Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sangat panik


"Ada orang yang hampir tertabrak di depan sana!"


Sayup-sayup Rania dapat mendengar ucapan beberapa orang. Kemudian pandanga. Rania beralih pada kerumunan orang di tengah jalan. Firasatnya mulai tak enak. Rania berlari menuju kerumunan orang dengan masih memegang makanan pesanan Kyara.


Makanan itu terlepas begitu saja saat Rania sudah berhasil menerobos keramaian dan melihat siapakah gerangan yang hampir tertabrak itu. Tungkainya terasa lemas saat melihat jika sosok sahabatnyalah yang nyaris tertabrak. Tubuh itu kini sedang dipangku oleh orang yang sangat dikenalinya. Gerry. Ya, pria yang telah menyelamatkan nyawa Kyara itu adalah Gerry.


"Kyara...!!" Rania menangis tersedu-sedu melihat Kyara yang kini memejamkan mata.


"Kau urus orang itu! Saya akan membawa Kyara ke rumah sakit!" Titah Gerry pada Asisten Jimmy.


Gerry dengan hati-hati menggendong tubuh Kyara. Ia sangat takut jika sesuatu yang buruk menimpa anaknya di dalam sana. Apa lagi Kyara yang saat ini tengah pingsan.


Rania mengekori Gerry dari belakang sambil menjinjing sendal Kyara. Tangisannya belum surut. Tubuhnya masih diselimuti kekhawatiran. Ia tidak ingin menanyakan bagaimana bisa Gerry berada di sana. Menurutnya yang terpenting saat ini adalah keselamatan Kyara.


Gerry membaringkan tubuh Kyara di dalam mobil. Rania menjadikan pahanya untuk memangku kepala Kyara.


"Sudah ku katakan jangan pergi kemana-mana. Kenapa kau tidak menuruti perintahku... Huu..." Rania kembali menangis tersedu-sedu.


Gerry menjalankan mobilnya menembus keramaian. Sesekali pandangannya melirik ke arah belakang melihat Kyara yang belum juga sadarkan diri. Sampainya di rumah sakit yang tidak terlalu besar, Gerry memekik memanggil nama Dokter. Dokter dan beberapa perawat nampak berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya.


"Cepat periksa istri saya!" Perintahnya masih menggendong tubuh Kyara.


Dengan hati-hati Gerry membaringkan tubuh Kyara di atas brankar. Para perawat pun mendorong tubuh Kyara ke dalam ruangan pemeriksaan. Dari kejauhan Rania dapat melihat kekhawatiran Gerry pada Kyara.


Gerry berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan pemeriksaan. Sedangkan Rania duduk di kursi tunggu sambil menangis. Ia hanya bisa memanjatkan doa agar sahabatnya itu baik-baik saja.


*


Gerry melangkah dengan ragu ke arah brankar Kyara. Kakinya nampak bergetar saat sudah berada dekat dengan tubuh Kyara yang masih nyaman dalam tidurnya. Pandangannya kini tertuju pada perut Kyara yang membuncit.


Untung saja kondisi kandungan Kyara tidak bermasalah. Kyara hanya begitu syok yang menyebabkan tubuhnya melemah dan akhirnya jatuh pingsan. Entah dorongan dari mana, tangan Gerry kini terulur memegang perut buncit itu.


Dug


Satu tendangan dari dalam perut Kyara membuat Gerry terlonjak. Bibirnya nampak tertarik ke samping melihat respon dari bayinya.


"Ini Papa..." Bisik Gerry mendekatkan telinganya ke perut Kyara.


Lagi-lagi satu tendangan lolos dari dalam perut Kyara. Sepertinya bayinya itu mengetahui saat ini ia berada di dekat ayahnya. Mata Gerry mulai berkaca-kaca. Ia masih tidak menyangka jika sebentar lagi ada nyawa yang akan hadir yang harus ia jaga dengan baik.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka menampilkan wajah Rania di sana.


"Apa Kyara belum juga bangun?" Tanya Rania. Mata wanita itu masih terlihat sembab akibat terlalu lama menangis.


Gerry menggeleng. Lalu kembali menatap pada wajah Kyara yang terlihat damai dalam tidurnya.


"Sebaiknya Bapak keluar dulu. Jangan sampai saat bangun nanti Kyara justru pingsan lagi saat melihat wajah Bapak. Bapak pasti mengerti ucapan saya."