
"Rania..." William mendekat dengan raut wajah cemas.
"Jangan mendekat!" Pekik Rania namun masih tetap memegang perutnya yang sakit. "Agh... Sakit..." Rintih Rania mencengkram baju pasien yang dikenakannya.
"Saya mohon keluarlah lebih dulu. Saya akan memeriksa keadaan Rania. Jangan membuatnya bertambah stress." Ucap Hana dengan formal.
"Ke-keluar..." Rania masih saja berupaya mengusir suaminya disela kesakitannya.
William menghela nafas panjang. Dan mau tidak mau ia pun keluar dari ruangan karena tak ingin keadaan istrinya semakin memburuk.
"Ada apa dengan Rania, Will?" Tanya Dika yang sejak tadi sudah menunggu di luar ruangan.
"Rania sudah mengetahui semuanya." Resah William mengusap wajahnya kasar.
"Apa maksudmu?" Dika masih tidak mengerti.
William pun mulai menceritakan kejadian di mall sebelum Rania jatuh pingsan.
"Apa?!" Dika terbelalak. "Bagaimana bisa Bianca sudah berada kembali ke negara ini sedangkan kau tidak mengetahuinya?! Kau benar-benar ceroboh, Will!" Cecar Dika menggelengkan kepalanya.
William memijit kepalanya yang terasa sakit. "Aku harus bagaimana saat ini." Lirihnya nampak putus asa. "Bagaimana jika anak itu benar-benar anakku dan Rania mengambil keputusan untuk meninggalkanku dengan membawa anakku bersamanya." Resah William.
"Kau belum juga mau mengakui jika anak itu adalah darah dagingmu?!" Dika nampak mengeram. Ia sungguh tidak habis pikir dengan jalan pemikiran sahabatnya saat ini.
"Aku bukan tidak mau mengakuinya. Namun, jika dia benar-benar anakku. Lalu kenapa aku tidak merasakan getaran sama sekali saat aku bertemu dengannya tadi. Aku rasa kau cukup paham dengan ikatan batin ayah dan anaknya. Dan itu tidak aku rasakan sama sekali saat berada di dekat anak itu."
*
Tiga jam sudah Rania terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri di atas brankar rumah sakit setelah kembali merasakan keram pada perutnya.
"Bagaimana keadaan Rania saat ini, Hana? Kenapa dia belum juga sadar?" Kyara nampak menangis. Ia sungguh mengkhawatirkan keadaan sahabat baiknya saat ini. Terlebih Kyara mengetahui alasan apa yang membuat Rania terbaring lemah seperti ini.
"Tenanglah, Kya. Rania hanya tertidur karena pengaruh obat yang tadi sempat diminumnya." Balas Hana mencoba menenangkan Kyara yang terus menangis.
"Kenapa ini semua terjadi padamu, Rania..." Kyara semakin menangis tersedu-sedu. Ia dapat merasakan dengan jelas bagaimana rasa sakitnya Rania saat ini saat mengetahui kenyataan pahit jika pria yang sejak lama dicintainya sudah memiliki anak dengan wanita lain.
"Kyara..." Lirih Rania saat sudah membuka kedua kelopak matanya dan melihat keberadaan Kyara disisinya.
"Rania... Kau sudah bangun?" Kyara bangkit. Menatap sendu pada wajah sahabatnya yang terlihat pucat.
"Kyara... Hiks..." Rania menangis. Ingatan tentang pengkhianatan suaminya kembali teringat jelas di benaknya.
"Aku ingin pulang, Kya..." Ucap Rania disela tangisannya.
"Apa maksudmu, Rania?" Tanya Kyara melepas pelukannya.
"Aku ingin kembali ke tempat seharusnya aku berada. Aku ingin pulang ke rumah Ibu." Ucap Rania memperjelas ucapannya.
"Rania... Jangan seperti ini..." Kyara menggeleng. Ia benar-benar tidak setuju dengan permintaan sahabatnya.
"Tolong panggilkan suamiku, Hana..." Pinta Rania pada Hana yang masih terdiam di tempatnya tanpa memperdulikan lagi ucapan Kyara.
Hana mengangguk lalu keluar dari dalam ruangan. Tak lama pintu pun kembali terbuka dan menampakkan tubuh William di sana.
"Jangan mendekat!" Perintah Rania memalingkan wajah saat mendengar langkah kaki suaminya mendekat ke arahnya.
William menghentikan langkahnya. Kyara pun beranjak dari sisi ranjang memberi ruang pada Rania dan William untuk berbicara.
"Aku ingin pulang." Ucap Rania memecahkan keheningan diantara mereka.
"Kau ingin pulang ke apartemen?" Tanya William memperjelas ucapan Rania.
"Tidak. Aku ingin pulang ke rumah ayah dan ibuku. Saat ini tugasmu sudah selesai. Cerita kita telah usai. Dan aku mohon tolong kembalikan lagi aku pada ayah dan ibuku." Pinta Rania tanpa menatap pada wajah suaminya.
***
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...