
"Dan akhirnya usaha kau berakhir sia-sia?" Tebak Rania.
"Setelah kau mengundurkan diri waktu itu, tidak lama setelah itu orang-orang suruhan Daddy ku pun menemukanku dan membawaku dengan paksa ke mansion."
Rania mengangguk-ngangguk. "Lantas ada urusan apa kau di apartemen tadi?" Tanya Rania.
"Aku tinggal di salah satu unit di apartemen itu karena aku memilih untuk tidak tinggal di mansion utama." Jawab Sean. "Lalu kau?" Tanyanya kembali.
"A-Aku juga tinggal di salah satu unit di sana." Jawab Rania sedikit ragu.
Sebelah alis tebal Sean tertarik ke atas. "Kau memiliki salah satu unit apartemen?" Tanya Sean memastikan kembali.
"Tidak. Aku hanya tinggal di sana bersama sepupuku. Dan apartemen itu milik sepupuku." Jawab Rania. Tidak mungkin aku mengatakan jika apartemen itu milik suamiku. Bisa-bisa Sean tidak percaya. Lanjut batin Rania.
Dengan ragu Sean pun mengangguk. "Mulai saat ini kau bisa memanggil namaku dengan Sean. Karena Mommyku cukup marah saat mengetahui aku mengubah namaku waktu itu."
"Baiklah, Sean." Rania tersenyum. Sebenarnya aku cukup geli saat mengubah namanya. Lebih bagus SENO. Lanjut batinnya.
"Oh iya, Rania. Sekarang kau sedang apa berada di kota ini? Apa kau bekerja di sini? Bukankah waktu itu kau berkata untuk pulang ke kampung halamanmu." Tanya Sean merasa bingung.
Rania nampak berpikir. Tangannya mengetuk meja beberapa kali untuk memikirkan jawaban yang tepat. "Setelah berpikir panjang dan atas permintaan Ibu, aku memutuskan untuk kembali ke kota ini agar aku bisa lebih leluasa memantau Bibi adikku di sini." Jawab Rania berbohong.
"Lalu kenapa kau tidak tinggal di kontrakan lamamu saja bersama adikmu dan malah memilih tinggal di apartemen bersama sepupumu?" Tanya Sean lagi.
"Agh, itu. Karena Bibi ada pekerjaan di luar kota saat ini, jadi aku memilih untuk tinggal beraama sepupuku." Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Besok aku harus mengikuti kelas belajar untuk berbohong! Jadi aku tidak kesulitan menjawab jika keadaan genting seperti ini. Gerutu batin Rania merasa jawabannya tidak masuk akal.
"Oh iya, Sean. Sepertinya aku harus kembali karena hari sudah hampir gelap." Ucap Rania tidak ingin terlalu lama berbincang dengan pria yang pernah ditolaknya itu yang akan membuat dirinya terlalu banyak berbohong.
"Baiklah, sepertinya aku juga harus kembali. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"
Rania mengangguk. "Kemarikan ponselmu!" Ucap Rania.
Sean pun mengulurkan ponsel terbarunya berlogo apel digigit.
Oh ya ampun... Ponselnya orang kaya sekali.
Rania pun mengetikkan nomor ponselnya dan kemudian melakukan panggilan ke nomornya sendiri. Setelah ponselnya berdering tanda panggilan masuk, Rania pun menyerahkan kembali ponsel Sean.
"Baiklah, aku pergi dulu!" Pamit Rania tanpa berniat menunggu Sean.
"Baiklah."
*
Rania memasuki apartemennya dengan mengelus dadanya. Entah mengapa ia masih merasa tidak percaya jika pria yang dulu pernah ditolaknya berkali-kali adalah bukan orang biasa.
"Kau baru pulang?" Suara bariton yang berasal dari ruang tamu mengejutkan Rania yang masih memikirkan Sean.
"Wil-William... Kau sudah pulang?" Tanya Rania merasa terkejut.
"Aku baru saja sampai beberapa menit yang lalu." William beranjak dari sofa yang didudukinya kemudian berjalan ke arah Rania.
"Cepat sekali dia sampai?" Lirih Rania.
"Bukankah Kyara bilang jika kau sudah kembali ke apartemen sejak sore tadi? Kenapa kau baru sampai jam segini? Kemana saja kau dari tadi?" Tanya William menatap tajam pada Rania seakan menuntut sebuah jawaban.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...