
"Apa maksud ucapanmu, Rania?" Tanya Sean dengan kening mengkerut. Dan lagi, kebingungannya itu melayang begitu saja saat Tuan Dante sudah masuk ke dalam ruangan rapat di dampingi Felix.
"Selamat datang di perusahaan kami, Tuan Dante." Ucap Sean dengan ramah pada rekan bisnisnya.
Tuan Dante mengangguk seraya mengucapkan permintaan maaf atas keterlambatan mereka.
Setelah mengarahkan tempat duduk untuk Tuan Dante beserta sekretarisnya yang turut hadir dalam pertemuan mereka, Felix pun mengambil posisi untuk memulai rapat pagi itu.
Dan saat Sean mulai memaparkan poin-poin penting dari power point yang telah ia buat, pandangan Tuan Dante pun tertuju pada leher Sean yang membuat Tuan Dante menahan tawanya.
Sean yang menyalah artikan tawaan Tuan Dante itu nampak kesal karena mengira Tuan Dante tidak menghargai presentasinya saat ini. Sean pun terus melanjutkan presentasinya dengan menahan kekesalannya yang sudah di ubun-ubun.
Hingga akhirnya rapat hari itu pun berakhir dengan hasil kelanjutan kerja sama kedua perusahaan mereka.
"Ehm." Sean pun berdehem hingga pandangan semua orang yang berada di dalam ruangan kini tertuju ke arahnya.
"Ternyata Nona Keyla yang saya kenal lugu itu cukup ganas juga bila berada di atas ranjang." Ucap Tuan Dante dengan frontal karena saat ini mereka sudah selesai melakukan rapat dan hanya sedang menikmati hidangan yang disajikan.
Sean yang mendengar nama istrinya disebut itu pun sontak menatap dengan tajam pada Tuan Dante.
"Apa maksud ucapan anda Tuan?" Tanya Sean semakin kesal.
"Sepertinya tanpa saya jelaskan anda sudah cukup paham ucapan saya dengan melihat bekas percintaan anda dan Nona Keyla di leher anda saat ini." Ucap Tuan Dante lalu tertawa kecil.
Sean yang mengerti arah pembicaraan Tuan Dante pun segera meminta ponselnya pada Felix. Dan saat sudah mengarahkan kamera ke arah lehernya, Sean dibuat terbelalak saat melihat banyaknya bekas kecuphan Keyla yang tertinggal di lehernya. Wajah putih Sean pun nampak memerah membayangkan betapa istrinya tak kalah ganas darinya tadi malam.
Keyla... Kau benar-benar tidak bisa meninggalkan jejak di tempat yang tidak seharusnya orang bisa melihatnya. Gerutu Sean dalam hati pada istrinya.
Mendengar hampir semua orang kini tengah menertawakannya, Sean pun kembali berdehem. "Istriku memang benar-benar hebat untuk menjagaku agar tidak terlirik oleh wanita lain. Maka dari itu istriku membuat jejak kepemilikan yang cukup banyak di leherku hingga wanita mana pun sadar jika aku telah ada yang memiliki. Dan aku tidak akan tergoda oleh wanita mana pun selain istriku." Sean berkata dengan bangga atas mahakarya istrinya.
Anda benar-benar dibutakan oleh cinta hingga hilang rasa malu, Tuan. Batin Felix.
Kau benar-benar gila, Sean. Batin Rania tak habis pikir.
Tuan Dante yang mendengar ucapan Sean tak dapat menahan tawanya hingga suara tawanya terdengar menggelegar hingga ke sudut ruangan.
Prok
Prok
Prok
Tuan Dante memberikan tepukan tangan pada Sean di akhir tawanya.
"Saya cukup salut pada anda yang begitu bangga atas apa yang istri anda lakukan. Tapi mungkin ada baiknya jika jejak itu ditinggalkan di tempat lain sehingga seorang pria single seperti saya saat ini tidak merasa iri dan ingin segera memiliki seorang pendamping seperti anda." Ucap Tuan Dante sambil berkeluh kesah.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
Serpihan Cinta Nauvara (End)
Oh My Introvert Husband (End)