
Sore hari, kediaman rumah Rania sudah kembali sepi karena keluarga William dan juga saudara Ibu dan ayah Rania sudah banyak yang berpamitan untuk pulang. Di belakang rumahnya Rania nampak membantu mencuci piring bekas acara lamaran tadi.
Pakaian Rania pun sudah berganti menjadi pakaian rumahan. Setelah acara selesai, wajah Rania yang biasanya ceria itu nampak murung. Entah hal apa yang membuat wanita itu terlihat begitu bersedih.
"Rania... Lihatlah air keranmu belum dimatikan!" Seru Tini membuyarkan lamunan Rania.
"Oh astaga..." Rania buru-buru menjangkau keran airnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Rania? Lihatlah kau hampir membuat dapur Bibi menjadi banjir!" Seru Tini.
"Ah... Sudahlah... Kau ini terlalu membesarkan. Toh dapur ibuku hanya sedikit tergenang." Balas Rania dengan santai.
"Hish... Kau ini!" Sungut Tini.
"Kau pasti sangat senang saat mengetahui jika calon suamimu itu adalah anak sultan dan berwajah tampan!" Seru Tini membayangkan betapa tampannya wajah William.
Rania terdiam. Jika dulu ia sangat mengimpikan jika William bisa menjadi pendamping hidupnya, namun berbeda dengan saat ini. Apalagi Rania mengetahui bagaimana perasaan pria itu terhadap sahabat baiknya yang mungkin sampai saat ini belum hilang sepenuhnya.
"Benar begitu kan Rania?" Tanya Tini lagi karena Rania tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Diamlah. Kau sunggu mengganggu konsentrasiku bekerja!" Seru Rania kembali fokus pada piring kotor di tangannya.
"Kau itu sungguh aneh sekali." Gumam Tini merasa bingung karena wajah Rania tidak menunjukkan kebahagiaan sedikitpun.
*
"Sayang... Kyara..." Suara Gerry terdengar memanggil-manggil nama Kyara saat tak kunjung mendapatkan keberadaan Kyara di dalam kamarnya.
Ceklek
Pintu kamar pun terbuka menampilkan wajah Kyara dan Baby Rey di sana.
"Kau dari mana saja? Bukankah tadi aku memintamu untuk memasangkan dasiku setelah aku mandi?" Seru Gerry seperti anak kecil kehilangan ibunya.
Kyara bersungut. "Aku hanya pergi sebentar mengambilkan cemilan untu Rey." Ucap Kyara. Meletakkan Baby Rey di atas karpet bersama cemilannya.
"Pakailah bajumu. Setelah itu aku akan memakaikan dasi untukmu." Perintah Kyara karena Gerry masih mengenakan selembar handuk melilit pinggangnya.
Gerry mengangguk dan segera mengenakan pakaiannya di dalam walk in closet.
"Semakin hari sikapnya semakin manja saja..." Guman Kyara dengan menggelengkan kepalanya.
Kyara pun dengan cepat memasangkan dasi untuk Gerry. Sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi memakaikan dasi untuk suaminya itu.
"Sayang... Jangan lupa antarkan makan siang untukku nanti!" Pinta Gerry.
"Baiklah. Apa kau akan langsung berangkat?" Tanya Kyara.
Gerry dengan cepat mengangguk.
"Tapi... Kau bahkan belum memakan sarapanmu."
"Aku akan memakannya di perusahaan nanti. Sekarang tolong kau bungkuskan saja sarapan itu di kotak bekal!" Perintah Gerry.
Kyara pun mengangguk dan buru-buru keluar dari dalam kamar setelah lebih dulu mengambil Baby Rey yang masih bermain di atas karpet.
"Sayang... Ayo cepat! Aku sudah sangat terlambat ini!" Seru Gerry saat Kyara masih sibuk memasukkan beberapa jenis buah-buahan ke dalam kotak bekalnya.
"Ini... Sudah siap..." Kyara mengambil Baby Rey dari tangan pelayan kemudian berjalan mendekat ke arah Gerry.
"Terimakasih, sayang. Aku harus segera berangkat." Ucap Gerry kemudian mencium singkat kening Kyara kemudian Baby Rey.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...