
"Kemana perginya wanita itu? Tumben sekali dia sudah pergi tanpa menungguku bangun lebih dulu." Lidah Calvin berdecak. Langkahnya pun semakin turun menuju suara Cilla yang tengah tertawa.
"Daddy... Daddy sudah bangun?" Cilla yang sedang asik memainkan mainannya menghentikan kegiatannya lalu menatap pada Calvin yang kini sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Calvin tersenyum tipis tanpa menjawab. Wajah putrinya yang kini bertaburan bedak membuat wajahnya bertambah lucu. "Kau sudah mandi? Siapa yang memandikanmu?" Calvin mencium sejenak kening putrinya lalu duduk di atas sofa.
"Bibi yang memandikanku, Daddy." Balas Cilla lalu kembali bermain.
"Tuan Calvin, tadi Nona Bianca berpesan jika ia sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali."
"Jam berapa Bianca berangkat?" Tanya Calvin.
"Jam enam pagi, Tuan."
Jam enam pagi? Batin Calvin dibuat bertanya-tanya.
Calvin pun tak lagi melanjutkan ucapannya dan lebih memilih menemani Cilla bermain. Setelahnya pelayan yang menemani Cilla pun turut berpamitan untuk kembali ke belakang menyelesaikan tugasnya di sana.
"Apa Mommymu sering pergi sepagi itu?" Tanya Calvin mengorek informasi dari putrinya. Pria berhati batu dan berwajah kulkas delapan pintu itu nampak begitu penasaran.
"Tidak. Mommy tidak pernah pergi sebelum menungguku bangun." Balas Cilla sambil menatap polos pada Daddynya. "Apa Daddy merindukan Mom sehingga bertanya?" Tanya Cilla dengan tersenyum lucu.
"Tidak. Daddy hanya bertanya saja."
"Tidak?" Wajah Cilla berubah murung. "Kenapa Daddy tidak pernah merindukan Mommy?" Cilla tertunduk. "Padahal Mommy selalu merindukan Daddy." Lanjutnya lagi. Entah mengerti atau tidak dengan makna kata rindu yang diucapkannya, namun Cilla nampak begitu serius saat mengatakannya.
"Mommy selalu merindukan Daddy?" Calvin dibuat terkejut mendengar ucapan putrinya.
"Ya. Mommy selalu merindukan Daddy sebelum Daddy berhasil ditemukan. Bahkan Mommy selalu melihat foto Daddy yang selalu ditunjukkan kepadaku secara diam-diam." balas Cilla.
Calvin semakin dibuat terkejut. "Cilla... kau masih begitu kecil untuk mengetahui apa itu kata rindu." Calvin masih berpemikiran jika Cilla hanya berbicara sembarangan.
"Sudahlah. Jangan bersedih begitu, little. Maafkan Daddy yang pernah membuatmu menahan rindu. Tapi mulai saat ini Daddy akan selalu berusaha untuk berada di dekatmu." Walau berkata dengan nada datar, namun Calvin berkata dengan sungguh-sungguh sambil menahan sesak di dadanya.
*
"Nona Bianca... apa anda ingin pulang lebih lama lagi malam ini?" Suara Merry terdengar ragu saat mengatakannya.
"Ada apa Merry?" Bianca yang masih sibuk menatap kain di depannya pun menatap sekilas pada Merry.
"Sepertinya di luar akan turun hujan, Nona. Sudah beberapa hari belakangan ini hujan selalu mengguyur kota di malam hari. Saya hanya takut Nona pulang di saat hujan deras." terang Merry.
Bianca menatap pada langit dari kaca jendela ruangannya. Dan benar saja, langit sudah nampak gelap dan angin bertiup cukup kencang.
Jika aku pulang lebih dulu, maka pekerjaanku akan terbengkalai dan mungkin saja aku tidak dapat menyelesaikannya dalam waktu tiga hari. Bianca dibuat meragu.
"Nona Bianca..." suara Merry kembali terdengar sebab Bianca mengabaikan ucapannya cukup lama.
"Pulanglah lebih dulu, Merry. Saya akan pulang sebentar lagi setelah menyelesaikan ini." Ucap Bianca.
Merry nampak menimbang-nimbang.
"Pulanglah." Ucap Bianca lagi.
"Baiklah, Nona." Balas Merry pada akhirnya karena percuma saja ia berbicara sebab Bianca akan tetap pada pendiriannya.
*
Berikan Vote, Like dan komennya dulu yuk.