" Kyara merasa kesal karena matanya masih sangat berat saat ini.


"Hei, bangunlah... Kau sudah melewatkan jam makan malammu. Apa kau lupa jika saat ini kau sedang mengandung? Mungkin bayimu sudah sangat kelaparan di dalam sana dan mengutuk dirimu yang lebih memilih tidur dibandingkan memberinya makan!" Cecar Rania.


Ucapan Rania seketika berhasil membuat Kyara bangkit dari tidurnya. "Huh, cerewet sekali... Baiklah aku akan makan." Ucap Kyara turun dari ranjang.


***