
Rania mengerjapkan matanya secara perlahan saat cahaya lampu mulai menyorot masuk ke dalam matanya. "Aku ada dimana?" Gumamnya memperhatikan ruangan sekitar yang didominasi warna putrih.
"Rania... Kau sudah bangun..." Ucap Hana yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Hana?" Rania nampak terkejut. Kemudian matanya mengedar saat menyadari jika saat ini ia berada di rumah sakit.
"Rania..." Ucap Hana lagi yang sudah berada di samping ranjang.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" Gumam Rania sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Bayangan akan kejadian sebelum ia tak sadarkan diri pun mulai melintas di benaknya.
Rania terdiam. Ekor matanya melirik ke arah samping saat merasa matanya mulai tergenang. Ketakutan yang melanda hatinya selama satu bulan terakhir akhirnya terjadi sudah.
"Rania... Kau menangis?" Tanya Hana merasa terkejut saat mendengar isakan kecil dari bibir Rania.
"Hana..." Rania tak dapat menahan isakan tangisannya.
"Iya, Rania... Ada apa denganmu?" Tanya Hana begitu panik.
"Hiks... Hiks..." Rania tak dapat berkata-kata. Isakan tangisannya menghambat bibirnya untuk mengeluarkan suara.
Tuhan... Aku sungguh tidak menyangka jika aku menikah dengan pria yang masa lalunya belum selesai. Rania terisak dalam diam. Berbagai pertanyaan yang memenuhi pemikirannya mulai terjawab sudah.
"Rania... Kenapa kau menangis?" Tanya Hana lagi saat pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Rania.
"Hatiku sungguh sakit, Hana..." Ucap Rania disela tangisannya.
"Apa maksudmu, Rania?" Tanya Hana menatap kasihan pada wajah Rania yang sudah basah.
"William dia..." Rania tak dapat melanjutkan ucapnnya. Mengungkapkan kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui benar-benar membuat hatinya terluka. Rania pun teringat pada saat ia melakukan pencarian tentang biodata Bianca. Dan saat itu Rania tidak sengaja mendapatkan foto Bianca sedang berfoto mesra dengan pria yang Rania yakini adalah suaminya, William.
Dan hal itu pulalah yang membuat hati Rania semakin bertanya-tanya apakah William adalah ayah dari gadis kecil yang pernah ia temui bernama Cilla. Namun tanpa ia bertanya pun, semua orang pasti mengakui jika William adalah ayah dari gadis kecil itu melihat betapa miripnya wajah mereka.
"William kenapa Rania?" Tanya Hana begitu cemas. Sebab tangisan Rania semakin terdengar menyayat hati.
"William memiliki anak dari perempuan lain." Ucap Rania semakin pilu.
"Apa?!" Hana begitu terkejut. Kedua bola matanya nyaris keluar dari dalam wadahnya saat mengetahui rahasia besar dari suami teman baiknya.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok William di sana.
Mendengar suara yang sudah menyakiti hatinya membuat Rania menatap ke arah sumber suara dengan tatapan tajam.
"Pergi... Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Usir Rania dengan suara sedikit meninggi.
"Rania... Kenapa kau mengusirku?" Tanya Willam sambil mendekatkan langkahnya pada Rania.
"Kau masih bertanya kenapa aku mengusirmu? Harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri dosa besar apa yang telah kau perbuat sebelum menikahiku!" Jerit Rania menatap nyalang pada suaminya.
Deg
Detak jantung William semakin berdetak dengan kencang saat sudah memahami arah pembicaraan istrinya.
"Kenapa kau menikahiku sedangkan kau sudah memiliki anak dari wanita lain?!" Rania semakin menjerit histeris.
"Rania... Tenanglah... Ingat kandunganmu saat ini..." Hana mencoba menghentikan amukan Rania. Walau pun ia belum benar-benar memahami akar permasalahan rumah tangga teman baiknya itu.
"Rania... Kau jangan salah pa—"
"Aku bilang pergi!!" Jerit Rania lagi semakin kuat. Namun jeritan Rania itu tiba-tiba berganti dengan suara ringisan saat Rania merasakan sakit yang teramat pada perutnya.
***
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...