Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Jangan menyesalinya


"Pergilah. Namun aku tidak akan menerima surat pengunduran dirimu. Kau boleh kembali bekerja di sini jika permasalahanmu telah selesai." Ucap Sean sambil menyodorkan kembali surat pengunduran diri yang diberikan Rania.


"Sean... Jangan memberatkanku seperti ini." Lirih Rania.


"Aku tidak memberatkanmu. Namun kau jangan lupa jika kau sudah terikat kontrak kerja padaku selama satu tahun. Dan kau pasti masih mengingat konsekuensi apa yang akan kau terima jika mengundurkan diri begitu saja." Ucap Sean dengan tegas.


Rania menghela nafasnya. Ia benar-benar melupakannya. "Baiklah. Maaf jika aku bersikap tidak profesional." Ucap Rania merasa tidak enak. "Dan terimakasih atas segala kebaikanmu selama ini kepadaku."


"Tak masalah. Untung saja aku masih mencintaimu jadi aku akan selalu memaafkanmu." Seloroh Sean yang sudah kembali bersikap biasa saja.


"Sean... Kau jangan seperti itu. Ingatlah jika sebentar lagi kau akan menikah!" Tekan Rania merasa jengah dengan sikap Sean.


"Kau jangan mengingatkannya. Aku sungguh malas jika mengingatnya." Ucap Sean.


Rania tertawa. "Jangan bersikap buruk pada calon istrimu jika dia sudah menjadi istrimu. Atau kau akan menyesal jika dia telah pergi darimu." Pesan Rania yang berhasil membuat Sean terdiam.


Aku bahkan berniat meninggalkannya jika keinginan orang tuaku sudah terwujud. Batin Sean.


"Dan sebaiknya kau hapuslah semua rencana jahatmu itu sebelum kau benar-benar akan menyesal!" Pesan Rania Lagi seolah mengetahui isi pemikiran Sean.


"Kau itu peramal, ya? Kenapa kau seolah-olah sudah mengetahui isi pemikiranku." Seloroh Sean lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Rania tersenyum sinis. "Tentu saja. Karena aku sudah cukup mahir dalam menebak isi pemikiran pria yang tidak pernah menghargai perasaan wanita sedangkan mereka lupa jika Ibu mereka sendiri adalah seorang wanita." Ucap Rania seolah-olah meluapkan kekesalannya.


Sean terdiam.


"Sudahlah. Kalau begitu aku izin pamit karena dua jam lagi aku akan berangkat ke kampung halamanku." Ucap Rania lalu mengambil kembali surat pengunduran dirinya.


"Dan aku pesankan kepadamu untuk mengingat segala ucapanku sebelum kau menyesalinya." Tekan Rania lalu segera keluar dari dalam ruangan Sean.


*


Dua buah koper berukuran besar nampak sudah tergeletak di lantai ruang tamu apartemen. William yang baru saja masuk ke dalam apartemennya dibuat terkejut melihat banyaknya barang yang akan dibawa oleh Rania.


"Rania... Kenapa kau membawa barang sebanyak ini?" Tanya William pada Rania yang baru saja keluar dari dalam dapur.


"Aku membawanya karena aku membutuhkannya." Ucap Rania apa adanya.


Kedatangan Gerry, Kyara dan Baby Rey yang masuk ke dalam apartemen mereka memutuskan tatapan Rania pada suaminya.


"Ehe..." Baby Rey yang berada dalam gendongan Gerry seketika tertawa saat melihat wajah Rania. Tangannya pun nampak terulur meminta digendong oleh Rania.


Melihat tingkah Baby Rey membuat Rania mengembangkan senyumannya lalu berjalan mendekati bayi tampan itu.


"Kemarikan. Aku ingin menggendongnya sebentar." Ucap Rania meminta pada Gerry.


Gerry pun menyerahkan Baby Rey pada Rania. "Jangan terlalu lama menggendongnya. Ingat kau sedang hamil." Pesan Gerry pada Rania.


"Baiklah." Ucap Rania tersenyum.


"Apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya Gerry saat melihat jam di pergelangan tangannya.


"Ya. Sepertinya sudah saatnya untuk berangkat." Ucap Rania lalu berdiri dari duduknya.


Sebelumnya Rania dan William sudah bersepakat untuk mengantarkan kepulangan Rania bersama Gerry dan Kyara. Karena Rania tidak ingin Ibunya akan curiga akan kepulangannya secara tiba-tiba dan membuat kedua orang tuanya kepikiran akan permasalahan rumah tangganya.


***


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...